Mkaiserang

KEGIATAN PEMUDA AHMADIYAH

BERATNYA MEMIKUL AMANAT (SYARIAT ISLAM)

HAKIKAT DAN HIKMAH PERNIKAHAN

DALAM ISLAM

Bagian XII

BERATNYA MEMIKUL AMANAT (SYARIAT ISLAM)

oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا()لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا()

“Sesungguhnya telah Kami tawarkan amanat syariat kepada seluruh langit dan bumi dan gunung-gunung, namun mereka semuanya enggan memikulnya dan merasa takut terhadapnya. Akan tetapi insan memikulnya. Sesungguhnya ia (sanggup dan mampu berbuat) aniaya (dan) abai (terhadap dirinya sendiri)” (Al Ahzab, 73).

Pada Bab XI telah dijelaskan mengenai pernikahan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Siti Zainab r.a. yang sangat rawan fitnah, bahkan dapat dianggap akan merugikan perjuangan suci Nabi Besar Muhammad saw, yaitu menegakkan ajaran Islam (Al-Quran).

Namun demikian, bagi Nabi Besar Muhammad saw. dalam melaksanakan amanat (perintah) Allah Ta’ala, pernikahan beliau saw. dengan janda (bekas) istri anak angkat beliau saw. (Zaid bin Haritsah r.a.) tak ada masalah ketakutan atau malu dalam hati beliau saw..

Oleh karena itu benarlah pernyataan Allah Ta’ala dalam ayat-ayat terakhir surah Al Ahzab bahwa kecuali Insan Kamil (manusia sempurna), yakni Nabi Besar Muhammad saw., seluruh langit, bumi dan gunung-gunung telah menolak dan merasa enggan serta takut menerima “tawaran” Allah Ta’ala untuk “memikul” (melaksanakan) amanat (ajaran Islam),

Beratnya Memikul Amanat (Syariat Islam)

Kenapa demikian? Sebab untuk melaksanakan (mengamalkan) ajaran-ajaran Islam (Al-Quran) diperlukan sikap zhalum” (aniaya) dan “jahul” (abai) terhadap diri sendiri, dan dari seluruh umat manusia – bahkan dari seluruh Rasul Allah – hanya Nabi Besar Muhammad saw. sajalah yang mampu melaksanakannya, sekali pun beliau saw. harus menghadapi kenyataan yang dapat menimbulkan fitnah serta menjadi batu sandungan” bagi orang-orang yang berhati bengkok. Contohnya adalah pernikahan beliau saw. dengan Siti Zainab r.a., janda Zaid bin Haritsah r.a., anak angkat beliau saw.

Sebagaimana firman-Nya di awal uraian ini, mengenai kesempurnaan Nabi Besar Muhammad saw. dalam “memikul” (mengamalkan) amanat syariat (hukum-hukum Al-Quran) dalam kehidupan beliau saw. tersebut Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا()لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا()

“Sesungguhnya telah Kami tawarkan amanat syariat kepada seluruh langit dan bumi dan gunung-gunung, namun mereka semuanya enggan memikulnya dan merasa takut terhadapnya. Akan tetapi insan memikulnya. Sesungguhnya ia (sanggup dan mampu berbuat) aniaya (dan) abai (terhadap dirinya sendiri)” (Al Ahzab, 73).

Berikut ini adalah firman Allah Ta’ala yang menggambarkan ketidak-sanggupan Nabi Musa a.s. seandainya agama Islam (Al-Quran) – yang merupakan agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (Qs.5:4) — diturunkan pada zaman Nabi Musa a.s. maupun pada zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ()وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan Kami menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam dan Kami menggenapkan malam itu dengan sepuluh maka sempurnalah waktu yang dijanjikan Tuhan-nya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya, Harun, “Wakililah aku di kalangan kaumku dan perbaikilah mereka dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang menimbulkan kerusakan. Dan ketika Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Tuhan-nya bercakap-cakap dengannya, ia berkata, “Ya Tuhan-ku, tampakkanlah kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan pernah dapat melihat Aku, tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya maka engkau akan dapat melihat Aku.” Maka tatkala Tuhan-nya menampakkan Diri-Nya di atas gunung itu, Dia menjadikannya hancur-lebur, dan Musa pun jatuh pingsan. Maka ketika ia sadar kembali ia berkata, “Maha Suci Engkau, aku taubat kepada Engkau dan aku orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini .” (Al-A’raaf, 143-144).

