Pandangan 2 Khalifah Kita Mengenai Menonton Film
Berikut saya cuplikkan beberapa bagian buku “Man of God” yang sudah diterjemahkan oleh Alm. Abdul Qayum Khalid (semoga Allah membalas jasa-jasa dan pengkhidmatan beliau yang luar biasa) mengenai latar belakang dan alasan Hz. Khalifatul Masih II ra melarang menikmati hiburan sekaligus pandangan Hz. Khalifatul Masih IV rh yang “agak berbeda”. Silahkan diidiskusikan
Hal 26-28
Hal itu juga kurang berkenan bagi ayahnya. Masa pertengahan tahun tigapuluhan radio dan film mulai menyebar luas. Hazrat Khalifah melarang mendengarkan radio dan menonton bioskop. Beliau beranggapan kedua hal itu akan menghasilkan pandangan hidup yang tidak senonoh karena manusia menjadi tambah permisive dan mencintai kecantikan artifisial. Bahkan mereka yang paling miskin yang tidak akan mungkin mencapai standar kehidupan untuk memiliki gemerlapan khayali itu, juga bisa menjadi sangat terpengaruh. Sejak saat itu mereka tidak akan mengenal kebahagiaan lagi. Mereka akan selalu memimpikan kemegahan hidup seperti itu.
“Waktu itu aku seusia dimana saatnya ingin menikmati hal tersebut, tetapi karena dilarang jadi kami tidak ada yang pergi” kenang Mirza Tahir kemudian.
Hazrat Khalifah menjelaskan alasan larangan di atas dalam salah satu khutbah Jumat yaitu bahwa kita ini adalah komunitas yang miskin sedangkan tugas yang dipikul demikian besarnya, dengan demikian kita harus membatasi kesenangan agar uangnya dapat dihemat untuk mengkhidmati Islam. Dalam rumah tangga beliau sendiri diterapkan penghematan yang ketat, beliau menekankan bahwa makanan beliau hanya terdiri dari satu hidangan saja. Itu sudah cukup bagi beliau. Tiga sampai empat hidangan dalam satu kali makan tidak saja tidak perlu tetapi juga merupakan pemborosan yang berdosa.
Saat itu musik pengiring film menjadi begitu populer di radio namun banyak Ahmadi menganggapnya tidak saleh mendengarkan musik seperti itu. “Ayahku tidak menyukai- nya sama sekali, namun beliau kadang-kadang pura-pura tidak mendengar jika anak-anaknya sekali-sekali menguping, beliau mentoleransi hal itu sebatas wajar. Sebagai contoh, aku tahu beliau beberapa kali melewati kamarku ketika aku sedang mendengarkan musik dan beliau tidak menegur. Beliau tidak mau mencampuri terlalu dalam. Tetapi jika aku atau siapa pun lalu mendedikasikan diri kepada musik atau yang lainnya, beliau pasti akan langsung bertindak mencegahnya.”
Hal 134 – 136
Masa khilafat dari Hazrat Khalifah Kedua boleh dibilang bersifat puritan. Beberapa penasihat dari Hazrat Khalifah sekarang yang pernah hidup di masa itu, menyarankan bahwa sekarang sudah waktunya untuk kembali menerap- kan kehidupan yang lebih ketat dan sederhana. Sekarang ini menurut mereka terlalu banyak kebebasan di dalam Jemaat karena orang-orang terlalu banyak membelanjakan uang dan waktunya untuk kesenangan. Televisi dan bioskop termasuk bidang-bidang yang menurut mereka telah menuntun para Ahmadi dari berbagai tingkat umur ke jalan yang salah.
Zafrullah Khan, salah seorang puritan murni, pernah mengecam secara terbuka ketika suatu waktu berkunjung ke rumah Mirza Tahir di masa sebelum menjadi khalifah untuk makan malam, dan menemukan beliau memiliki sebuah pesawat televisi.
“Apa yang aku lihat ini?” serunya. “Apakah engkau juga telah membiarkan dirimu terbawa dalam kesenangan fana ini?”
Hazrat Khalifah teringat waktu itu menjawab, “Aku tidak terbawa kepada kesenangan seperti itu, namun aku memiliki pandangan yang tidak sama dengan tuan. Sikapku sangat berbeda. Aku tidak yakin bahwa televisi itu semuanya buruk walaupun memang ada beberapa program yang seharusnya dihentikan.
“Hanya saja kalau kita sepenuhnya mengatakan ‘Tidak’ secara absolut dan menganjurkan para Ahmadi lainnya untuk juga bersikap keras, lalu apa yang akan terjadi?
