Mkaiserang

KEGIATAN PEMUDA AHMADIYAH

ADAB MENGHORMATI TAMU

Intisari Khutbah Jum’at tanggal 17 Juli 2009

Disampaikan oleh  Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba,  Imam Jama’at Muslim Ahmadiyyah Sedunia

NOTE: Alislam Team (& Translator) takes full responsibility for any errors or miscommunication in this Synopsis of the Friday Sermon

Menghormati tamu adalah satu adab, kesopan-satunan yang ada disebut di dalam Kitab Suci Alqur-aan. Dengan merujuk pada riwayat Hadhrat Ibrahim r.a. tentang penghormatan kepada tamu ini ada dua kali disebutkan dalam Alqur-aan. Pertama, dalam Surah Adz Dzaariyaat ketika para tamunya berkata kepada Hadhrat Ibrahim a.s. dengan ucapan ‘Salaam’ Hadhrat Ibrahim menjawab dengan ucapan serupa. ‘Idz dakhaluu ‘alaihi fa qaaluu salaaman qaala salaamun qaumum munkaruun’ – “Ketika mereka datang kepadanya, mereka berkata, ‘Selamat Sejahtera!’ Ia berkata, ‘Selamat Sejahtera!’ Ia mengira mereka itu adalah orang-orang asing”. (51:26). Arti pentingnya yang jelas dari ini adalah bahwa mereka kedua pihakannya berharap akan kesejahteraan pada satu sama yang lainnya. Namun, menurut kamus kosa-kata ada terjadi satu perbedaan di sana; para tamu itu mengucapkan kata ‘Salaaman’, namun Hadhrat Ibrahim a.s. menjawabnya dengan ‘Salaamun’, yang memiliki arti yang lebih luas dan lebih eloquent. Di sini kesopan-santunan yang disebut di dalam ayat Alqur-aan, ‘Wa idzaa huyyiitum bi tahiyyatin fa hayyuu bi ahsana minhaa au rudduuhaa …..’ – “Dan, apabila kamu diberi ucapan Salaam, maka ucapkanlah Salaam yang lebih baik dari itu, atau paling tidak, balasan yang sama.”(An Nisaa’, 4:87) yang harus dipakai. Huzur aba. menerangkan bahwa ucapan kata ‘Salaamun’ itu memberikan arti kesejahteraan yang kekal. Inilah standard ahlak yang tinggi, adab dan penghormatan dari seorang Nabi Tuhan. Dengan mengutip contoh ini, di sini meng-indikasikan kepada kita bahwa sebagai Ummatnya Yang Mulia Rasulullah s.a.w. kami itu harus senantiasa mengikuti standard ini dalam menyambut para tamu itu; jadi dengan menunjukkan dan menyampaikan keceriaan kita dalam menerima tamu-tamu kita itu. Alqur-aan selanjutnya menyatakan bahwa Hadhrat Ibrahim a.s. telah membuat persiapan yang memadai dalam menyiapkan hidangan bagi para tamu tersebut, ‘Fa raagha ilaa ahlihii fa jaa-a bi ‘ijlin samiin’ – “Maka ia pergi dengan diam-diam kepada keluarganya, lalu ia membawa panggang anak sapi gemuk,” (Adz Dzaariyaat, 51:27) atau, yang juga dinyatakan di dalam Surah Huud, ‘…..qaaluu salaaman qaala salaamuun fa maa labitsa an jaa-a bi ijlin haniidz’ – “….. Mereka berkata, ‘Selamat sejahtera.’ Menjawablah ia, ‘Selamat Sejahtera,’ maka tidak lama kemudian ia datang dengan membawa panggang anak sapi.” (Huud, 11:70). Huzur aba. menerangkan bahwa Tuhan menyukai pemberian hidangan kepada para tamu itu yang diberikan secara tepat waktu dan dengan cara terbaik, apa yang orang dapat berikan. Dalam Surah Adz Dzaariyaat, perkara subyeknya bukan saja dalam hal penerimaan para tamu, namun dengan menyebutkannya itu, keistimewaan dalam adab ini ialah, bahwa walaupun mereka para tamu itu adalah orang-orang yang asing, namun mereka itu disambut dan diberi hidangan dengan cara yang bagus sekali. Mempersiapkan hidangan dalam menyambut tamu itu dikerjakan dengan tanpa bertanya-tanya terlebih dahulu. Huzur aba. mengatakan Tuhan amat menyukai kualitas ini di mana ini adalah satu sifat karakteristik dari Islam.

Penerimaan tamu dengan cara yang istimewa adalah satu sifat keistimewaannya yang menyolok dari Yang Mulia Rasulullah s.a.w., bahkan sebelumnya beliau diangkat menjadi Nabi pun.  Orang-orang Arab itu adalah orang-orang yang sangat menghormati kepada para tamu; tetapi kualitas yang terdapat pada diri Nabi s.a.w. ini memiliki kemegahan yang lebih besar. Ketika beliau menerima wahyu Ilahi yang pertama kalinya, beliau pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat gelisah, yang merasa masygul dengan pengalaman pertamanya itu. Hadhrat Khadijah r.a. menenteramkan dan menghibur beliau. Ia mengatakan Tuhan tidak akan menghinakan beliau karena beliau itu adalah seorang yang sangat baik di dalam memenuhi kewajiban dan memenuhi kebutuhan saudara dan keluarganya, berusaha menolong menyelesaikan permasalahan mereka, menegakkan ahlak moral tinggi yang sudah ditinggalkan oleh orang, menerima tamu dengan baik,  menolong orang-orang miskin dan yang berkekurangan, maka betapa Tuhan akan menyia-menyiakan beliau? Huzur aba. mengatakan di sini disebutkan perihal penerimaan tetamu, di antara kualitas kebaikan beliau lain-lainnya, ini menunjukkan kepada kita bahwa di situlah keistimewaan beliau yang menonjol dibandingkan dengan orang-orang lainnya. Memang, setelahnya beliau menjadi Nabi, sifat kualitasnya ini terus meningkat dan menjadi sempurna.
Yang Mulia Rasulullah s.a.w. tidaklah hanya menghormati para tamunya dengan penyediaan makanan yang baik saja, tetapi beliau pun memperhatikan keperluan-keperluan kecil dari para tamunya, dengan membawanya sendiri kepada mereka itu. Beliau menasihati kepada para pengikutnya untuk melakukan yang sama dan mengatakan, jika engkau menyatakan mencintaiku, maka ikutilah aku. Penerimaan tamu yang secara baik itu beliau lakukan dengan tanpa berharap untuk memperoleh balasan kebaikan atau pujian, tetapi dikerjakannya itu hanyalah semata-mata untuk mentaati perintah dari Tuhan. Beliau menasihatkan untuk menerima dan menghormati para tamu dengan cara yang istimewa untuk selama tiga hari apa yang diperlukan oleh para tamu. Beliau mengatakan, jika orang itu percaya kepada Tuhan dan Hari Kiamat, maka orang itu haruslah menghormati para tetamunya. Penerimaan tamu oleh Nabi s.a.w. itu dikerjakan dengan penuh kegairahan dan semangat dalam pengkhidmatannya itu, tetapi beliau juga melaksanakannya untuk dijadikan contoh dari ajaran Islam kepada orang-orang dari agama atau kepercayaan lain atau orang-orang yang tidak beragama juga. Jadi, kita lihat bahwa adab penerimaan tamu ini bukan hanya sekedar untuk kesejahteraan pisik dan duniawi para tamunya itu saja, tetapi juga untuk kesejahteraan rohani atau spiritual mereka. Ini juga adalah ajaran yang beliau s.a.w.  tanamkan kepada para pengikut beliau.
Satu kali, seorang tamu yang belum beriman datang kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w.. Nabi s.a.w. membawakan susu dari seekor kambing untuk disuguhkan kepadanya. Tamu ini meminum habis susu tersebut. Demikianlah semangkuk dan semangkuk susu terus disuguhkan kepada tamunya itu –atas permintaan tamunya- sampai ada 7 mangkuk susu dari 7 ekor kambing yang semuanya habis diminumnya. Orang tersebut merasa amat terkesan sekali atas tingkat penghormatan pada tamu ini yang dikerjakan Nabi s.a.w. dengan tanpa ragu-ragu dan tanpa mengharapkan balasan. Pada keesokan harinya orang tersebut menerima dan masuk Islam. Jadi, lagi-lagi, beliau harus mengambil susu lagi untuk diberikan kepada orang tersebut, yang meminumnya sampai habis dan masih belum merasa kenyang dengan dua kali tambah. Setelah itu, Yang Mulia Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa seorang beriman itu akan merasa kenyang dengan satu mangkuk sedangkan seorang yang belum beriman baru kenyang dengan meminum tujuh mangkuk. Huzur aba. menerangkan bahwa suguhan-suguhan itu pertama-tamanya diberikan untuk memenuhi kebutuhannya dan hanya ketika orang ini sudah menolak untuk minum susu lebih banyak lagi, maka barulah Nabi s.a.w. berkata dan memberitahu kepada orang tersebut, tentang kedudukan apa yang akan diperolehnya dengan masuk ke dalam Islam.
Satu kali, sebuah delegasi utusan dari Kaisar Najasyi datang berkunjung. Yang Mulia Rasulullah s.a.w. membawakan hidangan bagi tamu ini yang dikerjakannya sendiri. Para Sahabat beliau bertanya mengapa Nabi s.a.w. sendiri yang harus melakukan hal itu padahal di sana ada Sahabat-sahabat beliau yang siap untuk mengerjakannya. Nabi s.a.w. menjawab bahwa orang-orang Najasyi itu telah menghormati orang-orang Muslimin, maka oleh karena itu beliau s.a.w. ingin membawakan sendiri hidangan bagi mereka itu sebagai balasan atas kebaikan mereka.
Satu kali, seorang Yahudi yang sedang bertamu, dikarenakan sakit ia ngompol dan mengotori tempat tidurnya dan mungkin karena malunya ia langsung meninggalkan tempat itu. Yang Mulia Rasulullah s.a.w. membersihkan sendiri bekas tempat tidurnya itu. Orang Yahudi itu ketinggalan sesuatu sehingga harus kembali lagi. Ketika orang tersebut melihatnya bahwa Nabi s.a.w. sendiri yang sedang membersihkan bekas tempat tidurnya yang ia basahi dan kotori itu, maka ia merasa sangat malu. Ia mengatakan, ia ingin masuk Islam. Satu kali, datang seorang musafir kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. di mana beliau mengirimkan pesan ke rumah beliau untuk mengirim makanan. Jawaban dari rumahnya mengatakan tidak ada apa-apa di rumah kecuali air. Nabi s.a.w bertanya kepada Sahabat, siapa yang bisa menyediakan makanan. Seorang Anshar mengatakan ia bisa. Ketika Anshar itu pulang ke rumahnya dan minta istrinya untuk menyiapkan makanan bagi tamu, istrinya mengatakan hanya ada makanan yang cukup bagi anak-anak saja.  Ia mengatakan kepada istrinya untuk menyalakan lampu dan anak-anaknya supaya disuruh untuk tidur. Ketika makanan sudah masak dan tamu datang, maka ia bangkit dan pura-pura menyetel lampu tetapi justru ia mematikannya. Ia dan istrinya berpura-pura ikut makan di dalam kegelapan dan sementara itu tamu pun makan sampai kenyang. Esok harinya, ketika Anshar berjumpa dengan Yang Mulia Rasulullah s.a.w., Nabi s.a.w. tertawa dan mengatakan, “caranya engkau berperi-laku tadi malam itu telah membuat Allah tertawa”. Setelah peristiwa itulah maka ayat berikut ini diwahyukan: ’….. wa laa yajiiduuna fii shuduurihim haajatam mim maa utuu wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusihim wa lau kaana bihim khashaashatuw wa man yuuqa syuhha nafsihii fa ulaa-ika humul muflihuun’ – “ …….  dan mereka tidak mendapati sesuatu keinginan di dalam dada mereka mengenai apa yang diberikan kepada mereka itu, tetapi mereka mengutamakannya di atas diri mereka sendiri, walaupun kemiskinan sedang melanda mereka. Dan barang siapa dapat mengatasi keserakahan dirinya, maka mereka itulah yang akan berhasil.” (Al Hasyr, 59:10).
Huzur aba. mengatakan Yang Mulia Rasulullah s.a.w. punya sekelompok Sahabat yang selalu bersama dan menyertai beliau pada setiap saat, takut ada sesuatu hal yang ia tidak mereka ketahui. Ini adalah satu kebaikan yang besar dari mereka terhadap Ummat ini sehingga mereka dapat menyampaikan kepada kita banyak Hadits-hadits. Hadhrat Abu Hurairah r.a. adalah salah seorang yang paling terbanyak meriwayatkan Hadits-hadits. Ia memiliki lebih banyak kesempatan mendengar sabda Nabi s.a.w., apa yang orang lainnya tidak dengar. Huzur aba. ini adalah karena ia punya latar belakang yang berkekurangan sehingga ia harus berada dekat-dekat saja di sekitar Yang Mulia Rasulullah s.a.w. di mana orang-orang lainnya hanya dapat bertemu beberapa kali saja dalam sehari. Di zaman dahulu itu, Hadhrat Abu Hurairah r.a. kadang-kadang perlu mengikatkan batu pada perutnya untuk melawan perihnya rasa lapar.
Satu hari, dalam keadaan seperti itu, ia duduk pada tempat di mana orang biasa lewat. Ia menghentikan Hadhrat Abu Bakar r.a. dan bertanya tentang arti dari suatu ayat Alqur-aan dengan pengharapan beliau juga akan mengasihnya makan. Namun, beliau hanyalah menjelaskan tentang artinya dari ayat tersebut dan kemudian berlalu. Kemudian, Hadhrat Umar r.a. lewat dan Hadhrat Abu Hurairah pun mengulangi pertanyaan yang sama dengan mengharap yang sama, tetapi beliau pun kemudian berlalu setelahnya menerangkan arti ayat tersebut. Kemudian datanglah lewat Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Beliau melihat Hadhrat Abu Huraira dan mengajaknya pergi bersama beliau. Beliau mengajaknya ke rumah beliau dan mendapatkan ada setengah  mangkuk susu yang dikirim oleh seseorang. Yang Mulia Rasulullah s.a.w. meminta kepada Hadhrat Abu Hurairah untuk memanggil semua Ahli Sufah -As’hab us Suffah- (Para sahabat yang tidak punya penghasilan, yang tinggal di satu bagian Mesjid Nabi s.a.w.). Hadhrat Abu Hurairah tidak menyukai hal ini, karena ia merasa lapar sekali dan tidak bisa berpikir bagaimana susu yang hanya semangkuk ini dapat membuat kenyang orang yang sebanyak itu. Namun, dengan ketaatannya itu, ia pun memanggil semua orang yang ada di mesjid itu. Nabi s.a.w. minta kepada Hadhrat Abu Hurairah untuk menyuguhkan mangkuk susu itu kepada setiap orang. Ketika semuanya telah meminumnya, Nabi s.a.w. dengan tersenyum memberikan mangkuk itu kepada  Hadhrat Abu Hurairah dan memintanya untuk meminumnya sampai ia kenyang.  Ketika ia sudah minum dengan sekenyangnya, Yang Mulia Rasulullah s.a.w. mengambil mangkuk tersebut dan dengan memuji Tuhan, mengucapkan Bimillah  kemudian beliau meminum susu tersebut. Huzur aba. mengatakan, Nabi s.a.w menganggap Ashab us Suffah itu adalah sebagai tamunya, itulah sebabnya beliau memberikan susu itu kepada mereka terlebih dahulu. Susu itu akan diberkati bahkan jika beliau s.a.w. meminumnya pertama kali, namun beliau memberikannya kepada yang lainnya sebagai rasa penghormatan beliau kepada tamunya.
Setelahnya Fatah / Kemenangan Mekkah ada banyak delegasi dari luar negeri yang datang menemui beliau. Beliau menerima tamu-tamunya itu dengan penuh kehormatan dan mengatur pemberian hadiah-hadiah bagi mereka. Beliau s.a.w mengatakan, bilamana seorang pemimpin bangsa atau seorang tamu terhormat dari bangsa lain datang berkunjung kepada kalian, maka hormatilah mereka itu sesuai dengan kedudukannya. Walaupun beliau itu sudah memerintahkan untuk menghormati para pemimpin, tapi beliau pun akan menghormati semua tamu-tamu beliau.
Huzur aba. mengatakan, pencinta sejatinya kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w., Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menjiplak model yang beberkat itu untuk di zaman ini. Satu kali beliau berkunjung ke kota Gurdaspur dan walaupun beliau itu sendiri adalah seorang pengunjung, tetapi beliau selalu memperhatikan dan melayani orang-orang yang datang untuk menjumpai beliau a.s. Beliau seringkali berkata bahwa orang-orang yang datang itu supaya santai dan relaks saja untuk meminta apa pun juga keperluan khusus yang mereka inginkan. Beliau berusaha keras untuk membuat para tamunya itu merasa senang dan relaks. Beliau satu kali mengatakan bahwa hati dari seorang tamu itu adalah seperti gelas, yang mudah pecah dengan satu pukulan kecil. Beliau menasihati kepada para pengikutnya agar benar-benar bersikap sopan santun dan penuh hormat kepada para tamu dan agar tetap diam dalam situasi yang menghangat atas caci-makian dari orang. Beliau memerintahkan kepada petugas yang bekerja di Langgar Khana (dapur umum) untuk memperhatikan dan memenuhi segala keperluan dari orang-orang. Beliau menambahkan bahwa ketika orang sedang mengerjakan semua pekerjaannya sendiri, maka ia bisa saja melupakan sesuatu, dalam hal itu maka orang-orang lainnyalah yang harus mengingatkan dia. Beliau memerintahkan untuk melayani semua orang, dengan tidak melihat bagaimana tampang rupanya dari orang itu, dengan tanpa membeda-bedakannya.
Huzur aba. menceriterakan beberapa kejadian yang memberikan contoh tentang ke-istimewaannya perbuatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam mengkhidmati tamunya itu. Beliau selalu menemui orang-orang dengan penuh keceriaan, ini karena sunnah dari junjungannya itu.
Huzur mengatakan, sekarang ini adalah tugas dan kewajiban kita untuk melaksanakan tradisi ini. Hari-hari ini, kami mulai menerima para tamu yang datang untuk menghadiri Jalsah Salanah. Jalsah yang dimulai oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. setelahnya diberitahu oleh Ilahi. Beliau juga banyak-banyak berdoa dan mendoakan bagi mereka yang hadir pada Jalsah Salanah. Dengan cara ini mereka itu adalah para tamunya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang kepada mereka itu kita harus berusaha menerima dan menghormati para tamu ini demi untuk mencari ridha Tuhan dan demi untuk persaudaraan dalam agama.
Huzur mengatakan para petugas Jalsah itu harus melaksanakan tugas-tugas mereka itu dengan rajinnya, sopan-santun, bersabar dan menjaga tenggang rasa. Setiap keperluan kecil dari para tamu harus diperhatikan dan disediakan. Setiap tamu itu harus diperlakukan seolah-olah ia itu adalah tamu khusus dari orang yang sedang bertugas. Semoga Allah Taala memberi taufik dan kemampuan kepada setiap anggota yang bertugas untuk menjalankan tugas dan kewajibannya dengan cara yang sebaik-baiknya.
Selanjutnya Huzur aba. mengumumkan bahwa beliau akan menyelenggarakan Shalat jenazah ghaib setelahnya Shalat Jum’at bagi dua orang yang baru meninggal. Chaudhry Mahmood Ahmad Cheema sahib seorang Wakaf yang meninggal dunia pada tanggal 12 July 2009 di Rabwah. Umur beliau 81 tahun. Beliau pernah bertugas di Sierra Leone, di Jerman dan di Indonesia. Tugasnya di Indonesia berlangsung sangat lama, 33 tahun. Yang akhirnya beliau kembali ke Rabwah pada tahun 2002. Beliau berkesempatan untuk pergi naik Haji. Beliau adalah seorang yang shaleh, mukhlis dan mewakafkan seluruh kehidupannya untuk Jama’at. Beliau memiliki hubungan yang sangat erat dengan Khilafat. Beliau meninggalkan banyak putri-putrinya, semoga mereka ini dapat meneruskan kemukhlisan dari ayahnya.
Sahibzadi Amatul Momin sahiba, yang adalah istri dari Sahibzada Mirza Naeem Ahmad sahib meninggal dunia pada umur 68 tahun. Almarhumah adalah cucu (melalui ayah) dari Hadhrat Mirza Sharif Ahmad dan cucu (melalui ibu) dari Mirza Aziz`Ahmad sahib. Ayahnya adalah Sahibzada Mirza Zafar Ahmad sahib dan ibundanya adalah Amatul Naseer sahiba. Beliau adalah menantu dari Hadhrat Muslih Mau’ud r.a.  Beliau adalah seorang yang paling sabar dan tabah serta mukhlis. Beliau sangat tabah dan bersabar atas meninggalnya kedua orang tuanya dan suami beliau. Beliau menahan derita sakitnya yang lama dengan penuh ketabahan dan tanpa mengeluhkannya. Semoga  Tuhan meninggikan status almarhumah dan membuat keturunannya tetap teguh dalam keshalehan.