Hakikat “Pingsannya” Nabi Musa a.s. Ketika

Menyaksikan Kehebatan Penampakan Kekuasaan Allah Ta’ala

Pengalaman ruhani yang dialami oleh Nabi Musa a.s. tersebut erat hubungannya dengan pemberitahuan Allah Ta’ala kepada Nabi Musa a.s. tentang nubuatan kedatangan rekan beliau a.s. yang akan dibangkitkan dari Bani Ismail, yakni Nabi Besar Muhammad saw. yang disebut oleh Allah Ta’ala dalam Bible dan Al-QuranNabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:18-19; Qs.46:11).

Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) menyebut Nabi Besar Muhammad saw. dengan ungkapan “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” atau “Roh Kebenaran” yang akan membawa “seluruh kebenaran” (Mat 23:37-39; Yoh 16:12-13). Itulah sebabnya dalam ayat tersebut Nabi Musa a.s. digambarkan ingin “melihat Allah Ta’ala“, padahal maksudnya adalah ingin mengetahui kesempurnaan martabat akhlak dan rohani “rekan sejawat” beliau yakni Nabi Besar Muhammad saw. atau “Nabi yang seperti Musa“, yang akan mendapat kehormatan dari Allah Ta’ala menerima amanat syariat terakhir dan tersempurna yakni agama Islam (Al-Quran), sehingga kedatangan beliau saw. seakan-akan merupakan kedatangan Allah Ta’ala sendiri.

Merujuk kepada kenyataan itulah ketika Nabi Musa a.s. sadar dari pingsannya – setelah menyaksikan kehebatan tajjaliyat (penampakan Keagungan) Allah Ta’ala ke atas gunung sehingga hancur-lebur maka Nabi Musa a.s. bukan saja langsung memohon ampun kepada Allah Ta’ala atas permintaan beliau yang beliau anggap “kurang layak” tersebut, dan bahkan beliau pun menyatakan sebagai orang yang pertama beriman di masa itu kepada kesempurnaan martabat Nabi Besar Muhammad saw. yang ke atas pundak beliau saw. Allah Ta’ala telah meletakkan “amanat syariat” terakhir dan tersempurna (Qs.5:4).

Keterangan lainnya dari Al-Quran tentang “ketidak-sanggupan” Nabi Musa a.s. seandainya ajaran Islam (Al-Quran) diturunkan kepada beliau dikemukakan dalam surah Al-Kahf ayat 61 – 83, dimana Nabi Musa a.s. tidak sanggup bersabar melihat berbagai tindakan aneh yang dilakukan oleh seorang “hamba Allah” yang dicari-carinya bersama dengan “teman muda beliau a.s.”

Jadi, kembali kepada peristiwa pernikahan yang sangat rawan fitnah antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan janda anak angkat beliau saw., bahwa dalam peristiwa perceraian antara Hadhrat Zaid bin Haritsah r.a. dengan Hadhrat Zainab ra. tersebut yang paling “dirugikan” serta “yang paling terluka” hati dan perasaannya adalah Siti Zainab r.a., karena beliau adalah pihak yang diceraikan, bukan pihak yang meminta cerai. Terlebih lagi kedudukan Siti Zainab r.a. dalam status sosial lebih tinggi dari status sosial mantan suaminya (Zaid bin Haristsah r.a.), karena beliau seorang bangsawati Arabia dan juga termasuk keluarga (famili) Nabi Besar Muhammad saw..