“Apakah kita jadinya tidak harus melawan tendensi alamiah dari anak-anak muda? Kalau aku melarang anak- anakku menonton televisi di rumahnya sendiri, mereka mungkin akan menontonnya di rumah tetangga. Mereka jadinya mendidik diri mereka sendiri menjadi munafik, menyembunyikan sesuatu kepada ayahnya dan menikmati sesuatu secara rahasia. Langkah seperti itu jelas amat berbahaya karena akan membawa ke hal-hal lainnya.
“Aku lebih suka mereka menonton televisi di rumahnya sendiri agar aku bisa membimbing mereka kapan perlu dan aku dekat dengan mereka ketika mereka membutuhkan aku. Karena itu aku duduk bersama mereka menonton drama dan gambar, yang sebagian sebenarnya aku sendiri tidak terlalu berminat menontonnya.
“Aku memberikan komentar atas tontonan itu. Setelah sekian waktu anak-anak itu memahami sikapku dan kehampaan dari beberapa hal yang ditayangkan. Mereka sendiri kemudian tidak lagi berminat tetapi tidak perlu dengan sebelumnya memberontak terhadap pandanganku yang mungkin dianggap puritan.”
Hazrat Khalifah mengatakan bahwa Zafrullah Khan jadinya memahami bagaimana beliau mendidik keluarga.
Apakah dengan demikian beliau menentang keyakinan kebijaksanaan dari Hazrat Khalifah Kedua?
Beliau menjawab, “Sebagai Amir suatu Jemaat, kita harus berupaya memperbaiki kualitas kehidupan para Ahmadi, baik secara keruhanian, akhlak dan di bidang- bidang lainnya. Pada suatu periode waktu dan dalam suatu konteks tertentu, kebijakan yang keras bisa dimanfaatkan untuk menciptakan dan mencapai tujuan-tujuan itu. Dengan berjalannya waktu ketika semua mengalami perubahan, kita pun harus merubah kebijakan agar dapat mencapai tujuan-tujuan dimaksud.
“Jadi, aku bukannya membantah atau menolak cara pendekatan beliau guna mencapai tujuan-tujuan luhur itu. Hanya saja kalau aku sekarang secara kaku mengikuti cara beliau maka aku akan gagal mencapai tujuan luhur tersebut dan bahkan mungkin merusak Jemaat. Dengan demikian perbedaannya adalah pada metodologi, bukan pada pengarahan atau dalam prinsip-prinsipnya.”
Beliau kemudian hari mengulas juga masalah permisivitas yang mengatasnamakan kebebasan individual dan tentang apakah dosa itu tergantung sudut pandang dari yang melihatnya.
“Pendekatan jalan tengah bisa saja menjemukan, namun dalam analisis akhir, hanya itulah pendekatan terbaik untuk menciptakan ekuilibrium dalam masyarakat dan menjaga mereka dari kegagalan-kegagalan.
Buah Sirsak, Pembunuh Kanker
Soursop, buah dari pohon Graviola adalah pembunuh alami sel kanker yang ajaib dengan 10.000 kali lebih kuat dari pada terapi kemo.
Tapi kenapa kita tidak tahu?
Karena salah satu perusahaan Dunia merahasiakan penemuan riset mengenai hal ini se-rapat2nya, mereka ingin agar dana riset yang dikeluarkan sangat besar, selama bertahun-tahun, dapat kembali lebih dulu plus keuntungan berlimpah dengan cara membuat pohon Graviola Sintetis sebagai bahan baku obat dan obatnya djual ke pasar dunia.
Memprihatinkan, beberapa orang meninggal sia2, mengenaskan, karena keganasan kanker, sedangkan perusahaan raksasa, pembuat obat dengan omzet milyaran dollar menutup rapat2 rahasia keajaiban pohon Graviola ini.
Pohonnya rendah, di Brazil dinamai ?Graviola?, di Spanyol ?Guanabana? bahasa Inggrisnya ?Soursop?. Di Indonesia, ya buah Sirsak.Buahnya agak besar, kulitnya berduri lunak, daging buah berwarna putih, rasanya manis2 kecut/asam, dimakan dengan cara membuka kulitnya atau dibuat jus.
Khasiat dari buah sirsak ini memberikan effek anti tumor/kanker yang sangat kuat,dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker.Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri,anti jamur(fungi),effektive melawan berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali sistim syaraf yang kurang baik.
Salah satu contoh betapa pentingnya keberadaan Health Sciences Institute bagi orang2 Amerika adalah Institute ini membuka tabir rahasia buah ajaib ini.Fakta yang mencengangkan adalah: Jauh dipedalaman hutan Amazon, tumbuh ?pohon ajaib?, yang akan merubah cara berpikir anda, dokter anda, dan dunia mengenai proses penyembuhan kanker dan harapan untuk bertahan h id up. T id ak ada yang bisa menjanjikan lebih dari hal ini, untuk masa2 yang akan datang.
Riset membuktikan ?pohon ajaib? dan buahnya ini bisa :
Ø Menyerang sel kanker dengan aman dan effektive secara alami, TANPA rasa mual, berat badan turun, rambut rontok, seperti yang terjadi pada terapi kemo.