PPSi / Mersela;  19 Juli 2009

Agustus 3, 2009 Ditulis oleh mkaiserang | KHUTBAH JUM’AH | | No Comments Yet

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّى ْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH

HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.

Tanggal 02 Januari 2009 dari Baitul Futuh London, U.K.

TENTANG : PENTINGNYA SELAWAT DAN DO’A

Hari ini kita sudah memasuki hari keempat dari bulan Muharram sesuai dengan tanggal 2 bulan Januari 2009. Secara kebetulan Jum’ah pertama tahun Hijri Islam atau Qomari Islam dan Jum’ah pertama tahun Hijri Syamsi juga jatuh pada waktu yang sama. Semoga terjadinya hari Jum’ah pertama pada waktu yang sama menurut kedua kalender ini Allah swt mendatangkan banyak berkah bagi Jema’at Ahmadiya. Dengan kejadian seperti ini saya ingin menganjurkan para anggatau Jema’at untuk banyak-banyak memanjatkan do’a kepada Allah swt sebagaimana terdapat penjelasan-penjelasan didalam buku-buku atau tulisan-tulisan Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan saya juga telah berulang kali menjelaskan didalam khutbah-khutbah bahwa sejak zaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. kedudukan Hari Jum’ah ini sangat erat kaitannya dengan Jema’at Hazrat Masih Mau’ud a.s. Pertama, dunia pada zaman sekarang disebabkan kesibukan dengan masalah duniawi orang-orang Muslim sudah tidak mempunyai anggapan bagaimana pentingnya Hari Jum’at ini. Padahal didalam surah Jum’ah secara khas Allah swt telah mengingatkan orang-orang Muslim tentang pentingnya salat Jum’ah itu, supaya mereka jangan terlibat hanya didalam urusan duniawi saja melainkan mereka harus selalu ingat bahwa segala sumber karunia terletak ditangan Tuhan. Kerana itu mereka harus memperhatikan pentingnya menunaikan ibadah salat Jum’ah. Apabila mereka sudah menyelesaikan ibadah salat Jum’ah itu barulah mereka diperkenankan sibuk lagi didalam urusan dunia mereka sambil mencari karunia Allah swt.

Pada awal surah Jum’ah itu Allah swt telah memberi khabar suka tentang kebangkitan seorang Ghulam Shadiq Hazrat Rasulullah saw dari kaum Akhirin, yang demi menyempurnakan maksud dan tujuan kebangkitan Hazrat Rasulullah saw, beliau menyebarkan ajaran Kitab Suci Al Qur’an keseluruh pelosok dunia agar Missi beliau saw terus berkembang maju. Beliau a.s. juga melakukan tazkiyah-e-nafs (pensucian jiwa) dan mengajarkan hikmah dan pengetahuan agama Islam, supaya dunia bisa mengenal Tuhan mereka dan orang-orang Muslim juga menjadi ummat wahidah (ummat yang bersatu) dan bangsa-bangsa lain dari berbagai jenis kepercayaan yang mempunyai fitrat baik dan suci supaya berhimpun dibawah satu tangan agar menjadi orang-orang yang mampu meraih keridhaan Allah swt.

Berkenaan dengan hal tersebut diatas Hazrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa ; “ Salah satu maksud dan tujuan kebangkitan Hazrat Rasulullah saw adalah takmil-e-din (penyempurnaan agama). Didalam penyempurnaan ini terdapat dua macam keistimewaan,

pertama takmil hidayat (menyempurnakan hidayat) dan kedua takmil isya’at hidayat (menyempurnakan penyebaran hidayat). Zaman takmil hidayat adalah zaman awal kehidupan Hazrat Rasulullah saw. Dan zaman takmil isya’at adalah zaman kedua yaitu zaman apabila tiba waktu sempurnanya ayat  وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ‌ dan zaman itu adalah zaman sekarang yakni zaman saya atau zaman Masih Mau’ud (Al Masih yang dijanjikan). Itulah sebabnya Allah swt telah mempersatukan zaman takmil-e-hidayat dan takmi-e-isya’at hidayah sehingga menunjukkan suatu pertemuan yang sangat agung. ”

Maksud dari takmil hidayah adalah bersamaan dengan kebangkitan Hazrat Rasulullah saw semua nikmat-nikmat Allah swt baik nikmat duniawi maupun nikmat ruhani telah sampai kepada titik zenitnya (titik paling tinggi). Dan setelah agama ini mencapai kesempurnaan tidak diperlukan lagi kelahiran sebarang agama baru atau sebarang syari’at baru. Bisa saja seseorang berkata bahwa nikmat duniawi belum sampai kepada puncak paling tinggi. Sebab setiap hari penemuan-penemuan baru selalu muncul. Maka hendaklah diketahui bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang Nabi kamil (sempurna) yang telah dibangkitkan oleh Allah swt untuk semua bangsa didunia. Dan beliau adalah Nabi Kamil yang rentang zamannya terus berlangsung sampai hari Qiamat. Dan kepada beliau telah diturunkan sebuah Kitab yaitu Al Quranul Karim yang merupakan Kitab Kamil (sempurna) yang didalamnya mengandungi tarikh-tarikh kuno dan mengandungi hukum-hukum baru dan dari segi duniawi penemuan-penemuan baru apapun yang telah dibukakan sesungguhnya terlebih dahulu telah diisyarahkan didalam Kitab Suci Al Qur’an. Dan berapapun penemuan-penemuan baru yang diperoleh semuanya terdapat isyarah dan bukti dukungannya didalam Kitab Suci Al Qur’an. Bahkan jika para ahli Sains Muslim merenungkannya dan setelah merenungkan jika didalam penelitiannya itu menggunakan referensi dari Kitab Suci Al WQur’an atau dengan menggunakan ilmu yang terdapat didalam Al Qur’an sebagai Khazanah (sumber koleksi) maka akan banyak sekali petunjuk-petunjuknya terdapat didalam Al Qur’anul Karim. Seperti halnya Proffessor Doctor Abdus Salam telah melakukan researchnya melalui Kitab Suci Al Qur’an. Dan sesuai dengan apa yang telah saya katakan berulang kali sebelum ini bahwa sesuai dengan hasil penelitian beliau didalam Kitab Suci Al Qur’an terdapat 700 ratus ayat yang erat kaitannya dengan Sains. Atau dari ayat-ayat itu bisa diperoleh bimbingan. Hal itu adalah hasil penelitian yang telah beliau lakukan. Bisa saja seseorang ahli sains Ahmadi Muslim lain yang menyelami samudera ilmu pengetahuan yang luas itu akan mendapatkan hasil penelitian sains yang lebih besar lagi.

Sehubungan dengan itu Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda :“ Bagaimanapun takmil-e-hidayat (penyempurnaan hidayat) itu telah dilaksanakan melalui Hazrat Rasulullah saw. Tidak ada sebarang ilmu pengetahuan tentang agama, tentang sains, ataupun tentang ruhani yang tidak mencapai kesempurnaan melalui Hazrat Rasulullah saw berkat bimbingan pengatahuan dari Allah swt. Akan tetapi pada zaman itu kebanyakan pengetahuan tentang benda-benda tertentu masih tersembunyi belum nampak kepermukaan. Oleh kerana itu benda-benda itu masih diluar jangkauan pengetahuan orang-orang terdahulu. Akan tetapi dizaman Hazrat

Masih Mau’ud a.s. hasil penemuan-penemuan baru bermacam jenis benda khasnya dibidang teknologi menjadi sarana-sarana untuk menyempurnakan penyebar-luasan hidayat. Dengan karunia Allah swt penemuan-penemuan baru yang sangat berfaedah bagi ummat manusia itu membawa faedah sangat besar bagi penyebar luasan ajaran Agama yang dibawa oleh Hazrat Rasulullah saw. Sebagai contoh Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menggunakan mesin-mesin cetak untuk mencetak buku-buku beliau a.s. Pada zaman sekarang kita sudah menyaksikan adanya satelite dan banyak lagi penemuan-penemuan baru lainnya.

Maka di Zaman Hazrat Asyiq Shadiq, Hazrat Masih Mau’ud a.s ini banyak sekali penemuan barang-barang baru yang nampak dihadapan kita dan berkat pertolongannya penyiaran ajaran Agama dapat dilaksanakan dengan mudah. Kesempurnaan Ajaran Al Qur’an atau kesempurnaan ajaran Hazrat Rasulullah saw, kesempurnaan kemuliaan dan martabat  beliau saw nampak demikian jelas, sehingga menambah kekuatan iman dan keyakinan setiap orang mukmin. Dan semua fenomena itu telah meningkatkan gerak perhatian kita untuk selalu membaca selawat dan salam kepada Junjungan kita Muhammad Rasulullah saw. Allahumma salli ‘ala Muhammadin wa ‘ala Ali Muhammadin wabarik wasallim innaka hamidum majid.

Seperti telah saya katakan bahwa Jum’ah ini adalah Jum’ah pertama menurut Kalender Hijri dan juga menurut Kalender Syamsi (Masehi). Atau Hari Jum’ah ini adalah hari Jum’ah pertama untuk Kalender Hijri dan juga Jum’ah pertama untuk Kalender Syamsi. Dan Hari Jum’ah ini mempunyai kepentingan yang sangat khas dengan zaman kebangkitan Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Dan hari Jum’ah tahun Islami dan hari Jum’ah tahun Duniawi atau tahun Masehi ini jatuhnya bersama-sama harus menggugah hati kita untuk memanjatkan do’a sebanyak-banyaknya kepada Allah swt. Sistim kalender tahun Qamari dan Kalender tahun Syamsi kedua-duanya ini diciptakan oleh Allah swt. Sebagaimana telah saya katakan bahwa kalender Syamsi (Kalender Masehi) telah terbiasa digunakan oleh umum sebagai pedoman penanggalan sejak zaman dulu yakni sejak zaman permulaan Kristian, yang pada zaman dahulu terkenal dengan nama Kalender Gregorian. Sedangkan kalender Qamari telah digunakan sebagai penanggalan khas orang-orang Islam. Namun kedua sistem penanggalan ini telah diciptakan oleh Allah swt. Sudah saya katakan bahwa para anggauta Jema’at harus benyak-banyak memanjatkan do’a, sebab pada awal abad kedua setelah Hazrat Masih Mau’ud a.s. sekarang Hari Jum’ah pertama telah jatuh bersama-sama pada permulaan tahun kedua kalender itu, baik kalender Syamsi maupun kalender Qamari. Jika perhatian kita selalu ditujukan kepada do’a sepenuhnya dan selalu berusaha melakukan amal-amal saleh sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah-Nya saw, maka kemajuan duniawi secara umum maupun kemajuan ruhaniyat dibidang agama yang telah ditaqdirkan akan diperoleh melalui wujud Hazrat Rasulullah saw, sekarang  melalui Khilafat Rasyidah Jema’at  Asyiq Shadiq beliau, akan nampak perobahan suasana baru yang sangat gemilang kepada dunia. Insya Allah !

Maka bersatunya tahun atau bulan dalam kedua kalender Syamsi dan kalender Qamari ini yang terjadi pada hari yang berberkat ini adalah juga merupakan salah satu dari pada tanda-

tanda bersatunya Jema’at Masih Muhammadi. Mungkin saja pertemuan atau kombinasi kedua hari itu sudah pernah terjadi berulang kali, namun kombinasi sperti ini yang baru terjadi ini baru pertama kali terjadi. Dan insya Allah hal ini merupakan isyarah kepada kemajuan dan kemenangan yang akan diraih oleh Jema’at  Ahmadiyah.

Pada zaman sekarang diamana dunia sedang tenggelam didalam berbagai permainan hiburan dan sedang berenang-renang didalam air kotor dan berbabu busuk, setiap orang Ahmadi dan setiap Jema’at disetiap Negara didunia berkewajiban untuk berusaha menerapkan ajaran Kitab Suci Al Qur’an pada diri masing-masing lebih giat dari waktu-waktu sebelumnya.  Dan harus berusaha lebih hebat dari sebelumnya untuk memperkenalkan ajaran suci ini terhadap masyarakat sekitar mereka. Dan harus berusaha memandikan orang-orang yang telah berenang-renang didalam air kotor dengan air yang suci bersih dan harus berusaha membuktikan diri sebagai khairu ummat (ummat terbaik) kepada dunia. Hal itu merupakan tanggung jawab yang sangat besar diatas orang-orang Ahmadi dimasa kini.

Jika tanggung jawab itu tidak dilaksanakan dengan sesungguhnya maka kita tidak bisa dikatakan sebagai khairu ummah dan tidak pula layak disebut sebagai hawari hakiki atau pengikut hakiki Masih Muhammadi yang selalu meneriakkan slogan  نَحْنُ اَنْصَارُ اللهِ (Kami penolong-penolong Allah) mengumumkan diri siap untuk menolong siapapun dan dalam keadaan bagaimanaun.

Allah swt Yang Maha Perkasa dengan menunjukkan beberapa peristiwa yang dikatakan oleh ahli dunia sebagai kejadian-kejadian biasa, namun sebetulnya merupakan bukti dukungan Allah swt terhadap Jema’at Ahmadiyah, jika pemerhati itu mempunyai mata untuk melihatnya. Sesungguhnya Allah swt sedang mengumumkan, sambil memberi isyarah berupa kejadian- kejadian itu bahwa pertolongan Allah swt kepada Jema’at ini benar-benar sudah dekat sekali . Dan kemenangan serta kejayaan Islam secara menyeluruh sudah berada diambang pintu. Allah swt tidak hanya menguji melainkan setiap telah terjadi percobaan dan ujian itu pintu rahmat dan pintu karunia-Nya akan terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Namun syaratnya adalah kita harus bertahan dan sabar atas segala kesuiltan dan kesusahan, dan kita harus menjadi orang-orang yang lebih merundukkan kepala dihadapan Allah swt dan lebih patuh dari sebelumnya dalam menta’ati perintah-perintah-Nya. Supaya puncak tujuan akhir akan semakin dekat untuk dicapai.

Maka pada hari ini bertepatan dengan Bulan Muharram dan hari Jum’ah pertama tahun ini saya anjurkan agar setiap anggauta Jema’at Ahmadiyah diseluruh dunia, anak-anak, orang tua, lelaki perempuan, tua muda dengan gejolak semangat baru dan ruhani baru harus  mengadakan perobahan suci pada diri masing-masing dan menunjukkan keindahan setiap amal-perbuatan masing-masing sehingga menggerakkan Tuhan Pemilik Arasy untuk menghulurkan cinta-kasih-Nya. Timbulkanlah kekhusyuan didalam berdo’a sehingga Tuhan Langit dan Bumi, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Gagah Perkasa, Tuhan Mujibud da’waat mengabulkan do’a-do’a kita sehingga kita bisa menyaksikan didalam kehidupan kita juga

bahwa bendera Hazrat Rasulullah saw berkibar disetiap pelosok dunia dan menyaksikan kebangkitan sebuah revolusi yang agung diatas permukaan bumi. Demi kemakbulan do’a sempena masuknya bulan Muharram ini saya ingin mengatakan bahwa pada hari-hari ini dan pada bulan ini harus banyak-banyak menaruh perhatian untuk membaca selawat kepada Junjungan Nabi Kita Muhammad saw sebanyak-banyaknya kerana itulah resep untuk kemakbulan do’a yang telah diberitahukan oleh Hazrat Muhammad saw sendiri. Dan Asyiq Sadiq Hazrat Rasulullah saw yakni Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah memberi contoh secara amaliah dan menjelaskan berkat-berkat dari pada selawat dan salam kepada Nabi saw dan beliaupun telah menganjurkan kepada kita secara khas untuk banyak-banyak membaca selawat dan salam kepada Junjungan Nabi Muhammad saw. Akan tetapi harus selalu diingat mutu pelaksanaan selawat dan salam itu harus ditingkatkan agar faedah dari membaca selawat itu bisa benar-benar dirasakan oleh kita. Dan diwaktu sedang mengirim selawat dan salam kepada Hazrat Rasulullah saw itu kitapun harus betul-betul mengenal ketinggian maqom atau ketinggian kedudukan martabah beliau saw.