Ganjaran Besar Allah Ta’ala Untuk Orang-orang Yang Telah Menyambut Seruan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya

Namun kegagalan rumahtangga (pernikahan) Zaid bin Haritsah r.a. dengan Siti Zainab ra. serta pengorbanan perasaan kedua orang hamba Allah Ta’ala tersebut tidak dibiarkan sia-sia oleh Allah Ta’ala, sebab kenyataan membuktikan bahwa kehormatan Siti Zainab r.a. telah diangkat oleh Allah Ta’ala ke kedudukan yang sangat mulia yaitu sebagai salah seorang dari Ummahatul-Muminiin (ibu-ibu orang-orang beriman). Yakni atas perintah Allah Ta’ala Nabi besar Muhammad saw. telah menikahi Siti Zainab r.a.. (Qs.33:37-38) .

Demikian pula halnya dengan Zaid bin Haritsah r.a., sejarah membuktikan bahwa beliau pun mendapat berbagai kehormatan luar biasa dari Allah Ta’ala dan dari Nabi Besar Muhammad saw., di antaranya adalah putranya yakni Usama bin Zaid r.a. bukan saja menjadi sahabat “kesayangan” Nabi Besar Muhammad saw., beliau pun telah memperoleh kedudukan tertinggi dalam balatentara Muslim, yaitu pernah diangkat sebagai Panglima Perang.

Kehormatan khusus lainnya yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada Zaid bin Haritsah r.a. — yang tidak setiap orang beriman memperolehnya — adalah Allah Ta’ala telah mencantumkannya nama Zaid dalam Al-Quran, firman-Nya:

فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“Maka tatkala Zaid menyempurnakan kehendaknya terhadap dia, Kami menikahkan dia dengan engkau, supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang mukmin dalam hal menikahi bekas istri-isteri anak- angkat mereka, apabila mereka telah menyempurnakan kehendak mereka mengenai mereka. Dan keputusan Allah pasti akan terlaksana.” (Al Ahzab, 38).

Merujuk kepada kenyataan itulah maka dalam ayat sebelumnya Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa bukan hanya Allah Ta’ala saja yang telah menganugerahkan nikmat kepada Zaid bin Haritsah r.a. tetapi juga Nabi Besar Muhammad saw. pun telah menganugerahkan nikmat besar pula kepada beliau, firman-Nya:

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“Dan ingatlah, ketika engkau berkata kepada orang yang Allah telah memberi nikmat dan engkau pun telah memberi nikmat kepadanya, Tahanlah isteri engkau pada diri engkau sendiri dan bertakwalah kepada Allah,” dan engkau menyembunyikan dalam hati engkau apa yang Allah hendak menampakkannya, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak agar engkau hendaknya takut kepada-Nya. Maka tatkala Zaid menyempurnakan kehendaknya terhadap dia, Kami menikahkan dia dengan engkau, supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang mukmin dalam hal menikahi bekas istri -isteri anak- angkat mereka, apabila mereka telah menyempurnakan kehendak mereka mengenai mereka. Dan keputusan Allah pasti akan terlaksana” (Al Ahzab, 38).

Cedera-cedera Dalam Melaksanakan Perintah Allah Ta’ala

Pendek kata, cedera-cedera apa pun antara berupa kekecewaan serta kesedihan yang harus dialami oleh orang-orang beriman — baik itu cedera-cedera secara fisik — akibat dianiaya oleh orang-orang akfir atau akibat melakukan pertempuran dengan orang-orang kafir maupun berupa cedera-cedera secara ruhani, contohnya mengalami kegagalan dalam pernikahan (berumahtangga) , padahal telah dilaksanakan sesuai dengan seruan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, seperti contohnya yang dialami oleh Zaid bin Haritsah r.a. dan Siti Zainab r.a. .

Hendaknya “mengalami luka-luka (cedera) jalan Allah Ta’ala seperti itu jangan sampai menjadi “batu sandungan” (penghalang) untuk kembali menyambut seruan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya (Qs.8:25-26) . Hendaklah orang-orang beriman senantiasa bersangka baik dan berpengharapan baik terhadap seruan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, firman-Nya:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ()وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Dan betapa banyaknya Nabi-nabi telah berperang disertai oleh sejumlah besar murid-muridnya, maka mereka tidak merasa lesu disebabkan kesusahan yang menimpa mereka di jalan Allah, dan mereka tidak lemah dan tidak pula merendahkan diri dihadapan musuh dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Tiada ucapan mereka selain ucapan, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa yakni kekurangan kami dan kelebih-lebihan kami dalam urusan kami, dan teguhkanlah langkah-langkah kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir. Karena itu Allah memberi mereka pahala duniawi dan sebaik-baik pahala akhirat, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran, 147-149).