Ø Melindungi sistim kekebalan tubuh dan mencegah dari infeksi yang mematikan.
Ø Pasien merasakan lebih kuat, lebih sehat selama proses perawatan / penyembuhan.
Ø Energi meningkat dan penampilan phisik membaik.
Sumber berita sangat mengejutkan ini berasal dari salah satu pabrik obat terbesar di Amerika.Buah Graviola di-test di lebih dari 20 Laboratorium,sejak tahun 1970-an sampai beberapa tahun berikutnya.Hasil Test dari ekstrak (sari) buah ini adalah :
Ø Secara effektive memilih target dan membunuh sel jahat dari 12 type kanker yang berbeda, diantaranya kanker : Usus Besar, Payu Dara, Prostat, Paru2, dan Pankreas.
Ø Daya kerjanya 10.000 kali lebih kuat dalam memperlambat pertumbuhan sel kanker dibandingkan dengan Adriamycin dan Terapi Kemo yang biasa digunakan!
Ø T id ak seperti terapi kemo, sari buah ini secara selective hanya memburu dan membunuh sel2 jahat dan TIDAK membahayakan/ membunuh sel2 sehat!
Riset telah dilakukan secara ekstensive pada pohon ?ajaib? ini,selama bertahun-tahun tapi kenapa kita t id ak tahu apa2 mengenai hal ini? Jawabnya adalah : Begitu mudah kesehatan kita, keh id upan kita, dikendalikan oleh yang memiliki uang dan kekuasaan!
Salah satu perusahaan obat terbesar di Amerika dengan omzet milyaran dollar melakukan riset luar biasa pada pohon Graviola yang tumbuh dihutan Amazon ini.Ternyata beberapa bagian dari pohon ini : kulit kayu,akar, daun, daging buah dan bijinya, selama berabad-abad menjadi obat bagi suku Indian di Amerika Selatan untuk menyembuhkan : sakit jantung, asma, masalah liver (hati) dan rematik. Dengan bukti2 ilmiah yang minim, perusahaan mengucurkan Dana dan Sumber Daya Manusia yang sangat besar guna melakukan riset dan aneka test. Hasilnya sangat mencengangkan.. Graviola secara ilmiah terbukti sebagai mesin pembunuh sel kanker!
Tapi? kisah Graviola hampir berakhir disini.Kenapa?
Dibawah Undang2 Federal, sumber bahan alami untuk obat DILARANG / TIDAK BISA dipatentkan.
Perusahaan menghadapi masalah besar, berusaha sekuat tenaga dengan biaya sangat besar untuk membuat sinthesa/kloning dari Graviola ini agar bisa dipatentkan sehingga dana yang dikeluarkan untuk Riset dan Aneka Test bisa kembali, dan bahkan meraup keuntungan besar.Tapi usaha ini t id ak berhasil.Graviola t id ak bisa di-kloning.Perusahaan gigit jari setelah mengeluarkan dana milyaran dollar untuk Riset dan Aneka Test.
Ketika mimpi untuk mendapatkan keuntungan besar ber-angsur2 memudar, kegiatan riset dan test juga berhenti. Lebih parah lagi, perusahaan menutup proyek ini dan memutuskan untuk TIDAK mempublikasikan hasil riset ini.
Beruntunglah, ada salah seorang Ilmuwan dari Team Riset t id ak tega melihat kekejaman ini terjadi.Dengan mengorbankan karirnya,dia menghubungi sebuah perusahaan yang biasa mengumpulkan bahan2 alami dari hutan Amazon untuk pembuatan obat.
Ketika para pakar riset dari Health Sciences Institute mendengar berita keajaiban Graviola, mereka mulai melakukan riset. Hasilnya sangat mengejutkan. Graviola terbukti sebagai pohon pembunuh sel kanker yang effektive.
The National Cancer Institute mulai melakukan riset ilmiah yang pertama pada tahun 1976. Hasilnya membuktikan bahwa daun dan batang kayu Graviola mampu menyerang dan menghancurkan sel2 jahat kanker. Sayangnya hasil ini hanya untuk keperluan intern dan t id ak dipublikasikan.
Sejak 1976 , Graviola telah terbukti sebagai pembunuh sel kanker yang luar biasa pada uji coba yang dilakukan oleh 20 Laboratorium Independence yang berbeda.
Suatu studi yang dipublikasikan oleh the Journal of Natural Products menyatakan bahwa studi yang dilakukan oleh Catholic University di Korea Selatan, menyebutkan bahwa salah satu unsur kimia yang terkandung d id alam Graviola,mampu memilih, membedakan dan membunuh sel kanker Usus Besar dengan 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan Adriamycin dan Terapi Kemo!