Adapun hadis-hadis yang menceritakan pentingnya membaca darood (selawat) kepada Nabi saw, beberapa diantaranya akan saya kemukakan pada waktu ini. Terdapat riwayat dari Abu Talha Ansari r.a. pada suatu hari ketika Rasulullah saw datang dipagi hari nampak sekali dari air muka beliau bahwa beliau sedang merasa gembira dan ceriah sekali. Seorang sahabah bertanya : Ya Rasulallah ! Pada hari ini nampak kepada kami Huzur sedang dalam keadaan gembira sekali ! Beliau bersabda : “ Ya betul ! Allah swt telah mengirim seorang Malaikat dan berkata kepada saya, bahwa seseorang diantara ummat engkau yang membaca selawat satu kali dengan sangat baik sekali maka sebagai ganjarannya Allah swt menuliskan sepuluh macam kebaikan baginya.”  Dan disini Huzur saw bersabda : Yang membaca selawat dengan sangat baik sekali maka sepuluh macam keburukan atau dosanya juga akan diampuni. Yakni akan dituliskan sepuluh kebaikan dan akan dima’afkan sepulum macam dosa-dosanya dan ia akan ditingkatkan derajatnya sepuluh kali lebih tinggi. Dan Allah swt akan menurunkan rahmat-Nya sesuai dengan yang dia minta dari pada-Nya.

Jadi kegembiraan Hazrat Rasulullah saw terhadap ummat beliau disebabkan zahirnya rahmat dari Allah swt. Maka kewajiban kita adalah harus maju untuk meraih rahmat itu, dengan hati yang ikhlas kirimlah selawat kepada Hazrat Rasulullah saw, sediakanlah sarana untuk pengampunan dosa masing-masing. Dan dimasa hadapan harus berusaha memohon taufiq dari Allah swt untuk melakukan amal-amal kebaikan. Dengan menarik rahmat Allah swt kita akan mampu memperbaiki keadaan duniawi dan ruhani pribadi sendiri.

Terdapat didalam sebuah riwayat lagi yang diceritakan oleh Hazrat Abu Bakar Siddiq r.a. katanya Rasulullah saw bersabda : “ Orang yang mengirim selawat kepada saya maka saya akan memberi syafa’at kepadanya pada hari Qiamat.” Demikianlah martabah yang diterima oleh orang-orang selalu mengirim darood (Selawat) kepada Rasulullah saw. Martabah ditinggikan, dosa-dosa dima’afkan dan Hazrat Rasulullah saw bersabda : “Aku akan memberi

syafa’at kepadanya.” Akan tetapi, apakah orang yang akan diberi syafa’at oleh Rasulullah saw itu disebabkan ia selalu mengirim selawat kepada beliau saw didalam hatinya bisa menyimpan rasa benci atau dendam kepada orang lain? Apakah orang yang mempunyai perangai seperti itu bisa mendapat syafa’at dari Rasulullah saw ? Apabila kita mengucapkan selawat : اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَّعَلى آلِ مُحَمَّدٍ apakah bisa mempunyai perangai yang bertentangan dengan hazrat Rasulullah saw misalnya benci atau dendam kesumat ? Jika orang-orang Muslim faham kepada perkara ini tentu huru-hara dan perkelahian antar sesama orang Muslim akan terkikis habis. Untuk meraih syafa’at dari Hazrat Rasulullah saw dan untuk meraih martabah ruhani yang tinggi tentu manusia harus selalu mengirim selawat dan salam kepada beliau saw. Dan untuk mengamalkan hal itu tentu kebencian dan permusuhan atau dendam antar sesama harus dihapuskan. Apakah syafa’at Hazrat Rasulullah saw bisa diterima oleh orang-orang yang mulut mereka membaca selawat dan salam sedangkan hati mereka penuh dengan kebencian? Padahal Hazrat Rasulullah saw datang untuk menjalin kasih sayang satu sama lain, sebagaimana Allah swt berfirman : رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ mereka saling mengasihani satu sama lain. Apakah keadaan orang-orang Muslim zaman sekarang sesuai dengan ayat tersebut mempunyai rasa kasih-sayang satu sama lain ?

Sekarang kita berada didalam bulan Muharram, setiap tahun kita mendengar dibeberapa tempat terjadi peristiwa-peristiwa penyerangan terhadap orang-orang Syi’ah yang sedang melakukan ta’ziyah. Ditempat lain terjadi kerusuhan. Di Pakistan kebanyakan para Mullah dan orang-orang yang dianggap Ulama penyandang ilmu-ilmu agama, apabila mereka berdiri diatas mimbar diharapkan untuk menyempurnakan sunnah Hazrat Rasulullah saw menyampaikan amanat mahabbat dan kecintaan kepada masyarakat, akan tetapi sebaliknya orang-orang yang doyan bercakap-cakap diatas awan ini menyiarkan pesan-pesan kebencian dan permusuhan dari atas mimbar Hazrat Rasulullah saw itu. Yang seharusnya mereka menjadi para duta penyebar kecintaan dan kedamaian, malah sebaliknya menjadi para dewala penyabar kebencian dan permusuhan. Oleh sebab itulah Pemerintahan Pakistan telah mengumumkan dengan tegas didalam surat-surat khabar bahwa Para Mullah banyak yang dilarang pergi ketempat-tempat dimana mereka suka berbuat onar. Mereka dilarang mengunjungi daerah-daerah itu untuk waktu tak terbatas supaya didalam hati masyarakat disana tidak dicemari rasa kebencian terhadap satu sama lain.

Demikianlah keadaan orang-orang zaman sekarang disana, yang disatu pihak mereka menggembor-gemborkan ajaran Al Qur’an dan Hadis atau Sunnah Rasulullah saw sedangkan difihak lain mereka menanamkan benih-benih kebencian didalam hati masyarakat. Bahkan mereka mendirikan kubu-kubu kebencian antara kelompok masyarakat satu dengan yang lainnya. Setiap tahun hal seperti itu menjadi adat kebiasaan amal mereka. Sehingga terpaksa Pemerintah melancarkan larangan tegas terhadap mereka.

Kemudian terjadi pula kerusuhan di Karbalah. Orang-orang Syiah diserang, sebagai tindak balas orang-orang Syiah-pun menyerang orang-orang Sunni. Untuk melerai mereka ini

Pemerintah disana terpaksa membentuk Komite Ulama supaya jangan terjadi kerusuhan diseluruh negeri. Jika bulan Muharram ini berlalu dengan tenang juga, namun tidak lama kemudian timbul juga kebencian dikedua belah kelompok, timbul slogan-slogan yang membawa kebencian satu sama lain. Disana setiap tahun bahkan sepanjang tahun terjadi kerusuhan-kerusuhan diberbagai tempat antara kedua kelompok Sunni dan Syiah ini. Padahal mereka ini secara zahirnya orang-orang Muslim dan rajin membaca selawat juga kepada Hazrat Rasulullah saw. Sekarang fikirlah apakah Hazrat Rasulullah saw akan mengumumkan untuk memberi syafa’at kepada orang-orang seperti mereka ini ? Hal ini harus mendapat perhatian !

Karena keadaan mereka sudah seperti itu maka kewajiban kitalah untuk berdo’a dan membaca selawat sebanyak-banyaknya agar mereka menjadi para penyampai amanah Rasulullah saw yang sejati. Dengan menamakan diri sebagai ummah Nabi Muhammad saw mereka harus memahami betul hakikat membaca selawat itu. Mereka harus memahami betul pentingnya membaca selawat itu. Pada masa ini dunia Islam dalam situasi yang sangat berbahaya sekali, Ummat Muslimah harus menunjukkan contoh persatuan dan kesatuan yang erat supaya pandangan para musuh dengan mata kotor terhadap Islam tidak akan mencelakakan mereka.

Apabila kita membaca selawat dengan mengucapkan selawat kepada   آ لِ رَسُولِ maka hubungan phisikal dan spiritual juga meresap kedalam kalbu kita terhadap orang-orang yang mempunyai hubungan kecintaan dengan Nabi Muhammad saw itu. Mereka yang mempunyai hubungan darah dengan Hazrat Rasulullah saw mereka menjadi para pengikut beliau saw yang baik dan mukhlis, mereka memiliki martabah keruhanian yang sangat tinggi. Maka didalam hati orang-orang Muslim sejati tidak mungkin akan timbul fikiran untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh terhadap mereka itu, bahkan diwaktu membaca selawat juga mereka berdiri dengan sangat hormat. Demikian juga para sahabah Hazrat Rasulullah saw, tidak menghiraukan jiwa mereka sendiri melayang dikala sedang bertahan menyelamatkan jiwa Hazrat Rasulullah saw, mereka menghadangkan dada mereka dihadapan musuh laksana perisai demi menjaga keselamatan beliau saw dari bahaya serangan panah-panah musuh yang menghujani beliau saw. Seorang sahabah beliau disa’at situasi sangat genting sekali dari sergapan musuh ketika beliau berdua berada didalam sebuah Gua beliau bersabda kepada sahabah itu  لاَ تَحْذَنْ اِنَّ اللهَ مَعَناَ jangan gentar, sesungguhnya Allah bersama kita. Dan Allah swt telah menuliskan peristiwa itu didalam Kitab Suci Al Qur’an yang maksudnya Dia telah menyatakan Hazrat Abu Bakar sebagai teman Hazrat Rasulullah saw yang sangat istimewa untuk selama-lamanya. Dan Allah swt telah menjadikan karunia-karunia-Nya sebagai teman istimewa dikala Hazrat Abu Bakar r.a. menyertai Hazrat Rasulullah saw dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Maka melempar kata-kata yang tidak pantas atau tidak senonoh terhadap wujud sahabah yang mempunyai reputasi martabah tinggi bukanlah pekerjaan orang

Muslim. Keluarga Hazrat Abu Bakar r.a. mempunyai hubungan darah serta hubungan ruhani yang sangat dalam dengan Hazrat Rasulullah saw sehingga kedudukan beliau yang istimewa telah ditegakkan.

Sekarang menjadi tugas kita untuk banyak memanjatkan do’a dan membaca selawat sebanyak-banyaknya kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw sebab diatas muka bumi ini telah berdiri dinding-dinding kebencian, dengan menamakan diri orang Muslim mereka menanamkan benih kebencian dimana-mana. Dan disertai perasaan simpati hendaklah kita memanjatkan do’a bagi ummat Muhammadiyah juga, semoga Allah swt menjadikan mereka para pembaca selawat sejati dengan memahami makna hakiki dari pada selawat itu. Supaya orang-orang Muslim menyaksikan sendiri dengan nyata pemandangan ayat  رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ mereka saling mengasihani satu sama lain. Mendo’akan mereka juga merupakan kewajiban kita semua.

Penjelasan yang telah Hazrat Masih Mau’ud a.s. berikan mengenai berkat-berkat  membaca selawat dan mengenal martabah para ahli bait Rasulullah saw akan saya jelaskan disini. Beliau a.s. bersabda : “ Pada suatu ketika turun ilham kepada saya yang artinya bahwa para Malaikat Allah swt sedang turun, keinginan dan semangat Ilahi untuk menghidupkan kembali agama sedang bergelora melalui seseorang hamba pilihan-Nya. Semangat Allah swt untuk menghidupkan kembali agama tengah bergelora. Akan tetapi para Malaikat Allah belum mengetahui siapa orangnya yang akan menghidupkan kembali Islam itu. Masih belum jelas betul siapa orangnya yang akan menciptakan kehidupan baru didalam agama itu. Ditengah-tengah situasi demikian saya melihat didalam kasyaff bahwa orang-orang sedang sibuk mencari siapa yang akan menghidupkan agama itu. Kemudian datanglah seseorang dihadapan saya dan sambil menunjuk saya ia berkata : هَذَا رَجُلٌ يٌحِبُّ رَسُوْلَ اللهِ inilah orangnya yang mencintai Hazrat Rasulullah saw !  Maksud dari pernyataan ini adalah syarat yang paling besar dan paling utama bagi kedudukan orang itu adalah kecintaan terhadap Rasulullah saw.” Yakni syarat utama bagi orang yang akan menghidupkan atau yang akan menjadi reformer agama itu adalah orang yang paling tinggi kecintaannya terhadap Rasulullah saw dan dia sangat mustahak untuk menyandang tugas itu. Beliau a.s. selanjutnya bersabda : Didalam ilham yang sama dengan yang tersebut diatas telah disebutkan sebuah selawat yang berbunyi :

صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وُلْدِ آدمَ وَخَاتَمَ النَّبِيّيِْنَ

Demikianlah ilham sebelumnya yang mengandungi perintah kepada ahli bait Rasul untuk membaca selawat itu. Maka didalam selawat ini juga terdapat rahasia bahwa untuk meraih barkat nur Ilahi itu kecintaan terhadap ahli bait Rasul juga mempunyai kedudukan yang sangat agung. Dan orang yang masuk kedalam kelompok muqarrabiin ahadiyat (orang-orang yang sangat dekat dengan Allah swt) mereka mendapat warisan tayyibin dan tahirin (orang-orang salih dan suci). Dan mereka menjadi ahli waris semua ilmu pengetahuan dan ma’rifat.” Sampai disini saya ingat kepada sebuah kasyaf yang sangat jelas yaitu, pada suatu hari setelah sembahyang Maghrib antara keadaan bangun dan keadaan ghaib seperti keadaan sedang

mabuk nampak kepada saya sebuah pemandangan alam yang sangat menghairankan. Mula-mula terdengar suara langkah orang banyak sedang datang, terdengar suara derap kasut (sepatu) mereka, maka pada waktu itu juga lima orang yang sangat tegap dan simpatik serta tampan datang dihadapan saya, yaitu Rasulullah saw, Hazrat Ali, Hazrat Hasan dan Hazrat Husein serta Hazrat Fatimah Zahrah r.a. Kemudian saya melihat Hazrat Fatimah Zahra dengan penuh kecintaan seperti seorang ibu terhadap anaknya meletakkan kepala hamba yang lemah ini diatas paha beliau r.a. Setelah itu beliau memberi sebuah kitab kepada saya sambil berkata inilah Tafsir Al Qur’an yang telah disusun oleh Ali r.a. dan sekarang Hazrat Ali r.a. sendiri memberikan Tafsir itu kepada saya, alhamdulillah ‘ala zalik !!”

Itulah sebuah kasyaf Hazrat Masih Mau’ud a.s. Banyak orang-orang ghair telah menyatakan keberatan atau kritikan yang dilebih-lebihkan terhadap kasyaf ini bahwa Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah melakukan penghinaan terhadap Hazrat Fatimah Zahra r.a. Sebetulnya keritikan itu sendiri menunjukkan kekotoran atau keburukan fitrat pengeritik itu sendiri yang mengatakan bahwa Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah melakukan penghinaan terhadap Hazrat Fatimah r.a. Para Maulvi yang melemparkan tuduhan jahat itu tidak menjelaskan susunan kalimah-kalimah sepenuhnya kepada masyarakat awam. Sedangkan masyarakat awam juga disebabkan kebodohan atau mereka telah dijadikan buta oleh para Maulvi dengan menambah-nambah fakta yang diselewengkan sehingga mereka tidak mau mendengar atau tidak mau melihat bagaimana keadaan sesungguhnya peristiwa itu terjadi. Para Maulvi hanya menyebutkan sepotong kalimah berikut : Mirza Saheb telah meletakkan kepala beliau diatas paha Hazrat Fatimah r.a.

Disebabkan hati mereka itu penuh dengan hayalan-hayalan jahat dan kotor, maka  kotoran itu tidak mau keluar dari dalam hati mereka. Padahal Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa : Dengan kecintaan dan kasih sayang seperti seorang ibu terhadap anaknya Hazrat Fatimah Zahra r.a. telah meletakkan kepala hamba yang lemah ini diatas paha beliau r.a. Sekarang apa artinya perkataan kasih sayang seorang ibu atau ibu yang penyayang ? Dengan mengucapkan perkataan kasih sayang seorang ibu bisakah timbul hayalan atau fikiran kotor ? Hayalan atau fikiran kotor itu hanyalah timbul didalam benak para Maulvi yang mempunyai fitrat jahat dan kotor.

Didalam semua kisah kasyaf dan ilham itu, pertama-tama bisa diketahui martabah dan kedudukan Hazrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Masih dan Mahdi itu. Bahwa martabah itu diperoleh berkat selawat yang beliau krimkan dengan kemabukan cinta yang tak terperikan kepada Hazrat Rasulullah saw. Keduanya beliau sendiri bersabda : Ilham ini   صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ mengandung satu rahasia bahwa jika ingin untuk meraih nur-nur dari Hazrat Rasulullah saw maka mencintai para ahli bait juga sangat perlu sekali. Dan untuk menjadi muqarrab Allah swt (orang sangat dekat dengan Allah swt) juga sangat perlu memperoleh warisan orang-orang suci dan orang-orang ma’sum (orang-orang yang disucikan Allah swt). Maka sudah pasti orang-orang yang menjadi muqarrab Allah swt itu mengikuti langkah-langkah kehidupan orang-

orang suci dan ma’sum itu. Disebabkan mereka mencintai orang-orang yang dicintai Rasulullah saw maka Allah swt memberi mereka kedudukan sangat dekat dengan-Nya. Jadi, itulah kecintaan sejati mereka karena mereka mencintai orang-orang yang dicintai oleh kekasih mereka, Rasulullah saw. Dan jika orang-orang Muslim faham betul tentang noktah tersebut  tentu mereka tidak akan mempunyai perasaan benci terhadap sesiapapun. Memang benar kebencian yang Para Mullah sebarkan itu maksudnya untuk mempertahankan kepentingan pribadi mereka sendiri dan demi mempertahankan egotisme mereka sendiri. Dalam penyebaran kebencian itu mereka menggunakan nama-nama tokoh leluhur atau orang suci tertentu sebagai target mereka. Padahal orang suci itu adalah orang yang sepanjang masa hidupnya menjadi contoh tauladan yang sangat baik dalam menampilkan  رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ mereka saling mengasihani satu sama lain.  Jadi, perkara ini harus menjadi bahan renungan bagi masyarakat awam, sebelum mereka secara membabi buta turut ambil bagian dalam aksi penyebaran fitnah yang dipimpin oleh para Maulvi itu. Sebaiknya mereka harus menggunakan akal terlebih dahulu untuk melihat keadaan yang sebenarnya.