Firman-Nya lagi :

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan janganlah kamu menjadi kendur dalam mencari kaum yang tidak bersahabat itu. Jika kamu menderita, maka sesungguhnya mereka pun menderita seperti kamu menderita, sedangkan kamu mengharapkan dari Allah apa yang tidak diharapkan oleh mereka. Dan Allah itu Maha Mengetahui Maha Bijaksana.” (An Nis a, 105).

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman mengenai pentingnya bagi orang-orang yang beriman mengalami “luka-luka” berjuang di jalan Allah Ta’ala:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ()إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ()وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ()أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ() وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ()وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ()وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ() وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ()وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ()فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu lesu dan jangan pula bersedih dan kamu pasti unggul, jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu mendapat luka maka sesungguhnya kaum kafir itu pun mendapat luka seperti itu. Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia supaya mereka mendapat nasihat, dan supaya Allah menzahirkan orang-orang yang beriman, dan Dia mengambil saksi-saksi dari antara kamu. Dan Allah tidak mencintai orang-orang aniaya, dan supaya Allah mensucikan orang-orang yang beriman, dan membinasakan orang-orang kafir. Adakah kamu menyangka bahwa kamu akan masuk surga padahal Allah belum menzahirkan siapa-siapa yang berjihad di antara kamu dan belum menzahirkan orang-orang yang sabar? Dan sesungguhnya kamu pernah menginginkan maut (mati syahid) sebelum kamu menemuinya, maka sesungguhnya kamu sekarang telah melihatnya dan sedang kamu menyaksikannya. Dan Muhammad tidak lain kecuali seorang Rasul. Sesungguhnya telah berlalu Rasul-rasul sebelumnya. Jadi jika ia mati atau terbunuh, akan berpalingkah kamu atas tumit kamu? Dan barangsiapa berpaling atas tumitnya maka ia tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun. Dan Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur. Dan tiada jiwa akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai keputusan yang ditetapkan waktunya. Dan barangsiapa menghendaki ganjaran dunia, akan Kami beri dia darinya, dan barangsiapa menghendaki ganjaran akhirat akan Kami beri dia darinya, dan niscaya Kami akan memberi imbalan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan betapa banyaknya nabi telah berperang bersama sejumlah besar pengikutnya, maka mereka tidak merasa lesu disebabkan kesusahan yang menimpa mereka dan tidak pula mereka merendahkan diri di hadapan musuh. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Dan tiada ucapan mereka selain mereka berkata, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan keberlebih-lebihan perbuatan kami dalam urusan kami, dan teguhkanlah langkah-langkah kami dan tolonglah kami terhadap kaum kafir“. Maka Allah memberi mereka ganjaran dunia dan sebaik-baik ganjaran akhirat, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)” (Ali ‘Imran, 140-149).

Khabar Suka Dari Akhirat

Lebih jauh Allah Ta’ala menerangkan dalan Al-Quran bahwa orang yang mengalami berbagai macam cedera (luka) mau pun yang terbunuh di jalan-Nya — dalam rangka melaksanakan seruan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya pengorbanan mereka itu tidak akan disia-siakan oleh Allah Ta’ala, baik itu dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat nanti, firman-Nya:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ()فَرِحِينَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ()يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ()الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ() الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ()فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ()إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan janganlah kamu mengira tentang orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dan mereka diberi rezeki dari-Nya. Mereka bergembira dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih berada di belakang mereka dan belum bergabung dengan mereka, karena tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia-Nya dan sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang mukmin. Yaitu orang-orang yang menyambut seruan Allah dan Rasul sesudah mereka mendapat cedera, dan juga bagi siapa-siapa yang berbuat kebaikan dan bertakwa di antara mereka tersedia ganjaran yang besar. Yaitu orang-orang yang kepada mereka pernah orang berkata untuk menakut-nakuti, “Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan lasykar untuk menyerang kamu, maka takutilah mereka!”, tetapi hal itu malah menambah keimanan mereka dan mereka berkata, “Memadailah Allah bagi kami, dan Dia-lah sebaik-baik Pelindung.” Maka kembalilah mereka dengan nikmat perkasa dan karunia besar dari Allah, malapetaka tidak menyentuh mereka dan mereka mengikuti keridhaan Allah, dan Allah adalah Yang Memiliki karunia besar.” (Ali Imraan, 170-176).