Penemuan yang paling mencolok dari study Catholic University ini adalah: Graviola bisa menyeleksi memillih dan membunuh hanya sel jahat kanker, sedangkan sel yang sehat t id ak tersentuh/terganggu. Graviola t id ak seperti terapi kemo yang t id ak bisa membedakan sel kanker dan sel sehat, maka sel2 reproduksi (seperti lambung dan rambut) dibunuh habis oleh Terapi Kemo, sehingga timbul effek negative: rasa mual dan rambut rontok.
Sebuah studi di Purdue University membuktikan bahwa daun Graviola mampu membunuh sel kanker secara effektive, terutama sel kanker: Prostat, Pankreas, dan Paru2.
Setelah selama kurang lebih 7 tahun tidak ada berita mengenai Graviola, akhirnya berita keajaiban ini pecah juga, melalui informasi dari Lembaga2 tsb. di atas.
Pasokan terbatas ekstrak Graviola yang di budi dayakan dan dipanen oleh orang2 pribumi Brazil , kini bisa diperoleh di Amerika.
Kisah lengkap tentang Graviola, dimana memperolehnya, dan bagaimana cara memanfaatkannya, dapat dijumpai dalam Beyond Chemotherapy:New Cancer Killers, Safe as Mother?s milk, sebagai free special bonus terbitan Health Sciences Institute.
Sekarang anda tahu manfaat buah sirsak yang luar biasa ini. Rasanya manis2 kecut menyegarkan. Buah alami 100% tanpa efek samping apapun.Sebar luaskan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, sahabat,dan teman yang anda kasihi.
Amanat huzur tentang tatacara berkomentar di website
Terjemahan:
EDARAN
Ref: T-18036/22 Juni 2009
Yth. Amir/Missionary Incharge Sahib Indonesia
Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuHu,
Dalam website, pihak ghair Ahmadi menggunakan kata-kata tidak sopan
dan tidak patut terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, begitu pula bahasa
yang kotor digunakan terhadap para Khalifah Jemaat.
Hudhur mengetahui bahwa beberapa orang Ahmadi melalui website
menggunakan bahasa yang tidak sopan seperti itu dalam menjawabnya.
Hudhur bersabda, “Ini adalah cara yang sangat salah; harus segera
dihentikan!”
Wasalam,
yang lemah
Ttd.
Additional Wakil-ut-Tabsheer, London
ADAB MENGHORMATI TAMU
Intisari Khutbah Jum’at tanggal 17 Juli 2009
Disampaikan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba, Imam Jama’at Muslim Ahmadiyyah Sedunia
NOTE: Alislam Team (& Translator) takes full responsibility for any errors or miscommunication in this Synopsis of the Friday Sermon
Menghormati tamu adalah satu adab, kesopan-satunan yang ada disebut di dalam Kitab Suci Alqur-aan. Dengan merujuk pada riwayat Hadhrat Ibrahim r.a. tentang penghormatan kepada tamu ini ada dua kali disebutkan dalam Alqur-aan. Pertama, dalam Surah Adz Dzaariyaat ketika para tamunya berkata kepada Hadhrat Ibrahim a.s. dengan ucapan ‘Salaam’ Hadhrat Ibrahim menjawab dengan ucapan serupa. ‘Idz dakhaluu ‘alaihi fa qaaluu salaaman qaala salaamun qaumum munkaruun’ – “Ketika mereka datang kepadanya, mereka berkata, ‘Selamat Sejahtera!’ Ia berkata, ‘Selamat Sejahtera!’ Ia mengira mereka itu adalah orang-orang asing”. (51:26). Arti pentingnya yang jelas dari ini adalah bahwa mereka kedua pihakannya berharap akan kesejahteraan pada satu sama yang lainnya. Namun, menurut kamus kosa-kata ada terjadi satu perbedaan di sana; para tamu itu mengucapkan kata ‘Salaaman’, namun Hadhrat Ibrahim a.s. menjawabnya dengan ‘Salaamun’, yang memiliki arti yang lebih luas dan lebih eloquent. Di sini kesopan-santunan yang disebut di dalam ayat Alqur-aan, ‘Wa idzaa huyyiitum bi tahiyyatin fa hayyuu bi ahsana minhaa au rudduuhaa …..’ – “Dan, apabila kamu diberi ucapan Salaam, maka ucapkanlah Salaam yang lebih baik dari itu, atau paling tidak, balasan yang sama.”