Diantara do’a-do’a yang telah diajarkan oleh Hazrat Rasulullah saw kepada kita untuk meraih kecintaan Allah swt , beliau juga memilih do’a orang lain yang menjadi sarana untuk meraih kecintaan Allah swt, misalnya sebuah do’a yang telah beliau ajarkan kepada kita sebagai berikut :  اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِى حُبَّكَ وَ حُبَّ مَنْ يَّنْفَعُنىْ حُبَّهُ عِنْدَكَ artinya :  Wahai Tuhan kami !! Anugerahkanlah kecintaan Engkau kepada kami dan kecintaan orang yang mendatangkan faedah kepadaku disisi Engkau. Dan kecintaan yang paling banyak mendatangkan faedah bagi kita adalah kecintaan Hazrat Rasulullah saw yang bisa membawa kita dekat dengan Allah swt. Dan sesungguhnya melalui kecintaan orang-orang itu juga yang dicintai oleh Hazrat Rasulullah saw bisa membangkitkan kecintaan kita terhadap Allah swt. Disini tugas kewajiban kita adalah  mengikuti setiap perintah dan amalan yang dilakukan oleh Hazrat Rasulullah saw. Dan disini perlu juga diketahui bahwa orang-orang yang dicintai oleh beliau saw kitapun harus mencintai beliau-beliau itu. Banyak sekali riwayat yang menjelaskan kepada kita dimana Hazrat Rasulullah saw mencintai keluarga jasmani dan keluarga ruhani, yakni beliau saw mencintai keluarga jasmani yang mempunyai hubungan keluarga ruhani juga, disana keluarga ruhani, yaitu putra-puteri beliau, para sahabah, beliau juga mencintai mereka. Beliau akan merasa gembira jika ummat beliau mengirim selawat kepada beliau sebab Allah swt akan menurunkan rahmat kepada mereka. Karenanya beliau sangat gembira sekali. Bukan hanya para sahabah yang ada diwaktu beliau hidup, melainkan semua manusia yang mengirim selawat kepada Hazrat Rasulullah saw sampai Qiamat beliau saw sangat gembira sekali kepada mereka, sebab Allah swt akan menurunkan rahmat kepada mereka. Kegembiraan akan sampai kepada beliau jika kita membaca selawat dengan kecintaan yang sesungguhnya kepada beliau. Jika orang-orang Muslim faham betul kepada masalah yang asas ini maka tidak akan pernah terjadi sebarang kerusuhan diantara mereka. Tidak akan pernah terjadi penyerangan terhadap sebarang mesjid orang lain. Tidak akan terjadi larangan terhadap para Ulama di Pakistan

didalam bulan Muharram ini untuk mendatangi tempat-tempat tertentu dinegara Pakistan.

Namun demikian tugas kewajiban kita adalah mendo’akan terus-menerus untuk kebaikan mereka itu. Orang-orang Muslim juga harus berfikir, mengapa pada zaman dahulu pernah berlaku pergaulan yang sehat dan erat, saling hormat-menghormati, cinta mencintai satu sama lain dengan lemah-lembut, namun sekarang diberbagai kelompok, diberbagai tingkatan masyarakat, diberbagai macam keluarga timbul slogan-slogan kebencian yang tidak dapat diatasi. Atas pengaruh siapa yang telah membinasakan ummat ini ? Pembangkangan dan penyelewengan sudah terbiasa dikalangan mereka ini. Akibatnya mereka tengah menerima hukuman dari Allah swt. Mereka harus berfikir berulang kali bagaimana caranya untuk memulihkan kembali wajah Islam yang sejati untuk diperlihatkan kepada dunia. Mereka harus meneropong kelemahan-kelemahan mereka pribadi masing-masing kemudian berusaha untuk memperbaikinya.

Sekali lagi saya ingin menganjurkan kepada setiap orang Ahmadi agar banyak-banyak membaca selawat didalam bulan Muharram ini dan banyak-banyaklah memanjatkan do’a untuk keselamatan dan perlindungan Ummat Muslimah ini dari setiap jenis perselisihan, permusuhan, kebencian dan dari berbagai macam pergaduhan antar sesama mereka. Dan tunjukkanlah kecintaan yang hakiki dan tak ada bandingannya terhadap keluarga besar Hazrat Rasulullah saw dan kepada para sahabah beliau r.a. serta kepada semua orang yang dicintai oleh Junjungan kita Nabi Muhammad saw. Semua putera-puteri jasmani beliau yang juga memiliki hubungan ruhani sangat erat dengan beliau saw, mereka semuanya benar-benar mempunyai hak untuk kita cintai. Tentang Hazrat Husen r.a. Hazrat Masih mau’ud a.s. bersabda : “  Husen r.a. seorang yang tahir dan muttahhar (orang suci dan ma’sum) dan tidak ragu lagi bahwa beliau r.a. adalah salah satu dari orang-orang terpilih yang telah disucikan oleh Allah swt. Dan dengan kecintaan-Nya beliau telah diperintah-Nya dan tidak ragu lagi bahwa beliau adalah salah seorang dari para petinggi ahli Syurga. Dan siapapun yang menaruh rasa dengki sekecil apapun terhadap beliau r.a. bisa menyebabkan hancurnya iman. Iman, Taqwa dan kecintaan Imam ini terhadap Tuhan, kesabaran, istiqamah, zuhud dan ibadah beliau merupakan uswah hasanah (teladan yang sangat baik) bagi kita semua. Binasalah hati yang menyimpan rasa benci dan permusuhan kepada beliau r.a. Dan berjayalah hati yang secara amaliah mencintai beliau r.a.”

Hendaknya kecintaan seperti itulah kepada Hazrat Husen r.a. yang harus diperhatikan dan dimiliki oleh setiap orang Ahmadi, sebagaimana telah diajarkan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. kepada kita. Demikian juga kecintaan terhadap para sahabah r.a. harus tetap bersemayam didalam hati kita. Sehubungan dengan itu Hazrat Masih Mau’ud a.s telah bersabda : “ Kecintaan terhadap Hazrat Abu Bakar, Hazrat Umar, Hazrat  Usman dan Hzrat Ali r.a. bersemayam dengan teguh didalam hati sanubari kita semua. Kita harus mencintai Rasulullah saw dan orang-orang yang mencintai beliau saw. Sambil menjelaskan martabah para sahabah

Hazrat Rasulullah saw, Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Para sahabah r.a. telah menunjukkan kesetiaan dan ketulusan sejati dijalan Allah swt dan Rasul-Nya sehingga mereka mendengar suara pujian dari Allah swt dengan firman-Nya : رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ yakni Allah telah ridha kepada mereka dan mereka telah ridha kepada-Nya ( Allah). Dengan demikian  para sahabah telah meraih derajat dan martabat yang sangat tinggi, yakni Allah telah ridha kepada mereka dan mereka telah ridha kepada-Nya ( Allah).

Berkenaan dengan Hazrat Abu Bakar Siddiq r.a. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Beliau adalah mazhar (penampakan wujud) Hazrat Adam, yakni beliau adalah Adam kedua. Sekalipun beliau bukan seorang Nabi, namun didalam wujud beliau mempunyai daya kekuatan dan kemampuan Nabi dan Rasul. Yakni beliau r.a. adalah mazhar Hazrat Rasulullah saw. ”

Berkenaan dengan Hazrat Umar r.a beliau a.s. bersabda : “ Tentang beliau terdapat hadis mengatakan bahwa : Syaitan lari ketakutan melihat bayangan Umar r.a. Hadis kedua mengatakan : Jika ada Nabi sesudah-ku tentu Umar r.a. menjadi Nabi.” Hadis ketiga : Didalam Ummat sebelum Islam selalu terdapat para Muhaddas (Allah swt berbicara dengannya) jika didalam ummatku ada Muhaddas tentu Umar r.a. menjadi Muhaddas. Bagi kita semua orang yang menjadi kekasih Rasulullah saw menjadi kekasih kita juga.”

Semoga Allah swt memberi taufiq kepada Ummat Muslimah ini untuk menghapus segala macam perselisihan dan perpecahan. Pada masa ini tengah terjadi berbagai macam perlawanan yang sangat keras dari fihak luar. Kita semua harus bergabung menjadi satu kemudian runduk dihadapan Allah swt samabil memohon do’a kepada-Nya.

Pada sa’at ini peperangan yang tengah terjadi antara Falestina dan Israil,disebabkan tidak adanya bimbingan yang benar dan tepat sehingga orang-orang Falestina tengah menghadapi banyak kehilangan dan kerugian. Mereka tengah membuat kerugian sendiri. Pada zaman ini bimbingan terhadap Ummat Islam diberikan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. yaitu janganlah berperang atas nama agama. Jika ada yang berperang atas nama agama mereka tidak akan mendapat kejayaan. Peperangan yang tengah berlangsung ini keadaannya tidak seimbang. Akalpun menghendaki agar semua perkara diselesaikan melalui perundingan, supaya jiwa orang-orang tak berdosa bisa diselamatkan dan tidak menjadi sia-sia. Serangan-serangan Israil ditujukan kearah orang-orang yang ma’sum tak berdosa. Memang betul diantara sasaran mereka tepat kepada yang dituju namun banyak sekali jiwa orang-orang tidak berdosa telah melayang. Dinegeri ini juga melalui surat-surat khabar mulai ribut mempermasalahkan. Mereka mengatakan kepada Israil, untuk membalas kematian seorang kamu telah membunuh seratus lima puluh orang.  Orang-orang yang akan dikenakan tindakan oleh Allah swt atau akibat apa yang akan mereka hadapi, bukan dengan peperangan, melainkan Allah swt dengan taqdir-Nya akan memberi keputusan sendiri. Bagaimana caranya hanya Tuhan-lah Yang lebih mengetahuinya. Demikianlah apa yang telah difirmankan oleh Allah swt didalam Al Qur’anul Karim. Jika orang-orang Falestina hendak mempertahankan diri dan jika ada uluran pertolongan dari orang-orang Muslim maka caranya lakukanlah dengan

13

merundukkan kepala dihadapan Allah swt kemudian mintalah pertolongan kepada Allah swt melalui do’a-do’a. Tidak syak lagi Allah swt akan menangkap orang-orang zalim dan Dia tidak akan membiarkan mereka. Akan tetapi orang-orang Muslim serta orang-orang Falestin juga berkewajiban untuk mengenal seruan dari Imam Zaman sekarang ini.

Dinegeri ini bila saja saya mendapat kesempatan untuk berkata dihadapan orang-orang mazhab lain maka saya katakan bahwa jika keadilan diabaikan dan tuntutannya tidak dipenuhi sebaik-baiknya maka kalian akan terus-menerus terlibat didalam api peperangan yang sangat dahsyat dan menakutkan. Hanya dengan melakukan kezaliman terhadap orang-orang yang tidak berdosa kalian tidak akan mendapat keselamatan, kekuatan kalian tidak akan memberi keselamatan. Maka saya katakan kepada mereka berusahalah untuk menyelamatkan kehancuran anak keturunan kalian dan tegakkanlah keadilan. Semoga negara-negara besar adi kuasa menjadi bangsa-bangsa yang menegakkan keadilan, jika tidak masalah perang ini bukan hanya masalah perang antara kedua negara namun akan melibatkan negara-negara besar sehingga menjadi perang global yang sangat dahsyat dan mengerikan yang kesan-kesannya secara zahir sudah nampak sekali. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada setiap orang Ahmadi untuk banyak-banyak membaca selawat dan memanjatkan do’a-do’a kepada Allah swt, supaya bisa menjadi penyelamat dari kehancuran dunia. Semoga manusia didunia memahami masalah ini dan semoga selamat dari kehancuran.

Semoga tahun baru ini menjadi tahun turunnya rahmat dan barakat yang sebanyak-banyak diatas Jemat ini dan semoga dengan karunia Allah swt kita bisa menyaksikan kemenangan dan kejayaan yang akan dilimpahkan kepada Jema’at ini. Semoga Allah swt dari segala segi tahun baru ini menurunkan berkat-berkat-Nya kepada Jemat Ahmdiyah seluruhnya. Amin !!!

Alih Bahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

Juli 8, 2009 Ditulis oleh mkaiserang | KHUTBAH JUM’AH | | No Comments Yet

KHUTBAH JUM’AH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْ عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

Is not Allah sufficient for His servant?

Apakah Allah tidak Mencukupi Hamba-Nya?

Summary of Friday Sermon

Intisari Khutbah Jum’at

January 23rd, 2009

Tanggal 23 Januari 2009

Delivered by Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba, the Head of the Ahmadiyya Muslim Community.

Disampaikan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba, Imam Jama’at Muslim Ahmadiyyah

NOTE: Alislam Team (& Tanslater / Penerjemah) takes full responsibility for any errors or miscommunication in this Synopsis of the Friday Sermon

Huzur opened his Friday Sermon today by citing verses 33 to 38 of Surah Al Zumar (Chapter 39) [ (39:33-38) ].

Huzur memulai Khutbah Jum’at-nya dengan menilawatkan Ayat-ayat 33 – 38 dari Surah Az Zumar (Surah 39 Ayat 33-38):

Fa man azhlamu mim man kadzaba ‘alallaahi wa kadzdzaba bish shidqi idz jaa-ahuu a laisa fii jahannama mtswal lil kaafiriin (39:33).

Who, then, is more unjust than he who lies against Allah and he who rejects the truth when it comes to him? Is there not in Hell an abode for the disbelievers?

Maka, siapakah lebih aniaya daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Tidak adakah di dalam Jahannam itu tempat tinggal bagi orang-orang kafir?

Wal ladzii jaa-a bish shidqi wa shaddaqa bihii ulaa-ika humul muttaquun (39:34).

But he who has brought the truth, and he who testifies to it as truth – these it is who are the righteous.

Dan, orang yang telah membawa kebenaran serta membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang muttaqi.

Lahum maa yasyaa-uuna ‘inda rabbihim dzaalika jazaa-ul muhsiniin (39:35).

They will have with their Lord whatever they desire; that is the reward for those who do good.

Bagi mereka akan memperoleh apa yang mereka inginkan di sisi Tuhan mereka. Itulah ganjaran mereka yang berbuat kebaikan.

Li yukaffirallaahu ‘anhum aswa-al ladzii ‘amiluu wa yajziyahum ajrahum bi ahsanil ladzii kaanuu ya’maluun (39:36).

So that Allah will remove from them the evil consequences of what they did, and will give them their reward according to the best of their actions.

Supaya Allah akan menutupi mereka akibat buruk kejahatan yang telah mereka lakukan, dan akan menganugerahi mereka ganjaran mereka sebaik-baik yang mereka amalkan.

A laisallaahu bi kaafin ‘abdahuu wa yukhawifuunaka bil ladziina min duunihii wa may yudhlilillaahu fa maa lahuu min haad (39;37).

Is not Allah sufficient for His servant? And yet they would frighten thee with those besides Him. And he whom Allah leaves in error – for him there is no guide.

Apakah Allah tidak mencukupi bagi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakuti engkau dengan yang selain dari Dia. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada baginya yang akan memberi petunjuk.

Wa may yadillaahu fa maa lahuu mim mudhililin a laisallaahu bi ‘aziizin dzintiqaam (39:38).

And he whom Allah guides – there is none to lead him astray. Is not Allah the Mighty, the Lord of retribution?

Dan, barangsiapa yang Allah memberi petunjuk, tiada seorang pun dapat menyesatkannya. Bukankah Allah itu Maha Perkasa, yang Empunya Pembalasan?

He explained that in these verses Allah has mentioned two types of unjust people; those who lie against Allah by false proclamation of being from Him and those who reject the truth sent by God through His prophets.

Beliau menerangkan bahwa di dalam ayat-ayat ini Allah menyebutkan tentang dua macam orang yang tidak adil; yaitu orang yang berdusta terhadap Allah dengan pendakwaan palsunya yang mengaku-ngaku bahwa dia diutus oleh-Nya, dan meeka yang menolak kebenaran yang dikirimkan oleh Tuhan melalui nabi-nabi-Nya.

Huzur said this subject is also cited in the Qur’an in Surah Ankabut (29:69).

Huzur bersabda bahwa perkara ini pun ada disebutkan dalam Alqur-aan Surah Al ‘Ankabut (29:69).

Wa man azhlamu mim manif taraa ‘alallaahi kadziban au kadzdzaba bil haqqi lammaa jaa-ahuu a laisa fii jahannama matswal lil kaafirrin (29:69).

And who is more unjust than he who invent a lie concerning Allah, or rejects the truth when it comes to him? Is there not an abode in Hell for disbelievers?

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang meng-ada-adakan dusta terhadap Allah, atau yang mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah dalam Jahannam ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir?

The Promised Messiah (on whom be peace) said a slanderer is always ineffective. Allah states that He cuts off and disgraces one who slanders regarding Him therefore how could one who has belief in this invent lies concerning God. In worldly matters the smallest of misdemeanours is punished how can then one who associates falsehood to God be spared? It is written in God’s books that a liar and a slanderer shall be destroyed.

Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) mengatakan bahwa seorang yang suka mencemoohkan itu tidak pernah sukses, Allah menyatakan bahwa Dia akan memotong dan menghinakan orang yang mencemoohkan Dia, oleh karena itu betapa seorang yang sudah percaya dalam kehidupan ini akan berbohong mengenai Tuhan. Dalam urusan duniawi saja untuk kelakuan buruk sekecil apa pun akan mendapat hukuman, jadi bagaimana mungkin ada orang yang berdusta dengan atas nama Tuhan akan dibiarkan begitu saja? Tertulis di dalam Kitab-kitab Tuhan bahwa seorang pendusta dan yang suka mencemoohkan Tuhan itu akan dihancurkan.

The fact that the Holy Qur’an has cited this in different places is a testimony that it is a fundamental principle that a person who forges a lie against Allah will be punished by God as well as one who rejects the truth and is disobedient to a true prophet of God.

Kenyataannya bahwa Kitab Suci Alqur-aan sudah menuliskan di berbagai tempat sebuah testimony ada satu azas pokok bahwa seseorang yang berdusta dan mengada-ada terhadap Allah akan dihukum oleh Tuhan, dan demikian juga orang yang menolak kebenaran dan orang yang tidak mematuhi seorang nabi yang benar dari Tuhan.

Allah commands that when His prophets come with clear signs, people should observe those signs and accept them. Indeed prophethood is accompanied by brilliant Divine signs which enhance with each passing day, therefore, Huzur said those who reject prophethood should come to their senses.

Allah memerintahkan bahwa bilamana Nabi-Nya itu datang dengan Tanda-tanda nyata, maka orang-orang itu harus memperhatikan tanda-tanda tersebut dan menerimanya. Sungguh, kenabian itu ada disertai dengan Tanda-tanda Ilahi yang brilliant, yang terus bertambah nyata pada setiap hari berlalu, oleh karena itu, Huzur bersabda, barangsiapa yang menolak kenabian itu mereka harus menggunakan akal sehat mereka.