Jadi, yang paling penting dalam menyambut seruan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tersebut bukanlah masalah pahit atau manis akibatnya melainkan yang penting adalah mengikuti keridhaan Allah, sehingga dengan kehendaknya mereka akan termasuk golongan orang-orang yang “mereka ridha kepada Allah dan Allah Ta’ala pun ridha kepada mereka” (Qs.5:120; Qs.9:100; Qs.89:28-31; Qs,98:8-9), sehingga mereka akan termasuk ke dalam Hizbullah (golongan Allah), firman-Nya :

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, adalah termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah Telah menetapkan: “Aku dan Rasul-rasul-Ku amat pasti akan menang“. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuat (lagi) Maha Perkasa. Engkau tidak akan mendapati satu kaum pun yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, namun demikian mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka itu bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. Meraka Itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Allah telah menanamkan keimanan yang benar dan yang Dia telah meneguhkan mereka dengan ruh (ilham) dari Dia sendiri. Dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka akan kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah orang-orang yang berjaya (Al Mujaadilah 21-23)

Pukulan-pukulan Ujian Keimanan

Pendek kata hendaknya orang-orang yang mengaku beriman jangan menyerah oleh “pukulan pertama” dari ujian-ujian keimanan yang pasti akan Allah Ta’ala timpakan kepada mereka melainkan harus siap untuk menghadapi ujian-ujian keimanan lainnya sebagaimana firman-Nya berikut ini:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ()وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ()وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ()الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ()أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat (doa), sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah mengatakan tentang orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka mati, tidak bahkan mereka hidup hanya saja kamu tidak menyadari. Dan niscaya Kami akan beri kamu cobaan dengan sesuatu ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dengan harta-benda dan buah-buahan, tetapi hai Rasul, berilah khabar suka kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah tidak gelisah, bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali“. Mereka Inilah yang dilimpahi berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka pulalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al Baqarah, 155-158).

Sehubungan dengan ujian-ujian keimanan tersebut Allah Ta’ala berfirman dalam beberapa buah hadits Qudsi :

“Pergilah wahai para malaikat-Ku kepada hamba-Ku dan timpakan musibah padanya. Maka para malaikat itu pergilah lalu menimpakan musibah pada hamba Allah itu. Tetapi sang hamba menerimanya dengan memuji Allah“. Setelah kembali para malaikat itu melaporkan, “Ya Tuhan kami, kami telah menimpakan kepadanya musibah sebagaimana yang Engkau perintahkan”. Allah berfirman,Kembalilah sekali lagi, karena Aku ingin mendengar reaksi suara hamba-Ku itu” (Diriwayatkan oleh Thabrani dari Abu Umamah).

Dalam hadits Qudsi lainnya Allah Ta’ala berfirman :

“Barangsiapa yang rela menerima ketetapan hukum-Ku, sabar terhadap cobaan-ku, bersyukur terhadap nikmat-Ku, Aku akan catat sebagai orang shiddiq (benar) dan pada Hari Kiamat akan Aku bangkitkan bersama-sama dengan golongan orang-orang shiddiq (benar). Sebaliknya, barangsiapa yang tidak rela dan tidak sabar menerima cobaan-Ku serta tidak mensyukuri nikmat-Ku, keluarlah dari kolong langit-Ku carilah Tuhan yang lain dari Aku!” (Hidayatul Mursyidin).