(An Nisaa’, 4:87) yang harus dipakai. Huzur aba. menerangkan bahwa ucapan kata ‘Salaamun’ itu memberikan arti kesejahteraan yang kekal. Inilah standard ahlak yang tinggi, adab dan penghormatan dari seorang Nabi Tuhan. Dengan mengutip contoh ini, di sini meng-indikasikan kepada kita bahwa sebagai Ummatnya Yang Mulia Rasulullah s.a.w. kami itu harus senantiasa mengikuti standard ini dalam menyambut para tamu itu; jadi dengan menunjukkan dan menyampaikan keceriaan kita dalam menerima tamu-tamu kita itu. Alqur-aan selanjutnya menyatakan bahwa Hadhrat Ibrahim a.s. telah membuat persiapan yang memadai dalam menyiapkan hidangan bagi para tamu tersebut, ‘Fa raagha ilaa ahlihii fa jaa-a bi ‘ijlin samiin’ – “Maka ia pergi dengan diam-diam kepada keluarganya, lalu ia membawa panggang anak sapi gemuk,” (Adz Dzaariyaat, 51:27) atau, yang juga dinyatakan di dalam Surah Huud, ‘…..qaaluu salaaman qaala salaamuun fa maa labitsa an jaa-a bi ijlin haniidz’ – “….. Mereka berkata, ‘Selamat sejahtera.’ Menjawablah ia, ‘Selamat Sejahtera,’ maka tidak lama kemudian ia datang dengan membawa panggang anak sapi.” (Huud, 11:70). Huzur aba. menerangkan bahwa Tuhan menyukai pemberian hidangan kepada para tamu itu yang diberikan secara tepat waktu dan dengan cara terbaik, apa yang orang dapat berikan. Dalam Surah Adz Dzaariyaat, perkara subyeknya bukan saja dalam hal penerimaan para tamu, namun dengan menyebutkannya itu, keistimewaan dalam adab ini ialah, bahwa walaupun mereka para tamu itu adalah orang-orang yang asing, namun mereka itu disambut dan diberi hidangan dengan cara yang bagus sekali. Mempersiapkan hidangan dalam menyambut tamu itu dikerjakan dengan tanpa bertanya-tanya terlebih dahulu. Huzur aba. mengatakan Tuhan amat menyukai kualitas ini di mana ini adalah satu sifat karakteristik dari Islam.
Penerimaan tamu dengan cara yang istimewa adalah satu sifat keistimewaannya yang menyolok dari Yang Mulia Rasulullah s.a.w., bahkan sebelumnya beliau diangkat menjadi Nabi pun. Orang-orang Arab itu adalah orang-orang yang sangat menghormati kepada para tamu; tetapi kualitas yang terdapat pada diri Nabi s.a.w. ini memiliki kemegahan yang lebih besar. Ketika beliau menerima wahyu Ilahi yang pertama kalinya, beliau pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat gelisah, yang merasa masygul dengan pengalaman pertamanya itu. Hadhrat Khadijah r.a. menenteramkan dan menghibur beliau. Ia mengatakan Tuhan tidak akan menghinakan beliau karena beliau itu adalah seorang yang sangat baik di dalam memenuhi kewajiban dan memenuhi kebutuhan saudara dan keluarganya, berusaha menolong menyelesaikan permasalahan mereka, menegakkan ahlak moral tinggi yang sudah ditinggalkan oleh orang, menerima tamu dengan baik, menolong orang-orang miskin dan yang berkekurangan, maka betapa Tuhan akan menyia-menyiakan beliau? Huzur aba. mengatakan di sini disebutkan perihal penerimaan tetamu, di antara kualitas kebaikan beliau lain-lainnya, ini menunjukkan kepada kita bahwa di situlah keistimewaan beliau yang menonjol dibandingkan dengan orang-orang lainnya. Memang, setelahnya beliau menjadi Nabi, sifat kualitasnya ini terus meningkat dan menjadi sempurna.
Yang Mulia Rasulullah s.a.w. tidaklah hanya menghormati para tamunya dengan penyediaan makanan yang baik saja, tetapi beliau pun memperhatikan keperluan-keperluan kecil dari para tamunya, dengan membawanya sendiri kepada mereka itu. Beliau menasihati kepada para pengikutnya untuk melakukan yang sama dan mengatakan, jika engkau menyatakan mencintaiku, maka ikutilah aku. Penerimaan tamu yang secara baik itu beliau lakukan dengan tanpa berharap untuk memperoleh balasan kebaikan atau pujian, tetapi dikerjakannya itu hanyalah semata-mata untuk mentaati perintah dari Tuhan. Beliau menasihatkan untuk menerima dan menghormati para tamu dengan cara yang istimewa untuk selama tiga hari apa yang diperlukan oleh para tamu. Beliau mengatakan, jika orang itu percaya kepada Tuhan dan Hari Kiamat, maka orang itu haruslah menghormati para tetamunya. Penerimaan tamu oleh Nabi s.a.w. itu dikerjakan dengan penuh kegairahan dan semangat dalam pengkhidmatannya itu, tetapi beliau juga melaksanakannya untuk dijadikan contoh dari ajaran Islam kepada orang-orang dari agama atau kepercayaan lain atau orang-orang yang tidak beragama juga. Jadi, kita lihat bahwa adab penerimaan tamu ini bukan hanya sekedar untuk kesejahteraan pisik dan duniawi para tamunya itu saja, tetapi juga untuk kesejahteraan rohani atau spiritual mereka. Ini juga adalah ajaran yang beliau s.a.w. tanamkan kepada para pengikut beliau.