Huzur said the accusation of falsehood were levied against the earlier prophets of God, indeed against the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) and today are alleged against the Promised Messiah (a.s.).

Huzur mengatakan tuduhan kebohongan itu ada dilemparkan kepada para nabi-nabi Tuhan yang terdahulu, dan memang juga terhadap Yang Mulia Rasulullah s.a.w. dan yang sekarang ini dituduhkan kepada kepada Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.).

In the verses of Surah Al Zumar preceding the ones cited above Allah declares the teaching of the Qur’an as manifestly clear and comprehensive, therefore leaving no doubt in what is the truth and what must be followed. Allah states that rejection of this will not escape punishment. The aforementioned verses affirm that one who is commissioned by Allah should be accepted and those who accept him will be prosperous and granted righteousness.

Dalam ayat-ayat Surah Az Zumar di atas, Allah menyatakan ajaran Alqur-aan yang sedemikian jelas dan comprehensive-nya, sehingga tidak memperli-hatkan keraguan sedikit pun akan apa yang benar dan yang harus diikuti itu. Allah menyatakan bahwa penolakan terhadap kebenaran itu tidak akan terhidar dari hukuman. Ayat-ayat yang disebut tadi menegaskan bahwa seseorang yang diangkat oleh Allah itu harus diterima, di mana mereka yang menerima utusan-Nya ini akan dikaruniai dengan ketakwaan dan kesejahteraan.

The subject is reiterated in verse 62 of Surah Ta Ha (20:62) and verse 18 of Surah Yunus (10:18) and makes it clear yet again that it is these are the two types of people who cannot escape Divine punishment

Perkara ini di-ulangi kembali dalam ayat 62 dari Surah Ta Ha (20:62) dan ayat 18 dalam Surah Yunus (10:18) yang membuat lebih jelas lagi bahwa itulah ada dua macam orang-orang yang tidak akan dapat terhindar dari hukuman Tuhan itu.

Qalaa lahum muusaa wailakum laa taftaruu ‘alallaahi kadziban fa yus-hitakum bi ‘adzaabiw wa qad khaaba manif taraa (20:62).

Moses said to them, “Woe to you, forge not a lie against Allah, lest He destroy you utterly by some punishment and, surely, he who forges a lie shall perish.”

Musa berkata kepada mereka, “Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan dusta terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan azab; dan sesungguhnya telah gagal-lah orang yang mengada-ada.”

Fa man azhlamu mim manif taraa ‘alallaahi kadziban au kadzdzaba bi aayaatihii innahuu laa yuflihul mujrimuun (10:18)

Who is then more unjust than he who forges a lie against Allah or he who treats His Signs as lies? Surely, the guilty shall never prosper.

Maka siapakah yang lebih aniaya dari orang yang mengada-ada dusta terhadap Allah atau yang mendustakan Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya tidaklah akan berjaya orang-orang yang berdosa.

Huzur said this is food for thought those who do not accept the Promised Messiah (on whom be peace). Allah has granted the Muslims a most comprehensive Book the safeguard of which He has taken upon Himself, which is present today in its original, unaltered text. Allah has made it extremely clear in the Qur’an that it is not a collection of fables and has warned to take heed from the earlier people. Indeed there will be false claimants from God but they will not be successful and this will manifest in failure of dissemination of their teaching.

Huzur mengatakan bahwa inilah umpan bagi pikiran orang-orang yang tidak mau menerima Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.). Allah Taala telah menganugerahkan kepada orang-orang Muslimin sebuah Kitab yang sangat lengkap comprehensive, buku yang Dia jaga dan Dia lidungi Sendiri, yang sampai saat ini pun tetap orisinil, dengan teksnya yang tidak berubah. Allah telah membuatnya dengan amat-sangat jelas di dalam Alqur-aan ini bahwa Kitab ini bukanlah hanya merupakan koleksi dari dongengan-dongengan dan yang hanya memberi peringatan kepada orang-orang di zaman dahulu belaka. Memang pernah ada pendakwa-pendakwa palsu yang mengatas-namakan dari Tuhan, tetapi para pendusta ini tidak pernah sukses dan akan gagal dalam menyebarkan ajarannya.

One who comes from God has a spiritual objective, either bringing in a new religious law (Shariah) or reviving the old teaching so that those who are lost may be brought closer to God. These are the basic points of reference of those who come from God.

Seseorang yang benar-benar datang dari Tuhan itu memiliki satu tujuan spiritual, apakah dengan membawa sebuah Undang-undang Syariat yang baru atau untuk menghidupkan kembali ajaran lama sehingga orang-orang yang sudah tersesat itu akan dibawa dekat kembali kepada Tuhan. Inilah dasar perbedaan pokok dari orang-orang yang datangnya dari Tuhan itu.

In this age the Promised Messiah (on whom be peace) is – God forbid – accused of being false. One can clearly observe that he has made no change to the [Islamic] Shariah. It is evident from his writings that there is not the slightest alteration about Salat or any other pillar of Islam or any variation from the authentic Sunnah of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him). The fact is that he has presented the beauty of Islam in an enhanced manner and without doubt his advent took place in accordance with the prophecies of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him).

Pada zaman ini, Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dituduh – Na’udzubillah min dzalik – sebagai seorang pendusta. Orang itu dapat melihatnya dengan sangat jelas bahwa beliau itu sama sekali tidak membuat sesuatu perubahan apa pun terhadap Syariat Islam. Ini dibuktikan dari tulisan-tulisan beliau bahwa tidak ada sedikit pun perubahan tentang Shalat atau pada rukun Islam lainnya atau membuat sesuatu perubahan terhadap ke-otentikan Sunnah dari Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Kenyataannya adalah bahwa beliau itu telah menyajikan keindahan Islam dengan cara yang maju dan dengan tanpa diragukan lagi kedatangannya beliau itu adalah sesuai dengan nubuatan dari Yang Mulia Rasulullah s.a.w.

Huzur remarked, is the Community of the Promised Messiah (on whom be peace) on the increase, or is it standing still or is it diminishing? Indeed groups upon groups of people are joining it, where as there is dissension and sectarian conflict among those Muslims who accuse and culminate us. They have introduced harmful innovations in religion. Huzur said for example in the Indian sub-continent offerings are made at tombs and wishes and desires are sought from Pirs, some of whom do not even observe the Salat. Was this practice observed in the times of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him)?

Huzur mengingatkan, apakah Jama’atnya dari Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) itu meningkat maju, atau tetap diam begitu saja ataukah menghilang? Yang benar adalah kelompok demi kelompok banyak orang itu masuk dan ikut dalam Jama’at ini, di mana terdapat perselisihan dan konflik antar sekte di antara orang-orang Muslimin yang menuduh kami dan yang membuat kami maju. Mereka ini membuat bid’ah-bid’ah baru yang merugikan pada agama. Huzur mengatakan, sebagai contohnya di Hindustan, mereka membuat suguhan pada kuburan-kuburan dan menyampaikan keinginannya kepada Pir-pir atau dukun-dukun, yang beberapa di antaranya bahkan tidak mengerjakan Shalat. Apakah praktek yang begini ada di zamannya Yang Mulia Rasulullah s.a.w.?

Huzur said Baha’ullah was a claimant to a prophetic fulfilment. The soundness of this is clear from the fact that his claim does not have Divine support and succour. There was no clear manifest sign from him, in fact he cancelled the Islamic Shariah about which Allah has decreed that it shall continue till the end of time. At one time Baha’ullah had quite a good following. However, his popularity was nothing compared to the Quranic Shariah. Now his following is sparse and the Holy Qur’an, which is being maligned through a calculated conspiracy, continues to propagate. The Ahmadiyya Community is making headway in propagating its teachings.

Huzur mengatakan Baha’ullah membuat pernyataan sebagai pemenuhan dari suatu nubuatan. Kebenaran dari pendakwaannya tersebut adalah jelas dari kenyataannya bahwa pendakwaannya itu tidak mendapatkan dukungan dan pertolongan Ilahi. Tidak didapatkan bukti tanda yang jelas dari mereka ini, yang pada kenyataannya ia itu meng-hapuskan Syari’at Islam, yang tentang ini Allah telah menakdirkan bahwa Syari’at ini akan terus berlaku sampai pada Hari Kiamat. Memang pada satu saat golongan Baha’ullah ini mempunyai banyak pengikutnya. Namun popularitasnya itu tidak ada artinya dibandingkan dengan Syari’at Alqur-aan. Sekarang, pengikutnya itu sudah tidak banyak lagi dan Kitab Suci Alqur-aan, yang di-pencundangi melalui persekongkolan-jahat mereka yang secara terkalkulasikan itu, terus menerus menyebar luas. Jama’at Ahmadiyyah-lah yang membuat maju pesat penyebaran ajarannya itu.

Success is not to accumulate worldly wealth or a large following, rather, true success is the propagation of Allah’s teachings. This is what supports and corroborates the veracity of the claim of the Promised Messiah (on whom be peace). Those who continually demean the Ahmadis should have some sense and make their decision based on the standards established by God.

Kesuksesan ini bukannya diukur dengan mengumpulkan harta kekayaan duniawi atau dengan jumlah pengikutnya yang banyak, tetapi sukses yang hakiki ialah dalam penyebaran dari ajaran Allah ini. Inilah yang mendukung dan menguatkan ketelitian dan kebenaran dari pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud (a,s,) itu. Mereka yang terus-menerus berusaha merendahkan orang-orang Ahmadi seharusnya mereka itu menggunakan akal sehatnya untuk membuat keputusan dengan menggunakan standard yang dibuat oleh Tuhan.

Huzur said one who is commissioned by God is truthful in the message he brings and indeed in his word. The message he brings is from Allah and is laden with Divine support and corroboration.

Huzur mengatakan seseorang yang di-angkat oleh Tuhan itu adalah selalu jujur dan berkata yang sebenarnya dalam penyampaian amanat itu. Amanat yang disampaikan dari Allah itu penuh sarat dengan penguatan dan dukungan dari Ilahi.

In the cited verses of Surah Al Zumar (39:34-35) Allah states that those who abide by taqwa (righteousness) will have whatever they desire from God. They shall have inner peace and contentment. It does not mean that they would always wish for and have finite things of this world. By mentioning taqwa at the outset in the verse it has been made clear that these people seek Allah’s pleasure alone.

Dalam ayat Surah Az Zumar (39:34-35) yang dibaca tadi Allah menyatakan bahwa mereka orang-orang yang muttaqi, yang ber-taqwa itu akan memperoleh apa yang mereka inginkan dari Tuhan. Mereka akan memiliki kedamaian dan kepuasan di dalam hatinya. Ini tidak berarti bahwa mereka itu akan menginginkan perkara yang terbatas di dunia. Dengan menyebut taqwa itu, pada permulaannya dalam ayat tadi sudah dibuat jelas bahwa orang-orang ini hanyalah mencari ridha Allah semata.

The next verse (39:36) further unfolds that because of these people accepting one who is from Allah, because of righteousness and because of doing good works Allah shall remove the bad consequences of their human frailties. Mistakes and sins are requited in equal measure but piety is rewarded ten-fold by Allah. The reward of good works makes sin distant.

Ayat berikutnya (39:36) selanjutnya mengungkapkan bahwa karena orang-orang ini sudah menerima orang yang datang dari Allah, dikarenakan ketakwaannya dan perbuatan amal shalehnya, maka Allah akan menghilangkan akibat buruk dari kelemahan-kelemahan manusiawi mereka. Kesalahan-kesalahan dan dosa akan dibalas dengan ukuran yang sama, tetapi amal shaleh akan diberi ganjaran dengan sepuluh kali lipat oleh Allah. Ganjaran atas perbuatan amal shaleh ini akan menjauhkan dirinya dari dosa.

Huzur said finding inner peace and developing in piety after accepting one who is sent by God is also a sign and benchmark of the truthfulness of the person. In this age the Ahmadis are a testament of this as indeed are the newcomers joining the Community. The verse 39:37 further reassures in the declaration that Allah is sufficient for His servant no matter how many accusations are levied by the slanderers. Here Allah has made it very clear to those who reject and accuse Allah’s people that they cannot harm them in any way and that Allah helps them every step of the way.

Huzur mengatakan dengan mendapatkan kedamaian di dalam hati dan menciptakan ke-shalehan setelahnya menerima orang yang dikirim oleh Tuhan itu, ini adalah merupakan tanda dan ukuran akan kebenaran dari orang yang dimaksud. Di zaman ini orang-orang Ahmadi adalah sebuah testament untuk ini karena benar-benar banyaknya pendatang baru yang ikut masuk ke dalam Jama’at. Ayat 39:37 selanjutnya meyakinkan di dalam deklarasinya bahwa Allah itu mencukupi bagi hamba-Nya, tidak jadi masalah dengan banyaknya tuduhan palsu yang dilemparkan oleh para pencemooh itu. Di sini Allah telah membuatnya jelas bagi mereka yang menolaknya dan menuduh orang dari Allah ini, bahwa mereka itu, bagaimana pun juga tidak dapat mengganggunya bahwa Allah selalu menolong orang ini pada setiap langkahnya.

Huzur said we witness that to this day opponents make extremely cheap attacks on the Holy Qur’an and the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) but they cannot damage Islam. A large number of Muslims endeavour to implement the Shariah in its original form. Huzur said this is a proof that the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) was from God and his Shariah is alive and shall stay alive and human attempts were not able to damage it before and will not be able to damage it now or in the future.

Huzur mengatakan kami menyaksikannya bahwa sampai hari ini pun pihak lawan itu melakukan serangan yang sangat murahan terhadap Kitab Suci Alqur-aan dan Yang Mulia Rasulullah s.a.w., tetapi mereka itu tidak dapat merusak Islam. Banyak orang-orang Muslimin berusasha keras untuk melaksanakan Shariat dalam bentuknya yang asli. Huzur mengatakan ini adalah bukti bahwa Yang Mulia Rasulullah s.a.w. itu adalah dari Tuhan dan Syariat beliau itu hidup dan akan tetap hidup di mana usaha manusia itu tidak akan dapat merusaknya sebelum ini, dan tidak akan dapat merusaknya sekarang pun atau pun nanti juga..

In this age Allah sent a true and ardent devotee of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) to refute the enemy with a renewed vigour and dynamism. If only the Muslims would understand this.

Di zaman ini Allah telah mengirim seorang pengikut sejati dari Yang Mulia Rasulullah s.a.w. yang rajin bekerja untuk mengalahkan musuh Islam dengan sebuah kekuatan dan dinamika yang diperbaharui. Mudah-mudahan orang-orang Muslim akan dapat mengerti akan hal ini.

Huzur said it should be clear that in verse 39:37 where Allah states that He is sufficient for His servant the use of the word ‘abd’ (servant) connotes the true servants of Allah who are perfectly obedient to Him, who proclaim to be ‘helpers of Allah’ (AnsarUllah), who worship Him, who glorify Him, who have a great sense of honour for Him and who love Him most dearly. The finest and most excellent model of this was the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) to whom Allah demonstrated His attribute of being sufficient to an astounding degree at various times of His life. Allah states that only he is guided whom Allah grants guidance.

Huzur mengatakan sudah jelas bahwa di dalam ayat 39:37 itu, di mana Allah menyatakan bahwa Dia itu cukup bagi hamba-Nya, di mana penggunaan kata ‘abd’ atau hamba itu mempunyai konotasi sebagai hamba Allah yang sejati, yang benar-benar taat patu sepenuhnya kepada-Nya, yang menyatakan sebagai “penolong Allah’ (atau Ansarullah), yang mengabdi dan beribadah kepada-Nya, yang meng-Agungkan-Nya, yang memiliki rasa hormat yang tinggi untuk-Nya dan yang amat sangat mencintai-Nya. Contoh yang paling istimewa untuk ini adalah Yang Mulia Rasulullah s.a.w. yang Allah memperlihatkan sifat-Nya secara cukup dalam derajat yang menakjubkan pada berbagai waktu selama kehidupannya. Allah Taala menyatakan bahwa hanyalah ia yang mendapatkan petunjuk itu, orang yang telah Allah beri bimbingan petunjuk.

Huzur said one should turn to Allah for guidance, for enhancement of belief and to stay firm once one is guided. Those who are guided demonstrate themselves as true servants of God and fully realise that therein lies their salvation and are fully cognisant that true triumph is only with Islam and Allah avenges those who are hostile. Allah’s retribution is in the form of punishment. In order to demonstrate the truthfulness of those who are from Allah He not only proves their veracity He also saves them from all the attacks of the opponents.

Huzur mengatakan orang itu harus minta kepada Allah untuk petunjuk, untuk peningkatan keimanannya dan untuk tetap teguh satu kali orang itu sudah mendapat petunjuk. Orang yang sudah memperoleh petunjuk itu memperlihatkan dirinya sebagai hamba Tuhan yang sejati dan menyadari sepenuhnya bahwa di sanalah letaknya keselamatan mereka dan menyadari sepenuhnya bahwa kejayaan hakiki itu hanyalah dengan Islam di mana Allah Taala itu membalas mereka yang memusuhinya. Pembalasan dari Allah itu adalah dalam bentuk hukuman azab. Agar memperlihatkan kebenaran orang yang dari Allah itu, Dia tidak hanya membuktikan kejujuran mereka, Dia juga menye-lamatkan mereka dari semua serangan musuh.

The beloved of Allah and those who believe in them are included in:

Yang mencintai Allah dan mereka yang percaya kepada mereka ada termasuk di dalam:

Fad khulli fii ‘ibaadii (Al Fajr, 89:30)

‘So enter thou among My chosen servants’ (89:30).

‘Maka masuklah dalam hamba-hamba-Ku’ (89:30).

Indeed the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) was the biggest recipient of this grace. Because of him Allah also became sufficient for the slaves/servants of the Prophet (peace and blessings of Allah be on him). From among his slaves/servants the most excellent one is the Promised Messiah (on whom be peace) to whom Allah revealed the Quranic verse of A laisallaahu bi kaafin ‘abdahuu” Is not Allah sufficient for His servant?’ (39:37) many times.

Memang, Yang Mulia Rasulullah s.a.w. adalah penerima terbesar dari rahmat ini. Karena beliau inilah maka Allah juga menjadi cukup bagi hambanya dari Nabi s.a.w. Yang paling teristimewa diantara hambanya itu adalah Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) yang kepadanya Allah memwahyukan ayat Alqur-aan A laisallaahu bi kaafin ‘abdahuu”, ‘Apakah Allah tidak mencukupi bagi hamba-Nya?(39:37) banyak-banyak kali.