Dengan demikian jelaslah bahwa “luka-luka” akibat adanta “pukulan-pukulan” ujian keimanan dari Allah Ta’ala pasti akan dialami orang-orang yang telah mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya – termasuk dalam masalah pernikahan (rumahtangga) . Oleh karena itu hendaknya waspada jangan sampai “suara hati” yang keluar akibat “pukulan” yang menimpa berupa “suara kedurhakaan” terhadap Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala tidak berfirman kepadanya seperti dalam hadits Qudsi di atas:

“…….Sebaliknya, barangsiapa yang tidak rela dan tidak sabar menerima cobaan-Ku serta tidak mensyukuri nikmat-Ku keluarlah dari kolong langit-Ku carilah Tuhan yang lain dari Aku“.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan taufik dan hidayah-Nya kepada umat Islam – terutrama para remaja Muslim — agar senantiasa dapat menyambut serta melaksanakan seruan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, termasuk dalam masalah peraturan pernikahan menurut ajaran Islam (Al-Quran). Amin.

Firman-Nya:

يَابَنِي ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Wahai anak-cucu Adam, janganlah membiarkan syaitan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orangtuamu dari jannah (surga), ia menanggalkan pakaian kedua mereka itu untuk menampakkan kepada kedua mereka itu aurat mereka. Sesungguhnya ia (syaitan) melihat kamuia dan suku bangsanya — dari tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya syaitan itu telah Kami jadikan sahabat bagi orang-orang yang tak beriman” (Al ‘Araaf, 28).

Firman-Nya lagi :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu sekalian ke dalam kepatuhan seutuhnya, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagi kamu.” (Al Baqarah, 209).

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman tentang mereka yang layak menjadi “pewaris” Al-Quran dan kemuliaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw., sehingga mereka pun layak menjadi “pewaris” kehidupan surgawi di dunia ini maupun di akhirat nanti, firman-Nya::

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ()ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ()جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ()وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ() الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ()وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ()وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

Dan apa yang Kami wahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran ini adalah kebenaran, menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hamba- Nya benar-benar Maha Waspada dan Maha Melihat. Kemudian Kami telah mewariskan Kitab Al-Quran ini kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami, maka dari antara mereka sangat aniaya terhadap dirinya sendiri, dan dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah, dan dari antara mereka ada yang mengungguli (mendahului) dalam kebaikan dengan izin Allah. Itu adalah karunia yang sangat besar. Ganjaran mereka ialah kebun-kebun abadi, mereka akan memasukinya, di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera, dan mereka akan berkata, “Segala puji bagi Allah Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami adalah Maha Pengampun, Maha Menghargai, Yang menempatkan kami di Rumah Abadi dari karunia-Nya, tidak menyentuh kami di dalamnya kesulitan dan tidak pula menyentuh kami di dalamnya kelelahan.” Dan orang-orang yang ingkar bagi mereka ada Api Jahannam. Tidak diputuskan atas mereka supaya mereka mati, dan tidak diringankan bagi mereka dari azabnya. Begitulah Kami membalas setiap orang yang tidak bersyukur. Dan mereka akan berteriak minta tolong di dalamnya, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami, kami akan beramal shalih, lain dengan apa yang biasa kami kerjakan.” Allah berfirman, “Bukankah telah Kami beri kamu umur yang cukup panjang supaya orang yang hendak mengambil pelajaran akan memperoleh pelajaran di dalamnya? Dan telah datang kepada kamu seorang Pemberi peringatan. Maka rasakanlah azab ini maka tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang aniaya.” (Al Faathir, 32-36).

ooo0ooo

Rujukan:

The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Januari 31, 2009 - Posted by | AHMADIYAH

2 Komentar »

  1. salam, ada masukan ni boleh ? kalo bisa artikel di home nya pake “Read more..” jadi gak ditampilin seluruh nya dulu, nah setelah di klik read more baru keluar semua artikelnya, maksudnya biar gak terlalu panjang,

    wassalam

    Komentar oleh Iwa | Juni 22, 2009 | Balas

  2. Komentar yg bagus. Artikel bagian atas saja yg penuh. Artikel yg bawah cuma judul dan paragraf pertama, gimana?
    Salam kenal. Numpang lewat. Ditunggu kunjungan ke blog sy.

    admin:
    terimakasih pak dildar atas sarannya

    Komentar oleh dildaar80 | Juni 26, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: