Mkaiserang

KEGIATAN PEMUDA AHMADIYAH

KHUTBAH JUM’AH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْ عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

Is not Allah sufficient for His servant?

Apakah Allah tidak Mencukupi Hamba-Nya?

Summary of Friday Sermon

Intisari Khutbah Jum’at

January 23rd, 2009

Tanggal 23 Januari 2009

Delivered by Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba, the Head of the Ahmadiyya Muslim Community.

Disampaikan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba, Imam Jama’at Muslim Ahmadiyyah

NOTE: Alislam Team (& Tanslater / Penerjemah) takes full responsibility for any errors or miscommunication in this Synopsis of the Friday Sermon

Huzur opened his Friday Sermon today by citing verses 33 to 38 of Surah Al Zumar (Chapter 39) [ (39:33-38) ].

Huzur memulai Khutbah Jum’at-nya dengan menilawatkan Ayat-ayat 33 – 38 dari Surah Az Zumar (Surah 39 Ayat 33-38):

Fa man azhlamu mim man kadzaba ‘alallaahi wa kadzdzaba bish shidqi idz jaa-ahuu a laisa fii jahannama mtswal lil kaafiriin (39:33).

Who, then, is more unjust than he who lies against Allah and he who rejects the truth when it comes to him? Is there not in Hell an abode for the disbelievers?

Maka, siapakah lebih aniaya daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Tidak adakah di dalam Jahannam itu tempat tinggal bagi orang-orang kafir?

Wal ladzii jaa-a bish shidqi wa shaddaqa bihii ulaa-ika humul muttaquun (39:34).

But he who has brought the truth, and he who testifies to it as truth – these it is who are the righteous.

Dan, orang yang telah membawa kebenaran serta membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang muttaqi.

Lahum maa yasyaa-uuna ‘inda rabbihim dzaalika jazaa-ul muhsiniin (39:35).

They will have with their Lord whatever they desire; that is the reward for those who do good.

Bagi mereka akan memperoleh apa yang mereka inginkan di sisi Tuhan mereka. Itulah ganjaran mereka yang berbuat kebaikan.

Li yukaffirallaahu ‘anhum aswa-al ladzii ‘amiluu wa yajziyahum ajrahum bi ahsanil ladzii kaanuu ya’maluun (39:36).

So that Allah will remove from them the evil consequences of what they did, and will give them their reward according to the best of their actions.

Supaya Allah akan menutupi mereka akibat buruk kejahatan yang telah mereka lakukan, dan akan menganugerahi mereka ganjaran mereka sebaik-baik yang mereka amalkan.

A laisallaahu bi kaafin ‘abdahuu wa yukhawifuunaka bil ladziina min duunihii wa may yudhlilillaahu fa maa lahuu min haad (39;37).

Is not Allah sufficient for His servant? And yet they would frighten thee with those besides Him. And he whom Allah leaves in error – for him there is no guide.

Apakah Allah tidak mencukupi bagi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakuti engkau dengan yang selain dari Dia. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada baginya yang akan memberi petunjuk.

Wa may yadillaahu fa maa lahuu mim mudhililin a laisallaahu bi ‘aziizin dzintiqaam (39:38).

And he whom Allah guides – there is none to lead him astray. Is not Allah the Mighty, the Lord of retribution?

Dan, barangsiapa yang Allah memberi petunjuk, tiada seorang pun dapat menyesatkannya. Bukankah Allah itu Maha Perkasa, yang Empunya Pembalasan?

He explained that in these verses Allah has mentioned two types of unjust people; those who lie against Allah by false proclamation of being from Him and those who reject the truth sent by God through His prophets.

Beliau menerangkan bahwa di dalam ayat-ayat ini Allah menyebutkan tentang dua macam orang yang tidak adil; yaitu orang yang berdusta terhadap Allah dengan pendakwaan palsunya yang mengaku-ngaku bahwa dia diutus oleh-Nya, dan meeka yang menolak kebenaran yang dikirimkan oleh Tuhan melalui nabi-nabi-Nya.