The first time it was revealed to him was just before his father’s passing away and was a demonstration of Allah’s love. Allah indeed made the Promised Messiah (on whom be peace) free from all kind of financial concerns and a whole world was fed by his hand, indeed is still being fed by his hand. This revelation was repeated many times and saved the Promised Messiah (on whom be peace) from the attacks and conspiracies of the enemy and Allah indeed proved sufficient for him just as He had been sufficient for his master the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him).

Pertama kalinya diwahyukan kepada beliau adalah pada saat menjelang wafatnya ayah beliau dan merupakan sebuah penampakan dari kecintaan Allah kepadanya. Memang Allah telah membuat Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) terbebas dari kesulitan keuangan di mana seluruh dunia telah diberi makan melalui tangannya, dan memang benar-benar masih diberi makan melalui tangannya. Wahyu ini berulang kali diulangi dan telah menyelamatkan Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dari serangan dan persekongkolan jahat pihak musuh dan memang Allah telah membuktikan cukup bagi beliau sebagaimana Dia telah mencukupi juragan-nya yaitu Yang Mulia Rasulullah s.a.w.

Allah commanded the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) to state:

Allah memerintahkan kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. untuk menyatakan:

“Qul in kuntum tuhibbuunallaaha fat tabi’uuni yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum wallaahu ghafuurur rahiim”

‘Say, ‘If you love Allah, follow me: then will Allah love you and forgive your faults…’ (3:32).

Katakanlah, “Jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu ..…’ (3:32).

Huzur said the Promised Messiah (on whom be peace) set the most excellent standard in following him and it was due to his perfect obedience to the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) that Allah loved the Promised Messiah (on whom be peace) and revealed Quranic verses to him and always disgraced his enemy.

Huzur mengatakan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah contoh standard yang teristimewa untuk mengikutinya dan ini adalah karena ketaatan beliau yang sempurna kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w. sehingga Allah itu mencintai Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan mewahyukan ayat Alqur-aan ini kepada beliau di mana Allah Taala senantiasa menghinakan musuh beliau.

Huzur said to this day the opponents do not accept the Promised Messiah (on whom be peace) and try to achieve their objectives. This did not come to pass before nor shall it ever. Indeed, we witness proofs of his truthfulness each day. These are demonstration of Allah being sufficient at every time and they enhance our faith. Each Ahmadi should reflect on this and try and develop in belief, not simply give it cursory attention. In true compliance of the true and ardent devotee of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) we will be included in those for whom Allah becomes sufficient.

Huzur mengatakan dewasa ini, pihak lawan itu tidak mau menerima Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dan berusaha untuk mencapai tujuannya. Hal ini tidak pernah berhasil di waktu yang lampau dan juga tidak, sampai kapan pun juga. Benar, kami menyaksikan bukti dari kebenaran beliau itu pada tiap hari ini. Ini merupakan penampakan bahwa Allah itu mencukupi pada tiap saat dan mereka itu menambah tinggi keimanan kami. Setiap orang Ahmadi itu haruslah merenungkan hal ini dan untuk berusaha mengembangkan keimanannya, dan tidak hanya merupakan perhatian yang sepintas lalu saja. Dengan menjadi pengabdi sejati Rasulullah s.a.w. yang rajin bekerja maka kami itu akan termasuk pada mereka yang Allah itu cukup baginya.

The opponents may try and make all their effort, Allah is sufficient now as He was before and InshaAllah will be in the future. The religious leaders and the educated classes of Pakistan continue to try and damage us. A while ago a court case was registered against an Ahmadi in Pakistan with a charge that he had torn up a poster that had been put up by a maulwi. There is no truth in this.

Para penentang itu bolehlah berusaha dan menggunakan segala cara, bagi kami Allah mencukupi sekarang sebagaimana sebelumnya dan Insya Allah di masa depan juga. Para ulama dan golongan cendekiawan di Pakistan terus-menerus berusaha untuk mengganggu kami. Beberapa waktu yang lalu sebuah perkara diajukan ke pengadilan terhadap seorang Ahmadi di Pakistan dengan tuduhan bahwa ia telah merobek sebuah poster yang ditempelkan oleh seorang maulwi. Ini tidak benar.

We display patience and fortitude even when verbally abused, this is what the Promised Messiah (on whom be peace) has taught us. We have never attempted retaliation. Allah alone seizes those who harass the Community of the Promised Messiah (on whom be peace). The court case was taken all the way to the high court where a judge passed an astonishingly excessive verdict. Huzur said if this judge considers the maulwis of today holy, then we have nothing to say. These people serve those in power; such is the judiciary of Pakistan for some time now. We have no hope from them we only turn to Allah, He alone is sufficient.

Kami itu telah memperlihatkan kesabaran dan ketabahan dengan adanya cemoohan hinaan itu, karena inilah yang diajarkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) kepada kami. Kami itu tidak pernah berusaha untuk membalas keburukan. Allah sajalah yang akan mencengkeram mereka yang mencoba mengusik Jama’atnya Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) ini. Sidang di pengadilan telah dibawa sampai pada tingkat pengadilan yang tertinggi, di mana hakim itu telah mengambil keputusannya yang sungguh sangat mengherankan. Huzur mengatakan sepertinya hakim itu menganggap para maulwis sekarang ini sebagai orang suci, makanya kita itu tidak dapat ngomong apa-apa lagi. Orang-orang ini hanyalah mengabdi kepada mereka yang sedang berkuasa, seperti para hakim pengadilan di Pakistan sekarang ini. Kami itu tidak bisa mengharapkan apa-apa dari mereka ini, sehingga hanya kepada Allah-lah kami itu menggan-tungkan diri, Cukup-lah Allah bagi kami.

Addressing the people of Pakistan Huzur said they should have some sense and not invite Allah’s wrath the signs of which are on the horizon. The only way out of this is to beg forgiveness of Allah. Our hearts are brimful of a surging sea of love for the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) which the others could never even come close. Huzur called on the masses of Pakistan and told them not to follow the so-called religious leaders but to come in the refuge of Allah.

Dalam amanatnya kepada orang-orang Pakistan Huzur mengatakan bahwa mereka itu harus mau menggunakan akal sehatnya dan jangan sampai mengundang azab dari Allah yang tanda-tandanya sudah menampak di ufuk. Satu-satunya cara untuk ini adalah dengan memohon ampunan dari Allah. Hati kami sangat penuh dengan gejolak lautan kecintaan kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w., di mana yang orang-orang lainnya bahkan tidak pernah sedekat itu. Huzur menyerukan kepada orang banyak di Pakistan dan mengatakan kepada mereka supaya tidak ikut-ikutan dengan apa yang dikatakan ulama-mullah itu, tetapi supaya datanglah untuk mencari perlindungan kepada Allah Maha Kuasa.

Huzur said these religious leaders continue to incite people against us and this results in martyrdoms. These terrible acts are in accordance to the law of the country where today no law is working.

Huzur mengatakan bahwa ulama-mullah ini terus-menerus menghasut orang-orang untuk menentang kita yang mengakibatkan jatuhnya syuhada-syuhada. Tindakan mereka yang brutal itu adalah sesuai dengan undang-undang negeri ini, di mana dewasa ini tidak ada hukum yang berjalan.

Next Huzur gave the news of the martyrdom of Saeed Ahmad sahib in Sindh Pakistan who was shot dead as he entered his house. Huzur said he was a sincere and simple person who was ever busy in serving others. He was a hard working, hospitable, patient and forbearing person who had no enemy. He leaves behind two daughters and two sons. May Allah elevate his status in Paradise.

Kemudian Huzur menyampaikan berita tentang di-syahidkannya Saeed Ahmad sahib di Sindh Pakistan yang ditembak sampai meninggal pada saat beliau akan masuk ke rumahnya. Huzur mengatakan beliau adalah seorang yang tulus, sederhana dan yang selalu sibuk berbakti kepada orang lain. Beliau adalah seorang pekerja keras, ramah, penyabar dan tidak punya musuh. Beliau meninggalkan dua orang puteri dan dua anak laki-laki. Semoga Allah Taala meninggikan tempat baginya di Syurga.

Huzur also gave the news of the death of Rana Muhammad Jan Advocate, who had served as the Ameer of Bhawalnagar, Pakistan. He served the Community for more than forty years and was a most sincere and pious person with strong connection with Khilafat. Huzur said he used to come regularly to the UK Jalsa but could not for the past two years and would write anxiously to Huzur about this. Huzur prayed that may Allah make his offspring follow in their father’s footsteps. Huzur said he would lead the funeral prayers in absentia of both the deceased.

Huzur juga menyampaikan berita mengenai telah meninggalnya Advocate Rana Muhammad Jan, yang bekerja sebagai Amir Bhawalnagar, Pakistan. Beliau telah bekerja pada Jama’at selama lebih dari 40 tahun dan sebagai seorang yang amat shaleh dan mukhlis serta memiliki hubungan kuat dengan Khilafat. Huzur mengatakan beliau biasa datang secara rutin ke Jalsah Inggris tetapi tidak bisa datang pada dua tahun terakhir di mana beliau menulis surat kepada Huzur mengenai keinginannya itu. Huzur mendoakan semoga Allah Taala membuat keturunannya mengikuti jejak ayahnya itu. Huzur mengatakan beliau akan mengimami Shalat jenazah ghaib bagi kedua almarhum.

PPSi /Mersela, 25-1-2009

link download

Januari 31, 2009 Ditulis oleh mkaiserang | KHUTBAH JUM’AH | | No Comments Yet

KHUTBAH JUM’AH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّى ْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH

HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.

Tanggal 02 Januari 2009 dari Baitul Futuh London, U.K.

TENTANG : PENTINGNYA SELAWAT DAN DO’A

Hari ini kita sudah memasuki hari keempat dari bulan Muharram sesuai dengan tanggal 2 bulan Januari 2009. Secara kebetulan Jum’ah pertama tahun Hijri Islam atau Qomari Islam dan Jum’ah pertama tahun Hijri Syamsi juga jatuh pada waktu yang sama. Semoga terjadinya hari Jum’ah pertama pada waktu yang sama menurut kedua kalender ini Allah swt mendatangkan banyak berkah bagi Jema’at Ahmadiya. Dengan kejadian seperti ini saya ingin menganjurkan para anggatau Jema’at untuk banyak-banyak memanjatkan do’a kepada Allah swt sebagaimana terdapat penjelasan-penjelasan didalam buku-buku atau tulisan-tulisan Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan saya juga telah berulang kali menjelaskan didalam khutbah-khutbah bahwa sejak zaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. kedudukan Hari Jum’ah ini sangat erat kaitannya dengan Jema’at Hazrat Masih Mau’ud a.s. Pertama, dunia pada zaman sekarang disebabkan kesibukan dengan masalah duniawi orang-orang Muslim sudah tidak mempunyai anggapan bagaimana pentingnya Hari Jum’at ini. Padahal didalam surah Jum’ah secara khas Allah swt telah mengingatkan orang-orang Muslim tentang pentingnya salat Jum’ah itu, supaya mereka jangan terlibat hanya didalam urusan duniawi saja melainkan mereka harus selalu ingat bahwa segala sumber karunia terletak ditangan Tuhan. Kerana itu mereka harus memperhatikan pentingnya menunaikan ibadah salat Jum’ah. Apabila mereka sudah menyelesaikan ibadah salat Jum’ah itu barulah mereka diperkenankan sibuk lagi didalam urusan dunia mereka sambil mencari karunia Allah swt.

Pada awal surah Jum’ah itu Allah swt telah memberi khabar suka tentang kebangkitan seorang Ghulam Shadiq Hazrat Rasulullah saw dari kaum Akhirin, yang demi menyempurnakan maksud dan tujuan kebangkitan Hazrat Rasulullah saw, beliau menyebarkan ajaran Kitab Suci Al Qur’an keseluruh pelosok dunia agar Missi beliau saw terus berkembang maju. Beliau a.s. juga melakukan tazkiyah-e-nafs (pensucian jiwa) dan mengajarkan hikmah dan pengetahuan agama Islam, supaya dunia bisa mengenal Tuhan mereka dan orang-orang Muslim juga menjadi ummat wahidah (ummat yang bersatu) dan bangsa-bangsa lain dari berbagai jenis kepercayaan yang mempunyai fitrat baik dan suci supaya berhimpun dibawah satu tangan agar menjadi orang-orang yang mampu meraih keridhaan Allah swt.

Berkenaan dengan hal tersebut diatas Hazrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa ; “ Salah satu maksud dan tujuan kebangkitan Hazrat Rasulullah saw adalah takmil-e-din (penyempurnaan agama). Didalam penyempurnaan ini terdapat dua macam keistimewaan,

02

pertama takmil hidayat (menyempurnakan hidayat) dan kedua takmil isya’at hidayat (menyempurnakan penyebaran hidayat). Zaman takmil hidayat adalah zaman awal kehidupan Hazrat Rasulullah saw. Dan zaman takmil isya’at adalah zaman kedua yaitu zaman apabila tiba waktu sempurnanya ayat وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ‌ dan zaman itu adalah zaman sekarang yakni zaman saya atau zaman Masih Mau’ud (Al Masih yang dijanjikan). Itulah sebabnya Allah swt telah mempersatukan zaman takmil-e-hidayat dan takmi-e-isya’at hidayah sehingga menunjukkan suatu pertemuan yang sangat agung. ”

Maksud dari takmil hidayah adalah bersamaan dengan kebangkitan Hazrat Rasulullah saw semua nikmat-nikmat Allah swt baik nikmat duniawi maupun nikmat ruhani telah sampai kepada titik zenitnya (titik paling tinggi). Dan setelah agama ini mencapai kesempurnaan tidak diperlukan lagi kelahiran sebarang agama baru atau sebarang syari’at baru. Bisa saja seseorang berkata bahwa nikmat duniawi belum sampai kepada puncak paling tinggi. Sebab setiap hari penemuan-penemuan baru selalu muncul. Maka hendaklah diketahui bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang Nabi kamil (sempurna) yang telah dibangkitkan oleh Allah swt untuk semua bangsa didunia. Dan beliau adalah Nabi Kamil yang rentang zamannya terus berlangsung sampai hari Qiamat. Dan kepada beliau telah diturunkan sebuah Kitab yaitu Al Quranul Karim yang merupakan Kitab Kamil (sempurna) yang didalamnya mengandungi tarikh-tarikh kuno dan mengandungi hukum-hukum baru dan dari segi duniawi penemuan-penemuan baru apapun yang telah dibukakan sesungguhnya terlebih dahulu telah diisyarahkan didalam Kitab Suci Al Qur’an. Dan berapapun penemuan-penemuan baru yang diperoleh semuanya terdapat isyarah dan bukti dukungannya didalam Kitab Suci Al Qur’an. Bahkan jika para ahli Sains Muslim merenungkannya dan setelah merenungkan jika didalam penelitiannya itu menggunakan referensi dari Kitab Suci Al WQur’an atau dengan menggunakan ilmu yang terdapat didalam Al Qur’an sebagai Khazanah (sumber koleksi) maka akan banyak sekali petunjuk-petunjuknya terdapat didalam Al Qur’anul Karim. Seperti halnya Proffessor Doctor Abdus Salam telah melakukan researchnya melalui Kitab Suci Al Qur’an. Dan sesuai dengan apa yang telah saya katakan berulang kali sebelum ini bahwa sesuai dengan hasil penelitian beliau didalam Kitab Suci Al Qur’an terdapat 700 ratus ayat yang erat kaitannya dengan Sains. Atau dari ayat-ayat itu bisa diperoleh bimbingan. Hal itu adalah hasil penelitian yang telah beliau lakukan. Bisa saja seseorang ahli sains Ahmadi Muslim lain yang menyelami samudera ilmu pengetahuan yang luas itu akan mendapatkan hasil penelitian sains yang lebih besar lagi.

Sehubungan dengan itu Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda :“ Bagaimanapun takmil-e-hidayat (penyempurnaan hidayat) itu telah dilaksanakan melalui Hazrat Rasulullah saw. Tidak ada sebarang ilmu pengetahuan tentang agama, tentang sains, ataupun tentang ruhani yang tidak mencapai kesempurnaan melalui Hazrat Rasulullah saw berkat bimbingan pengatahuan dari Allah swt. Akan tetapi pada zaman itu kebanyakan pengetahuan tentang benda-benda tertentu masih tersembunyi belum nampak kepermukaan. Oleh kerana itu benda-benda itu masih diluar jangkauan pengetahuan orang-orang terdahulu. Akan tetapi dizaman Hazrat

03

Masih Mau’ud a.s. hasil penemuan-penemuan baru bermacam jenis benda khasnya dibidang teknologi menjadi sarana-sarana untuk menyempurnakan penyebar-luasan hidayat. Dengan karunia Allah swt penemuan-penemuan baru yang sangat berfaedah bagi ummat manusia itu membawa faedah sangat besar bagi penyebar luasan ajaran Agama yang dibawa oleh Hazrat Rasulullah saw. Sebagai contoh Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menggunakan mesin-mesin cetak untuk mencetak buku-buku beliau a.s. Pada zaman sekarang kita sudah menyaksikan adanya satelite dan banyak lagi penemuan-penemuan baru lainnya.

Maka di Zaman Hazrat Asyiq Shadiq, Hazrat Masih Mau’ud a.s ini banyak sekali penemuan barang-barang baru yang nampak dihadapan kita dan berkat pertolongannya penyiaran ajaran Agama dapat dilaksanakan dengan mudah. Kesempurnaan Ajaran Al Qur’an atau kesempurnaan ajaran Hazrat Rasulullah saw, kesempurnaan kemuliaan dan martabat beliau saw nampak demikian jelas, sehingga menambah kekuatan iman dan keyakinan setiap orang mukmin. Dan semua fenomena itu telah meningkatkan gerak perhatian kita untuk selalu membaca selawat dan salam kepada Junjungan kita Muhammad Rasulullah saw. Allahumma salli ‘ala Muhammadin wa ‘ala Ali Muhammadin wabarik wasallim innaka hamidum majid.