Satu kali, seorang tamu yang belum beriman datang kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w.. Nabi s.a.w. membawakan susu dari seekor kambing untuk disuguhkan kepadanya. Tamu ini meminum habis susu tersebut. Demikianlah semangkuk dan semangkuk susu terus disuguhkan kepada tamunya itu –atas permintaan tamunya- sampai ada 7 mangkuk susu dari 7 ekor kambing yang semuanya habis diminumnya. Orang tersebut merasa amat terkesan sekali atas tingkat penghormatan pada tamu ini yang dikerjakan Nabi s.a.w. dengan tanpa ragu-ragu dan tanpa mengharapkan balasan. Pada keesokan harinya orang tersebut menerima dan masuk Islam. Jadi, lagi-lagi, beliau harus mengambil susu lagi untuk diberikan kepada orang tersebut, yang meminumnya sampai habis dan masih belum merasa kenyang dengan dua kali tambah. Setelah itu, Yang Mulia Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa seorang beriman itu akan merasa kenyang dengan satu mangkuk sedangkan seorang yang belum beriman baru kenyang dengan meminum tujuh mangkuk. Huzur aba. menerangkan bahwa suguhan-suguhan itu pertama-tamanya diberikan untuk memenuhi kebutuhannya dan hanya ketika orang ini sudah menolak untuk minum susu lebih banyak lagi, maka barulah Nabi s.a.w. berkata dan memberitahu kepada orang tersebut, tentang kedudukan apa yang akan diperolehnya dengan masuk ke dalam Islam.
Satu kali, sebuah delegasi utusan dari Kaisar Najasyi datang berkunjung. Yang Mulia Rasulullah s.a.w. membawakan hidangan bagi tamu ini yang dikerjakannya sendiri. Para Sahabat beliau bertanya mengapa Nabi s.a.w. sendiri yang harus melakukan hal itu padahal di sana ada Sahabat-sahabat beliau yang siap untuk mengerjakannya. Nabi s.a.w. menjawab bahwa orang-orang Najasyi itu telah menghormati orang-orang Muslimin, maka oleh karena itu beliau s.a.w. ingin membawakan sendiri hidangan bagi mereka itu sebagai balasan atas kebaikan mereka.
Satu kali, seorang Yahudi yang sedang bertamu, dikarenakan sakit ia ngompol dan mengotori tempat tidurnya dan mungkin karena malunya ia langsung meninggalkan tempat itu. Yang Mulia Rasulullah s.a.w. membersihkan sendiri bekas tempat tidurnya itu. Orang Yahudi itu ketinggalan sesuatu sehingga harus kembali lagi. Ketika orang tersebut melihatnya bahwa Nabi s.a.w. sendiri yang sedang membersihkan bekas tempat tidurnya yang ia basahi dan kotori itu, maka ia merasa sangat malu. Ia mengatakan, ia ingin masuk Islam. Satu kali, datang seorang musafir kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. di mana beliau mengirimkan pesan ke rumah beliau untuk mengirim makanan. Jawaban dari rumahnya mengatakan tidak ada apa-apa di rumah kecuali air. Nabi s.a.w bertanya kepada Sahabat, siapa yang bisa menyediakan makanan. Seorang Anshar mengatakan ia bisa. Ketika Anshar itu pulang ke rumahnya dan minta istrinya untuk menyiapkan makanan bagi tamu, istrinya mengatakan hanya ada makanan yang cukup bagi anak-anak saja. Ia mengatakan kepada istrinya untuk menyalakan lampu dan anak-anaknya supaya disuruh untuk tidur. Ketika makanan sudah masak dan tamu datang, maka ia bangkit dan pura-pura menyetel lampu tetapi justru ia mematikannya. Ia dan istrinya berpura-pura ikut makan di dalam kegelapan dan sementara itu tamu pun makan sampai kenyang. Esok harinya, ketika Anshar berjumpa dengan Yang Mulia Rasulullah s.a.w., Nabi s.a.w. tertawa dan mengatakan, “caranya engkau berperi-laku tadi malam itu telah membuat Allah tertawa”. Setelah peristiwa itulah maka ayat berikut ini diwahyukan: ’….. wa laa yajiiduuna fii shuduurihim haajatam mim maa utuu wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusihim wa lau kaana bihim khashaashatuw wa man yuuqa syuhha nafsihii fa ulaa-ika humul muflihuun’ – “ ……. dan mereka tidak mendapati sesuatu keinginan di dalam dada mereka mengenai apa yang diberikan kepada mereka itu, tetapi mereka mengutamakannya di atas diri mereka sendiri, walaupun kemiskinan sedang melanda mereka. Dan barang siapa dapat mengatasi keserakahan dirinya, maka mereka itulah yang akan berhasil.” (Al Hasyr, 59:10).
Huzur aba. mengatakan Yang Mulia Rasulullah s.a.w. punya sekelompok Sahabat yang selalu bersama dan menyertai beliau pada setiap saat, takut ada sesuatu hal yang ia tidak mereka ketahui. Ini adalah satu kebaikan yang besar dari mereka terhadap Ummat ini sehingga mereka dapat menyampaikan kepada kita banyak Hadits-hadits. Hadhrat Abu Hurairah r.a. adalah salah seorang yang paling terbanyak meriwayatkan Hadits-hadits. Ia memiliki lebih banyak kesempatan mendengar sabda Nabi s.a.w., apa yang orang lainnya tidak dengar. Huzur aba. ini adalah karena ia punya latar belakang yang berkekurangan sehingga ia harus berada dekat-dekat saja di sekitar Yang Mulia Rasulullah s.a.w. di mana orang-orang lainnya hanya dapat bertemu beberapa kali saja dalam sehari. Di zaman dahulu itu, Hadhrat Abu Hurairah r.a. kadang-kadang perlu mengikatkan batu pada perutnya untuk melawan perihnya rasa lapar.
Satu hari, dalam keadaan seperti itu, ia duduk pada tempat di mana orang biasa lewat. Ia menghentikan Hadhrat Abu Bakar r.a. dan bertanya tentang arti dari suatu ayat Alqur-aan dengan pengharapan beliau juga akan mengasihnya makan. Namun, beliau hanyalah menjelaskan tentang artinya dari ayat tersebut dan kemudian berlalu. Kemudian, Hadhrat Umar r.a. lewat dan Hadhrat Abu Hurairah pun mengulangi pertanyaan yang sama dengan mengharap yang sama, tetapi beliau pun kemudian berlalu setelahnya menerangkan arti ayat tersebut. Kemudian datanglah lewat Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Beliau melihat Hadhrat Abu Huraira dan mengajaknya pergi bersama beliau. Beliau mengajaknya ke rumah beliau dan mendapatkan ada setengah mangkuk susu yang dikirim oleh seseorang. Yang Mulia Rasulullah s.a.w. meminta kepada Hadhrat Abu Hurairah untuk memanggil semua Ahli Sufah -As’hab us Suffah- (Para sahabat yang tidak punya penghasilan, yang tinggal di satu bagian Mesjid Nabi s.a.w.). Hadhrat Abu Hurairah tidak menyukai hal ini, karena ia merasa lapar sekali dan tidak bisa berpikir bagaimana susu yang hanya semangkuk ini dapat membuat kenyang orang yang sebanyak itu. Namun, dengan ketaatannya itu, ia pun memanggil semua orang yang ada di mesjid itu. Nabi s.a.w. minta kepada Hadhrat Abu Hurairah untuk menyuguhkan mangkuk susu itu kepada setiap orang. Ketika semuanya telah meminumnya, Nabi s.a.w. dengan tersenyum memberikan mangkuk itu kepada Hadhrat Abu Hurairah dan memintanya untuk meminumnya sampai ia kenyang. Ketika ia sudah minum dengan sekenyangnya, Yang Mulia Rasulullah s.a.w. mengambil mangkuk tersebut dan dengan memuji Tuhan, mengucapkan Bimillah kemudian beliau meminum susu tersebut. Huzur aba. mengatakan, Nabi s.a.w menganggap Ashab us Suffah itu adalah sebagai tamunya, itulah sebabnya beliau memberikan susu itu kepada mereka terlebih dahulu. Susu itu akan diberkati bahkan jika beliau s.a.w. meminumnya pertama kali, namun beliau memberikannya kepada yang lainnya sebagai rasa penghormatan beliau kepada tamunya.
Setelahnya Fatah / Kemenangan Mekkah ada banyak delegasi dari luar negeri yang datang menemui beliau. Beliau menerima tamu-tamunya itu dengan penuh kehormatan dan mengatur pemberian hadiah-hadiah bagi mereka. Beliau s.a.w mengatakan, bilamana seorang pemimpin bangsa atau seorang tamu terhormat dari bangsa lain datang berkunjung kepada kalian, maka hormatilah mereka itu sesuai dengan kedudukannya. Walaupun beliau itu sudah memerintahkan untuk menghormati para pemimpin, tapi beliau pun akan menghormati semua tamu-tamu beliau.