Seperti telah saya katakan bahwa Jum’ah ini adalah Jum’ah pertama menurut Kalender Hijri dan juga menurut Kalender Syamsi (Masehi). Atau Hari Jum’ah ini adalah hari Jum’ah pertama untuk Kalender Hijri dan juga Jum’ah pertama untuk Kalender Syamsi. Dan Hari Jum’ah ini mempunyai kepentingan yang sangat khas dengan zaman kebangkitan Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Dan hari Jum’ah tahun Islami dan hari Jum’ah tahun Duniawi atau tahun Masehi ini jatuhnya bersama-sama harus menggugah hati kita untuk memanjatkan do’a sebanyak-banyaknya kepada Allah swt. Sistim kalender tahun Qamari dan Kalender tahun Syamsi kedua-duanya ini diciptakan oleh Allah swt. Sebagaimana telah saya katakan bahwa kalender Syamsi (Kalender Masehi) telah terbiasa digunakan oleh umum sebagai pedoman penanggalan sejak zaman dulu yakni sejak zaman permulaan Kristian, yang pada zaman dahulu terkenal dengan nama Kalender Gregorian. Sedangkan kalender Qamari telah digunakan sebagai penanggalan khas orang-orang Islam. Namun kedua sistem penanggalan ini telah diciptakan oleh Allah swt. Sudah saya katakan bahwa para anggauta Jema’at harus benyak-banyak memanjatkan do’a, sebab pada awal abad kedua setelah Hazrat Masih Mau’ud a.s. sekarang Hari Jum’ah pertama telah jatuh bersama-sama pada permulaan tahun kedua kalender itu, baik kalender Syamsi maupun kalender Qamari. Jika perhatian kita selalu ditujukan kepada do’a sepenuhnya dan selalu berusaha melakukan amal-amal saleh sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah-Nya saw, maka kemajuan duniawi secara umum maupun kemajuan ruhaniyat dibidang agama yang telah ditaqdirkan akan diperoleh melalui wujud Hazrat Rasulullah saw, sekarang melalui Khilafat Rasyidah Jema’at Asyiq Shadiq beliau, akan nampak perobahan suasana baru yang sangat gemilang kepada dunia. Insya Allah !

Maka bersatunya tahun atau bulan dalam kedua kalender Syamsi dan kalender Qamari ini yang terjadi pada hari yang berberkat ini adalah juga merupakan salah satu dari pada tanda-

04

tanda bersatunya Jema’at Masih Muhammadi. Mungkin saja pertemuan atau kombinasi kedua hari itu sudah pernah terjadi berulang kali, namun kombinasi sperti ini yang baru terjadi ini baru pertama kali terjadi. Dan insya Allah hal ini merupakan isyarah kepada kemajuan dan kemenangan yang akan diraih oleh Jema’at Ahmadiyah.

Pada zaman sekarang diamana dunia sedang tenggelam didalam berbagai permainan hiburan dan sedang berenang-renang didalam air kotor dan berbabu busuk, setiap orang Ahmadi dan setiap Jema’at disetiap Negara didunia berkewajiban untuk berusaha menerapkan ajaran Kitab Suci Al Qur’an pada diri masing-masing lebih giat dari waktu-waktu sebelumnya. Dan harus berusaha lebih hebat dari sebelumnya untuk memperkenalkan ajaran suci ini terhadap masyarakat sekitar mereka. Dan harus berusaha memandikan orang-orang yang telah berenang-renang didalam air kotor dengan air yang suci bersih dan harus berusaha membuktikan diri sebagai khairu ummat (ummat terbaik) kepada dunia. Hal itu merupakan tanggung jawab yang sangat besar diatas orang-orang Ahmadi dimasa kini.

Jika tanggung jawab itu tidak dilaksanakan dengan sesungguhnya maka kita tidak bisa dikatakan sebagai khairu ummah dan tidak pula layak disebut sebagai hawari hakiki atau pengikut hakiki Masih Muhammadi yang selalu meneriakkan slogan نَحْنُ اَنْصَارُ اللهِ (Kami penolong-penolong Allah) mengumumkan diri siap untuk menolong siapapun dan dalam keadaan bagaimanaun.

Allah swt Yang Maha Perkasa dengan menunjukkan beberapa peristiwa yang dikatakan oleh ahli dunia sebagai kejadian-kejadian biasa, namun sebetulnya merupakan bukti dukungan Allah swt terhadap Jema’at Ahmadiyah, jika pemerhati itu mempunyai mata untuk melihatnya. Sesungguhnya Allah swt sedang mengumumkan, sambil memberi isyarah berupa kejadian- kejadian itu bahwa pertolongan Allah swt kepada Jema’at ini benar-benar sudah dekat sekali . Dan kemenangan serta kejayaan Islam secara menyeluruh sudah berada diambang pintu. Allah swt tidak hanya menguji melainkan setiap telah terjadi percobaan dan ujian itu pintu rahmat dan pintu karunia-Nya akan terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Namun syaratnya adalah kita harus bertahan dan sabar atas segala kesuiltan dan kesusahan, dan kita harus menjadi orang-orang yang lebih merundukkan kepala dihadapan Allah swt dan lebih patuh dari sebelumnya dalam menta’ati perintah-perintah-Nya. Supaya puncak tujuan akhir akan semakin dekat untuk dicapai.

Maka pada hari ini bertepatan dengan Bulan Muharram dan hari Jum’ah pertama tahun ini saya anjurkan agar setiap anggauta Jema’at Ahmadiyah diseluruh dunia, anak-anak, orang tua, lelaki perempuan, tua muda dengan gejolak semangat baru dan ruhani baru harus mengadakan perobahan suci pada diri masing-masing dan menunjukkan keindahan setiap amal-perbuatan masing-masing sehingga menggerakkan Tuhan Pemilik Arasy untuk menghulurkan cinta-kasih-Nya. Timbulkanlah kekhusyuan didalam berdo’a sehingga Tuhan Langit dan Bumi, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Gagah Perkasa, Tuhan Mujibud da’waat mengabulkan do’a-do’a kita sehingga kita bisa menyaksikan didalam kehidupan kita juga

05

bahwa bendera Hazrat Rasulullah saw berkibar disetiap pelosok dunia dan menyaksikan kebangkitan sebuah revolusi yang agung diatas permukaan bumi. Demi kemakbulan do’a sempena masuknya bulan Muharram ini saya ingin mengatakan bahwa pada hari-hari ini dan pada bulan ini harus banyak-banyak menaruh perhatian untuk membaca selawat kepada Junjungan Nabi Kita Muhammad saw sebanyak-banyaknya kerana itulah resep untuk kemakbulan do’a yang telah diberitahukan oleh Hazrat Muhammad saw sendiri. Dan Asyiq Sadiq Hazrat Rasulullah saw yakni Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah memberi contoh secara amaliah dan menjelaskan berkat-berkat dari pada selawat dan salam kepada Nabi saw dan beliaupun telah menganjurkan kepada kita secara khas untuk banyak-banyak membaca selawat dan salam kepada Junjungan Nabi Muhammad saw. Akan tetapi harus selalu diingat mutu pelaksanaan selawat dan salam itu harus ditingkatkan agar faedah dari membaca selawat itu bisa benar-benar dirasakan oleh kita. Dan diwaktu sedang mengirim selawat dan salam kepada Hazrat Rasulullah saw itu kitapun harus betul-betul mengenal ketinggian maqom atau ketinggian kedudukan martabah beliau saw.

Adapun hadis-hadis yang menceritakan pentingnya membaca darood (selawat) kepada Nabi saw, beberapa diantaranya akan saya kemukakan pada waktu ini. Terdapat riwayat dari Abu Talha Ansari r.a. pada suatu hari ketika Rasulullah saw datang dipagi hari nampak sekali dari air muka beliau bahwa beliau sedang merasa gembira dan ceriah sekali. Seorang sahabah bertanya : Ya Rasulallah ! Pada hari ini nampak kepada kami Huzur sedang dalam keadaan gembira sekali ! Beliau bersabda : “ Ya betul ! Allah swt telah mengirim seorang Malaikat dan berkata kepada saya, bahwa seseorang diantara ummat engkau yang membaca selawat satu kali dengan sangat baik sekali maka sebagai ganjarannya Allah swt menuliskan sepuluh macam kebaikan baginya.” Dan disini Huzur saw bersabda : Yang membaca selawat dengan sangat baik sekali maka sepuluh macam keburukan atau dosanya juga akan diampuni. Yakni akan dituliskan sepuluh kebaikan dan akan dima’afkan sepulum macam dosa-dosanya dan ia akan ditingkatkan derajatnya sepuluh kali lebih tinggi. Dan Allah swt akan menurunkan rahmat-Nya sesuai dengan yang dia minta dari pada-Nya.

Jadi kegembiraan Hazrat Rasulullah saw terhadap ummat beliau disebabkan zahirnya rahmat dari Allah swt. Maka kewajiban kita adalah harus maju untuk meraih rahmat itu, dengan hati yang ikhlas kirimlah selawat kepada Hazrat Rasulullah saw, sediakanlah sarana untuk pengampunan dosa masing-masing. Dan dimasa hadapan harus berusaha memohon taufiq dari Allah swt untuk melakukan amal-amal kebaikan. Dengan menarik rahmat Allah swt kita akan mampu memperbaiki keadaan duniawi dan ruhani pribadi sendiri.

Terdapat didalam sebuah riwayat lagi yang diceritakan oleh Hazrat Abu Bakar Siddiq r.a. katanya Rasulullah saw bersabda : “ Orang yang mengirim selawat kepada saya maka saya akan memberi syafa’at kepadanya pada hari Qiamat.” Demikianlah martabah yang diterima oleh orang-orang selalu mengirim darood (Selawat) kepada Rasulullah saw. Martabah ditinggikan, dosa-dosa dima’afkan dan Hazrat Rasulullah saw bersabda : “Aku akan memberi

06

syafa’at kepadanya.” Akan tetapi, apakah orang yang akan diberi syafa’at oleh Rasulullah saw itu disebabkan ia selalu mengirim selawat kepada beliau saw didalam hatinya bisa menyimpan rasa benci atau dendam kepada orang lain? Apakah orang yang mempunyai perangai seperti itu bisa mendapat syafa’at dari Rasulullah saw ? Apabila kita mengucapkan selawat : اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَّعَلى آلِ مُحَمَّدٍ apakah bisa mempunyai perangai yang bertentangan dengan hazrat Rasulullah saw misalnya benci atau dendam kesumat ? Jika orang-orang Muslim faham kepada perkara ini tentu huru-hara dan perkelahian antar sesama orang Muslim akan terkikis habis. Untuk meraih syafa’at dari Hazrat Rasulullah saw dan untuk meraih martabah ruhani yang tinggi tentu manusia harus selalu mengirim selawat dan salam kepada beliau saw. Dan untuk mengamalkan hal itu tentu kebencian dan permusuhan atau dendam antar sesama harus dihapuskan. Apakah syafa’at Hazrat Rasulullah saw bisa diterima oleh orang-orang yang mulut mereka membaca selawat dan salam sedangkan hati mereka penuh dengan kebencian? Padahal Hazrat Rasulullah saw datang untuk menjalin kasih sayang satu sama lain, sebagaimana Allah swt berfirman : رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ mereka saling mengasihani satu sama lain. Apakah keadaan orang-orang Muslim zaman sekarang sesuai dengan ayat tersebut mempunyai rasa kasih-sayang satu sama lain ?

Sekarang kita berada didalam bulan Muharram, setiap tahun kita mendengar dibeberapa tempat terjadi peristiwa-peristiwa penyerangan terhadap orang-orang Syi’ah yang sedang melakukan ta’ziyah. Ditempat lain terjadi kerusuhan. Di Pakistan kebanyakan para Mullah dan orang-orang yang dianggap Ulama penyandang ilmu-ilmu agama, apabila mereka berdiri diatas mimbar diharapkan untuk menyempurnakan sunnah Hazrat Rasulullah saw menyampaikan amanat mahabbat dan kecintaan kepada masyarakat, akan tetapi sebaliknya orang-orang yang doyan bercakap-cakap diatas awan ini menyiarkan pesan-pesan kebencian dan permusuhan dari atas mimbar Hazrat Rasulullah saw itu. Yang seharusnya mereka menjadi para duta penyebar kecintaan dan kedamaian, malah sebaliknya menjadi para dewala penyabar kebencian dan permusuhan. Oleh sebab itulah Pemerintahan Pakistan telah mengumumkan dengan tegas didalam surat-surat khabar bahwa Para Mullah banyak yang dilarang pergi ketempat-tempat dimana mereka suka berbuat onar. Mereka dilarang mengunjungi daerah-daerah itu untuk waktu tak terbatas supaya didalam hati masyarakat disana tidak dicemari rasa kebencian terhadap satu sama lain.

Demikianlah keadaan orang-orang zaman sekarang disana, yang disatu pihak mereka menggembor-gemborkan ajaran Al Qur’an dan Hadis atau Sunnah Rasulullah saw sedangkan difihak lain mereka menanamkan benih-benih kebencian didalam hati masyarakat. Bahkan mereka mendirikan kubu-kubu kebencian antara kelompok masyarakat satu dengan yang lainnya. Setiap tahun hal seperti itu menjadi adat kebiasaan amal mereka. Sehingga terpaksa Pemerintah melancarkan larangan tegas terhadap mereka.

Kemudian terjadi pula kerusuhan di Karbalah. Orang-orang Syiah diserang, sebagai tindak balas orang-orang Syiah-pun menyerang orang-orang Sunni. Untuk melerai mereka ini

07

Pemerintah disana terpaksa membentuk Komite Ulama supaya jangan terjadi kerusuhan diseluruh negeri. Jika bulan Muharram ini berlalu dengan tenang juga, namun tidak lama kemudian timbul juga kebencian dikedua belah kelompok, timbul slogan-slogan yang membawa kebencian satu sama lain. Disana setiap tahun bahkan sepanjang tahun terjadi kerusuhan-kerusuhan diberbagai tempat antara kedua kelompok Sunni dan Syiah ini. Padahal mereka ini secara zahirnya orang-orang Muslim dan rajin membaca selawat juga kepada Hazrat Rasulullah saw. Sekarang fikirlah apakah Hazrat Rasulullah saw akan mengumumkan untuk memberi syafa’at kepada orang-orang seperti mereka ini ? Hal ini harus mendapat perhatian !

Karena keadaan mereka sudah seperti itu maka kewajiban kitalah untuk berdo’a dan membaca selawat sebanyak-banyaknya agar mereka menjadi para penyampai amanah Rasulullah saw yang sejati. Dengan menamakan diri sebagai ummah Nabi Muhammad saw mereka harus memahami betul hakikat membaca selawat itu. Mereka harus memahami betul pentingnya membaca selawat itu. Pada masa ini dunia Islam dalam situasi yang sangat berbahaya sekali, Ummat Muslimah harus menunjukkan contoh persatuan dan kesatuan yang erat supaya pandangan para musuh dengan mata kotor terhadap Islam tidak akan mencelakakan mereka.

Apabila kita membaca selawat dengan mengucapkan selawat kepada آ لِ رَسُولِ maka hubungan phisikal dan spiritual juga meresap kedalam kalbu kita terhadap orang-orang yang mempunyai hubungan kecintaan dengan Nabi Muhammad saw itu. Mereka yang mempunyai hubungan darah dengan Hazrat Rasulullah saw mereka menjadi para pengikut beliau saw yang baik dan mukhlis, mereka memiliki martabah keruhanian yang sangat tinggi. Maka didalam hati orang-orang Muslim sejati tidak mungkin akan timbul fikiran untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh terhadap mereka itu, bahkan diwaktu membaca selawat juga mereka berdiri dengan sangat hormat. Demikian juga para sahabah Hazrat Rasulullah saw, tidak menghiraukan jiwa mereka sendiri melayang dikala sedang bertahan menyelamatkan jiwa Hazrat Rasulullah saw, mereka menghadangkan dada mereka dihadapan musuh laksana perisai demi menjaga keselamatan beliau saw dari bahaya serangan panah-panah musuh yang menghujani beliau saw. Seorang sahabah beliau disa’at situasi sangat genting sekali dari sergapan musuh ketika beliau berdua berada didalam sebuah Gua beliau bersabda kepada sahabah itu لاَ تَحْذَنْ اِنَّ اللهَ مَعَناَ jangan gentar, sesungguhnya Allah bersama kita. Dan Allah swt telah menuliskan peristiwa itu didalam Kitab Suci Al Qur’an yang maksudnya Dia telah menyatakan Hazrat Abu Bakar sebagai teman Hazrat Rasulullah saw yang sangat istimewa untuk selama-lamanya. Dan Allah swt telah menjadikan karunia-karunia-Nya sebagai teman istimewa dikala Hazrat Abu Bakar r.a. menyertai Hazrat Rasulullah saw dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Maka melempar kata-kata yang tidak pantas atau tidak senonoh terhadap wujud sahabah yang mempunyai reputasi martabah tinggi bukanlah pekerjaan orang

08

Muslim. Keluarga Hazrat Abu Bakar r.a. mempunyai hubungan darah serta hubungan ruhani yang sangat dalam dengan Hazrat Rasulullah saw sehingga kedudukan beliau yang istimewa telah ditegakkan.

Sekarang menjadi tugas kita untuk banyak memanjatkan do’a dan membaca selawat sebanyak-banyaknya kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw sebab diatas muka bumi ini telah berdiri dinding-dinding kebencian, dengan menamakan diri orang Muslim mereka menanamkan benih kebencian dimana-mana. Dan disertai perasaan simpati hendaklah kita memanjatkan do’a bagi ummat Muhammadiyah juga, semoga Allah swt menjadikan mereka para pembaca selawat sejati dengan memahami makna hakiki dari pada selawat itu. Supaya orang-orang Muslim menyaksikan sendiri dengan nyata pemandangan ayat رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ mereka saling mengasihani satu sama lain. Mendo’akan mereka juga merupakan kewajiban kita semua.