Huzur aba. mengatakan, pencinta sejatinya kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w., Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menjiplak model yang beberkat itu untuk di zaman ini. Satu kali beliau berkunjung ke kota Gurdaspur dan walaupun beliau itu sendiri adalah seorang pengunjung, tetapi beliau selalu memperhatikan dan melayani orang-orang yang datang untuk menjumpai beliau a.s. Beliau seringkali berkata bahwa orang-orang yang datang itu supaya santai dan relaks saja untuk meminta apa pun juga keperluan khusus yang mereka inginkan. Beliau berusaha keras untuk membuat para tamunya itu merasa senang dan relaks. Beliau satu kali mengatakan bahwa hati dari seorang tamu itu adalah seperti gelas, yang mudah pecah dengan satu pukulan kecil. Beliau menasihati kepada para pengikutnya agar benar-benar bersikap sopan santun dan penuh hormat kepada para tamu dan agar tetap diam dalam situasi yang menghangat atas caci-makian dari orang. Beliau memerintahkan kepada petugas yang bekerja di Langgar Khana (dapur umum) untuk memperhatikan dan memenuhi segala keperluan dari orang-orang. Beliau menambahkan bahwa ketika orang sedang mengerjakan semua pekerjaannya sendiri, maka ia bisa saja melupakan sesuatu, dalam hal itu maka orang-orang lainnyalah yang harus mengingatkan dia. Beliau memerintahkan untuk melayani semua orang, dengan tidak melihat bagaimana tampang rupanya dari orang itu, dengan tanpa membeda-bedakannya.
Huzur aba. menceriterakan beberapa kejadian yang memberikan contoh tentang ke-istimewaannya perbuatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam mengkhidmati tamunya itu. Beliau selalu menemui orang-orang dengan penuh keceriaan, ini karena sunnah dari junjungannya itu.
Huzur mengatakan, sekarang ini adalah tugas dan kewajiban kita untuk melaksanakan tradisi ini. Hari-hari ini, kami mulai menerima para tamu yang datang untuk menghadiri Jalsah Salanah. Jalsah yang dimulai oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. setelahnya diberitahu oleh Ilahi. Beliau juga banyak-banyak berdoa dan mendoakan bagi mereka yang hadir pada Jalsah Salanah. Dengan cara ini mereka itu adalah para tamunya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang kepada mereka itu kita harus berusaha menerima dan menghormati para tamu ini demi untuk mencari ridha Tuhan dan demi untuk persaudaraan dalam agama.
Huzur mengatakan para petugas Jalsah itu harus melaksanakan tugas-tugas mereka itu dengan rajinnya, sopan-santun, bersabar dan menjaga tenggang rasa. Setiap keperluan kecil dari para tamu harus diperhatikan dan disediakan. Setiap tamu itu harus diperlakukan seolah-olah ia itu adalah tamu khusus dari orang yang sedang bertugas. Semoga Allah Taala memberi taufik dan kemampuan kepada setiap anggota yang bertugas untuk menjalankan tugas dan kewajibannya dengan cara yang sebaik-baiknya.
Selanjutnya Huzur aba. mengumumkan bahwa beliau akan menyelenggarakan Shalat jenazah ghaib setelahnya Shalat Jum’at bagi dua orang yang baru meninggal. Chaudhry Mahmood Ahmad Cheema sahib seorang Wakaf yang meninggal dunia pada tanggal 12 July 2009 di Rabwah. Umur beliau 81 tahun. Beliau pernah bertugas di Sierra Leone, di Jerman dan di Indonesia. Tugasnya di Indonesia berlangsung sangat lama, 33 tahun. Yang akhirnya beliau kembali ke Rabwah pada tahun 2002. Beliau berkesempatan untuk pergi naik Haji. Beliau adalah seorang yang shaleh, mukhlis dan mewakafkan seluruh kehidupannya untuk Jama’at. Beliau memiliki hubungan yang sangat erat dengan Khilafat. Beliau meninggalkan banyak putri-putrinya, semoga mereka ini dapat meneruskan kemukhlisan dari ayahnya.
Sahibzadi Amatul Momin sahiba, yang adalah istri dari Sahibzada Mirza Naeem Ahmad sahib meninggal dunia pada umur 68 tahun. Almarhumah adalah cucu (melalui ayah) dari Hadhrat Mirza Sharif Ahmad dan cucu (melalui ibu) dari Mirza Aziz`Ahmad sahib. Ayahnya adalah Sahibzada Mirza Zafar Ahmad sahib dan ibundanya adalah Amatul Naseer sahiba. Beliau adalah menantu dari Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. Beliau adalah seorang yang paling sabar dan tabah serta mukhlis. Beliau sangat tabah dan bersabar atas meninggalnya kedua orang tuanya dan suami beliau. Beliau menahan derita sakitnya yang lama dengan penuh ketabahan dan tanpa mengeluhkannya. Semoga Tuhan meninggikan status almarhumah dan membuat keturunannya tetap teguh dalam keshalehan.
PPSi / Mersela; 19 Juli 2009