Penjelasan yang telah Hazrat Masih Mau’ud a.s. berikan mengenai berkat-berkat membaca selawat dan mengenal martabah para ahli bait Rasulullah saw akan saya jelaskan disini. Beliau a.s. bersabda : “ Pada suatu ketika turun ilham kepada saya yang artinya bahwa para Malaikat Allah swt sedang turun, keinginan dan semangat Ilahi untuk menghidupkan kembali agama sedang bergelora melalui seseorang hamba pilihan-Nya. Semangat Allah swt untuk menghidupkan kembali agama tengah bergelora. Akan tetapi para Malaikat Allah belum mengetahui siapa orangnya yang akan menghidupkan kembali Islam itu. Masih belum jelas betul siapa orangnya yang akan menciptakan kehidupan baru didalam agama itu. Ditengah-tengah situasi demikian saya melihat didalam kasyaff bahwa orang-orang sedang sibuk mencari siapa yang akan menghidupkan agama itu. Kemudian datanglah seseorang dihadapan saya dan sambil menunjuk saya ia berkata : هَذَا رَجُلٌ يٌحِبُّ رَسُوْلَ اللهِ inilah orangnya yang mencintai Hazrat Rasulullah saw ! Maksud dari pernyataan ini adalah syarat yang paling besar dan paling utama bagi kedudukan orang itu adalah kecintaan terhadap Rasulullah saw.” Yakni syarat utama bagi orang yang akan menghidupkan atau yang akan menjadi reformer agama itu adalah orang yang paling tinggi kecintaannya terhadap Rasulullah saw dan dia sangat mustahak untuk menyandang tugas itu. Beliau a.s. selanjutnya bersabda : Didalam ilham yang sama dengan yang tersebut diatas telah disebutkan sebuah selawat yang berbunyi :

صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وُلْدِ آدمَ وَخَاتَمَ النَّبِيّيِْنَ

Demikianlah ilham sebelumnya yang mengandungi perintah kepada ahli bait Rasul untuk membaca selawat itu. Maka didalam selawat ini juga terdapat rahasia bahwa untuk meraih barkat nur Ilahi itu kecintaan terhadap ahli bait Rasul juga mempunyai kedudukan yang sangat agung. Dan orang yang masuk kedalam kelompok muqarrabiin ahadiyat (orang-orang yang sangat dekat dengan Allah swt) mereka mendapat warisan tayyibin dan tahirin (orang-orang salih dan suci). Dan mereka menjadi ahli waris semua ilmu pengetahuan dan ma’rifat.” Sampai disini saya ingat kepada sebuah kasyaf yang sangat jelas yaitu, pada suatu hari setelah sembahyang Maghrib antara keadaan bangun dan keadaan ghaib seperti keadaan sedang

09

mabuk nampak kepada saya sebuah pemandangan alam yang sangat menghairankan. Mula-mula terdengar suara langkah orang banyak sedang datang, terdengar suara derap kasut (sepatu) mereka, maka pada waktu itu juga lima orang yang sangat tegap dan simpatik serta tampan datang dihadapan saya, yaitu Rasulullah saw, Hazrat Ali, Hazrat Hasan dan Hazrat Husein serta Hazrat Fatimah Zahrah r.a. Kemudian saya melihat Hazrat Fatimah Zahra dengan penuh kecintaan seperti seorang ibu terhadap anaknya meletakkan kepala hamba yang lemah ini diatas paha beliau r.a. Setelah itu beliau memberi sebuah kitab kepada saya sambil berkata inilah Tafsir Al Qur’an yang telah disusun oleh Ali r.a. dan sekarang Hazrat Ali r.a. sendiri memberikan Tafsir itu kepada saya, alhamdulillah ‘ala zalik !!”

Itulah sebuah kasyaf Hazrat Masih Mau’ud a.s. Banyak orang-orang ghair telah menyatakan keberatan atau kritikan yang dilebih-lebihkan terhadap kasyaf ini bahwa Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah melakukan penghinaan terhadap Hazrat Fatimah Zahra r.a. Sebetulnya keritikan itu sendiri menunjukkan kekotoran atau keburukan fitrat pengeritik itu sendiri yang mengatakan bahwa Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah melakukan penghinaan terhadap Hazrat Fatimah r.a. Para Maulvi yang melemparkan tuduhan jahat itu tidak menjelaskan susunan kalimah-kalimah sepenuhnya kepada masyarakat awam. Sedangkan masyarakat awam juga disebabkan kebodohan atau mereka telah dijadikan buta oleh para Maulvi dengan menambah-nambah fakta yang diselewengkan sehingga mereka tidak mau mendengar atau tidak mau melihat bagaimana keadaan sesungguhnya peristiwa itu terjadi. Para Maulvi hanya menyebutkan sepotong kalimah berikut : Mirza Saheb telah meletakkan kepala beliau diatas paha Hazrat Fatimah r.a.

Disebabkan hati mereka itu penuh dengan hayalan-hayalan jahat dan kotor, maka kotoran itu tidak mau keluar dari dalam hati mereka. Padahal Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa : Dengan kecintaan dan kasih sayang seperti seorang ibu terhadap anaknya Hazrat Fatimah Zahra r.a. telah meletakkan kepala hamba yang lemah ini diatas paha beliau r.a. Sekarang apa artinya perkataan kasih sayang seorang ibu atau ibu yang penyayang ? Dengan mengucapkan perkataan kasih sayang seorang ibu bisakah timbul hayalan atau fikiran kotor ? Hayalan atau fikiran kotor itu hanyalah timbul didalam benak para Maulvi yang mempunyai fitrat jahat dan kotor.

Didalam semua kisah kasyaf dan ilham itu, pertama-tama bisa diketahui martabah dan kedudukan Hazrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Masih dan Mahdi itu. Bahwa martabah itu diperoleh berkat selawat yang beliau krimkan dengan kemabukan cinta yang tak terperikan kepada Hazrat Rasulullah saw. Keduanya beliau sendiri bersabda : Ilham ini صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ mengandung satu rahasia bahwa jika ingin untuk meraih nur-nur dari Hazrat Rasulullah saw maka mencintai para ahli bait juga sangat perlu sekali. Dan untuk menjadi muqarrab Allah swt (orang sangat dekat dengan Allah swt) juga sangat perlu memperoleh warisan orang-orang suci dan orang-orang ma’sum (orang-orang yang disucikan Allah swt). Maka sudah pasti orang-orang yang menjadi muqarrab Allah swt itu mengikuti langkah-langkah kehidupan orang-

10

orang suci dan ma’sum itu. Disebabkan mereka mencintai orang-orang yang dicintai Rasulullah saw maka Allah swt memberi mereka kedudukan sangat dekat dengan-Nya. Jadi, itulah kecintaan sejati mereka karena mereka mencintai orang-orang yang dicintai oleh kekasih mereka, Rasulullah saw. Dan jika orang-orang Muslim faham betul tentang noktah tersebut tentu mereka tidak akan mempunyai perasaan benci terhadap sesiapapun. Memang benar kebencian yang Para Mullah sebarkan itu maksudnya untuk mempertahankan kepentingan pribadi mereka sendiri dan demi mempertahankan egotisme mereka sendiri. Dalam penyebaran kebencian itu mereka menggunakan nama-nama tokoh leluhur atau orang suci tertentu sebagai target mereka. Padahal orang suci itu adalah orang yang sepanjang masa hidupnya menjadi contoh tauladan yang sangat baik dalam menampilkan رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ mereka saling mengasihani satu sama lain. Jadi, perkara ini harus menjadi bahan renungan bagi masyarakat awam, sebelum mereka secara membabi buta turut ambil bagian dalam aksi penyebaran fitnah yang dipimpin oleh para Maulvi itu. Sebaiknya mereka harus menggunakan akal terlebih dahulu untuk melihat keadaan yang sebenarnya.

Diantara do’a-do’a yang telah diajarkan oleh Hazrat Rasulullah saw kepada kita untuk meraih kecintaan Allah swt , beliau juga memilih do’a orang lain yang menjadi sarana untuk meraih kecintaan Allah swt, misalnya sebuah do’a yang telah beliau ajarkan kepada kita sebagai berikut : اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِى حُبَّكَ وَ حُبَّ مَنْ يَّنْفَعُنىْ حُبَّهُ عِنْدَكَ artinya : Wahai Tuhan kami !! Anugerahkanlah kecintaan Engkau kepada kami dan kecintaan orang yang mendatangkan faedah kepadaku disisi Engkau. Dan kecintaan yang paling banyak mendatangkan faedah bagi kita adalah kecintaan Hazrat Rasulullah saw yang bisa membawa kita dekat dengan Allah swt. Dan sesungguhnya melalui kecintaan orang-orang itu juga yang dicintai oleh Hazrat Rasulullah saw bisa membangkitkan kecintaan kita terhadap Allah swt. Disini tugas kewajiban kita adalah mengikuti setiap perintah dan amalan yang dilakukan oleh Hazrat Rasulullah saw. Dan disini perlu juga diketahui bahwa orang-orang yang dicintai oleh beliau saw kitapun harus mencintai beliau-beliau itu. Banyak sekali riwayat yang menjelaskan kepada kita dimana Hazrat Rasulullah saw mencintai keluarga jasmani dan keluarga ruhani, yakni beliau saw mencintai keluarga jasmani yang mempunyai hubungan keluarga ruhani juga, disana keluarga ruhani, yaitu putra-puteri beliau, para sahabah, beliau juga mencintai mereka. Beliau akan merasa gembira jika ummat beliau mengirim selawat kepada beliau sebab Allah swt akan menurunkan rahmat kepada mereka. Karenanya beliau sangat gembira sekali. Bukan hanya para sahabah yang ada diwaktu beliau hidup, melainkan semua manusia yang mengirim selawat kepada Hazrat Rasulullah saw sampai Qiamat beliau saw sangat gembira sekali kepada mereka, sebab Allah swt akan menurunkan rahmat kepada mereka. Kegembiraan akan sampai kepada beliau jika kita membaca selawat dengan kecintaan yang sesungguhnya kepada beliau. Jika orang-orang Muslim faham betul kepada masalah yang asas ini maka tidak akan pernah terjadi sebarang kerusuhan diantara mereka. Tidak akan pernah terjadi penyerangan terhadap sebarang mesjid orang lain. Tidak akan terjadi larangan terhadap para Ulama di Pakistan

11

didalam bulan Muharram ini untuk mendatangi tempat-tempat tertentu dinegara Pakistan.

Namun demikian tugas kewajiban kita adalah mendo’akan terus-menerus untuk kebaikan mereka itu. Orang-orang Muslim juga harus berfikir, mengapa pada zaman dahulu pernah berlaku pergaulan yang sehat dan erat, saling hormat-menghormati, cinta mencintai satu sama lain dengan lemah-lembut, namun sekarang diberbagai kelompok, diberbagai tingkatan masyarakat, diberbagai macam keluarga timbul slogan-slogan kebencian yang tidak dapat diatasi. Atas pengaruh siapa yang telah membinasakan ummat ini ? Pembangkangan dan penyelewengan sudah terbiasa dikalangan mereka ini. Akibatnya mereka tengah menerima hukuman dari Allah swt. Mereka harus berfikir berulang kali bagaimana caranya untuk memulihkan kembali wajah Islam yang sejati untuk diperlihatkan kepada dunia. Mereka harus meneropong kelemahan-kelemahan mereka pribadi masing-masing kemudian berusaha untuk memperbaikinya.

Sekali lagi saya ingin menganjurkan kepada setiap orang Ahmadi agar banyak-banyak membaca selawat didalam bulan Muharram ini dan banyak-banyaklah memanjatkan do’a untuk keselamatan dan perlindungan Ummat Muslimah ini dari setiap jenis perselisihan, permusuhan, kebencian dan dari berbagai macam pergaduhan antar sesama mereka. Dan tunjukkanlah kecintaan yang hakiki dan tak ada bandingannya terhadap keluarga besar Hazrat Rasulullah saw dan kepada para sahabah beliau r.a. serta kepada semua orang yang dicintai oleh Junjungan kita Nabi Muhammad saw. Semua putera-puteri jasmani beliau yang juga memiliki hubungan ruhani sangat erat dengan beliau saw, mereka semuanya benar-benar mempunyai hak untuk kita cintai. Tentang Hazrat Husen r.a. Hazrat Masih mau’ud a.s. bersabda : “ Husen r.a. seorang yang tahir dan muttahhar (orang suci dan ma’sum) dan tidak ragu lagi bahwa beliau r.a. adalah salah satu dari orang-orang terpilih yang telah disucikan oleh Allah swt. Dan dengan kecintaan-Nya beliau telah diperintah-Nya dan tidak ragu lagi bahwa beliau adalah salah seorang dari para petinggi ahli Syurga. Dan siapapun yang menaruh rasa dengki sekecil apapun terhadap beliau r.a. bisa menyebabkan hancurnya iman. Iman, Taqwa dan kecintaan Imam ini terhadap Tuhan, kesabaran, istiqamah, zuhud dan ibadah beliau merupakan uswah hasanah (teladan yang sangat baik) bagi kita semua. Binasalah hati yang menyimpan rasa benci dan permusuhan kepada beliau r.a. Dan berjayalah hati yang secara amaliah mencintai beliau r.a.”

Hendaknya kecintaan seperti itulah kepada Hazrat Husen r.a. yang harus diperhatikan dan dimiliki oleh setiap orang Ahmadi, sebagaimana telah diajarkan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. kepada kita. Demikian juga kecintaan terhadap para sahabah r.a. harus tetap bersemayam didalam hati kita. Sehubungan dengan itu Hazrat Masih Mau’ud a.s telah bersabda : “ Kecintaan terhadap Hazrat Abu Bakar, Hazrat Umar, Hazrat Usman dan Hzrat Ali r.a. bersemayam dengan teguh didalam hati sanubari kita semua. Kita harus mencintai Rasulullah saw dan orang-orang yang mencintai beliau saw. Sambil menjelaskan martabah para sahabah

12

Hazrat Rasulullah saw, Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Para sahabah r.a. telah menunjukkan kesetiaan dan ketulusan sejati dijalan Allah swt dan Rasul-Nya sehingga mereka mendengar suara pujian dari Allah swt dengan firman-Nya : رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ yakni Allah telah ridha kepada mereka dan mereka telah ridha kepada-Nya ( Allah). Dengan demikian para sahabah telah meraih derajat dan martabat yang sangat tinggi, yakni Allah telah ridha kepada mereka dan mereka telah ridha kepada-Nya ( Allah).

Berkenaan dengan Hazrat Abu Bakar Siddiq r.a. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Beliau adalah mazhar (penampakan wujud) Hazrat Adam, yakni beliau adalah Adam kedua. Sekalipun beliau bukan seorang Nabi, namun didalam wujud beliau mempunyai daya kekuatan dan kemampuan Nabi dan Rasul. Yakni beliau r.a. adalah mazhar Hazrat Rasulullah saw. ”

Berkenaan dengan Hazrat Umar r.a beliau a.s. bersabda : “ Tentang beliau terdapat hadis mengatakan bahwa : Syaitan lari ketakutan melihat bayangan Umar r.a. Hadis kedua mengatakan : Jika ada Nabi sesudah-ku tentu Umar r.a. menjadi Nabi.” Hadis ketiga : Didalam Ummat sebelum Islam selalu terdapat para Muhaddas (Allah swt berbicara dengannya) jika didalam ummatku ada Muhaddas tentu Umar r.a. menjadi Muhaddas. Bagi kita semua orang yang menjadi kekasih Rasulullah saw menjadi kekasih kita juga.”

Semoga Allah swt memberi taufiq kepada Ummat Muslimah ini untuk menghapus segala macam perselisihan dan perpecahan. Pada masa ini tengah terjadi berbagai macam perlawanan yang sangat keras dari fihak luar. Kita semua harus bergabung menjadi satu kemudian runduk dihadapan Allah swt samabil memohon do’a kepada-Nya.

Pada sa’at ini peperangan yang tengah terjadi antara Falestina dan Israil,disebabkan tidak adanya bimbingan yang benar dan tepat sehingga orang-orang Falestina tengah menghadapi banyak kehilangan dan kerugian. Mereka tengah membuat kerugian sendiri. Pada zaman ini bimbingan terhadap Ummat Islam diberikan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. yaitu janganlah berperang atas nama agama. Jika ada yang berperang atas nama agama mereka tidak akan mendapat kejayaan. Peperangan yang tengah berlangsung ini keadaannya tidak seimbang. Akalpun menghendaki agar semua perkara diselesaikan melalui perundingan, supaya jiwa orang-orang tak berdosa bisa diselamatkan dan tidak menjadi sia-sia. Serangan-serangan Israil ditujukan kearah orang-orang yang ma’sum tak berdosa. Memang betul diantara sasaran mereka tepat kepada yang dituju namun banyak sekali jiwa orang-orang tidak berdosa telah melayang. Dinegeri ini juga melalui surat-surat khabar mulai ribut mempermasalahkan. Mereka mengatakan kepada Israil, untuk membalas kematian seorang kamu telah membunuh seratus lima puluh orang. Orang-orang yang akan dikenakan tindakan oleh Allah swt atau akibat apa yang akan mereka hadapi, bukan dengan peperangan, melainkan Allah swt dengan taqdir-Nya akan memberi keputusan sendiri. Bagaimana caranya hanya Tuhan-lah Yang lebih mengetahuinya. Demikianlah apa yang telah difirmankan oleh Allah swt didalam Al Qur’anul Karim. Jika orang-orang Falestina hendak mempertahankan diri dan jika ada uluran pertolongan dari orang-orang Muslim maka caranya lakukanlah dengan

13

merundukkan kepala dihadapan Allah swt kemudian mintalah pertolongan kepada Allah swt melalui do’a-do’a. Tidak syak lagi Allah swt akan menangkap orang-orang zalim dan Dia tidak akan membiarkan mereka. Akan tetapi orang-orang Muslim serta orang-orang Falestin juga berkewajiban untuk mengenal seruan dari Imam Zaman sekarang ini.

Dinegeri ini bila saja saya mendapat kesempatan untuk berkata dihadapan orang-orang mazhab lain maka saya katakan bahwa jika keadilan diabaikan dan tuntutannya tidak dipenuhi sebaik-baiknya maka kalian akan terus-menerus terlibat didalam api peperangan yang sangat dahsyat dan menakutkan. Hanya dengan melakukan kezaliman terhadap orang-orang yang tidak berdosa kalian tidak akan mendapat keselamatan, kekuatan kalian tidak akan memberi keselamatan. Maka saya katakan kepada mereka berusahalah untuk menyelamatkan kehancuran anak keturunan kalian dan tegakkanlah keadilan. Semoga negara-negara besar adi kuasa menjadi bangsa-bangsa yang menegakkan keadilan, jika tidak masalah perang ini bukan hanya masalah perang antara kedua negara namun akan melibatkan negara-negara besar sehingga menjadi perang global yang sangat dahsyat dan mengerikan yang kesan-kesannya secara zahir sudah nampak sekali. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada setiap orang Ahmadi untuk banyak-banyak membaca selawat dan memanjatkan do’a-do’a kepada Allah swt, supaya bisa menjadi penyelamat dari kehancuran dunia. Semoga manusia didunia memahami masalah ini dan semoga selamat dari kehancuran.

Semoga tahun baru ini menjadi tahun turunnya rahmat dan barakat yang sebanyak-banyak diatas Jemat ini dan semoga dengan karunia Allah swt kita bisa menyaksikan kemenangan dan kejayaan yang akan dilimpahkan kepada Jema’at ini. Semoga Allah swt dari segala segi tahun baru ini menurunkan berkat-berkat-Nya kepada Jemat Ahmdiyah seluruhnya. Amin !!!

Alih Bahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

Januari 21, 2009 Ditulis oleh mkaiserang | KHUTBAH JUM’AH | | No Comments Yet