Huzur said this subject is also cited in the Qur’an in Surah Ankabut (29:69).

Huzur bersabda bahwa perkara ini pun ada disebutkan dalam Alqur-aan Surah Al ‘Ankabut (29:69).

Wa man azhlamu mim manif taraa ‘alallaahi kadziban au kadzdzaba bil haqqi lammaa jaa-ahuu a laisa fii jahannama matswal lil kaafirrin (29:69).

And who is more unjust than he who invent a lie concerning Allah, or rejects the truth when it comes to him? Is there not an abode in Hell for disbelievers?

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang meng-ada-adakan dusta terhadap Allah, atau yang mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah dalam Jahannam ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir?

The Promised Messiah (on whom be peace) said a slanderer is always ineffective. Allah states that He cuts off and disgraces one who slanders regarding Him therefore how could one who has belief in this invent lies concerning God. In worldly matters the smallest of misdemeanours is punished how can then one who associates falsehood to God be spared? It is written in God’s books that a liar and a slanderer shall be destroyed.

Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) mengatakan bahwa seorang yang suka mencemoohkan itu tidak pernah sukses, Allah menyatakan bahwa Dia akan memotong dan menghinakan orang yang mencemoohkan Dia, oleh karena itu betapa seorang yang sudah percaya dalam kehidupan ini akan berbohong mengenai Tuhan. Dalam urusan duniawi saja untuk kelakuan buruk sekecil apa pun akan mendapat hukuman, jadi bagaimana mungkin ada orang yang berdusta dengan atas nama Tuhan akan dibiarkan begitu saja? Tertulis di dalam Kitab-kitab Tuhan bahwa seorang pendusta dan yang suka mencemoohkan Tuhan itu akan dihancurkan.

The fact that the Holy Qur’an has cited this in different places is a testimony that it is a fundamental principle that a person who forges a lie against Allah will be punished by God as well as one who rejects the truth and is disobedient to a true prophet of God.

Kenyataannya bahwa Kitab Suci Alqur-aan sudah menuliskan di berbagai tempat sebuah testimony ada satu azas pokok bahwa seseorang yang berdusta dan mengada-ada terhadap Allah akan dihukum oleh Tuhan, dan demikian juga orang yang menolak kebenaran dan orang yang tidak mematuhi seorang nabi yang benar dari Tuhan.

Allah commands that when His prophets come with clear signs, people should observe those signs and accept them. Indeed prophethood is accompanied by brilliant Divine signs which enhance with each passing day, therefore, Huzur said those who reject prophethood should come to their senses.

Allah memerintahkan bahwa bilamana Nabi-Nya itu datang dengan Tanda-tanda nyata, maka orang-orang itu harus memperhatikan tanda-tanda tersebut dan menerimanya. Sungguh, kenabian itu ada disertai dengan Tanda-tanda Ilahi yang brilliant, yang terus bertambah nyata pada setiap hari berlalu, oleh karena itu, Huzur bersabda, barangsiapa yang menolak kenabian itu mereka harus menggunakan akal sehat mereka.

Huzur said the accusation of falsehood were levied against the earlier prophets of God, indeed against the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) and today are alleged against the Promised Messiah (a.s.).

Huzur mengatakan tuduhan kebohongan itu ada dilemparkan kepada para nabi-nabi Tuhan yang terdahulu, dan memang juga terhadap Yang Mulia Rasulullah s.a.w. dan yang sekarang ini dituduhkan kepada kepada Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.).

In the verses of Surah Al Zumar preceding the ones cited above Allah declares the teaching of the Qur’an as manifestly clear and comprehensive, therefore leaving no doubt in what is the truth and what must be followed. Allah states that rejection of this will not escape punishment. The aforementioned verses affirm that one who is commissioned by Allah should be accepted and those who accept him will be prosperous and granted righteousness.

Dalam ayat-ayat Surah Az Zumar di atas, Allah menyatakan ajaran Alqur-aan yang sedemikian jelas dan comprehensive-nya, sehingga tidak memperli-hatkan keraguan sedikit pun akan apa yang benar dan yang harus diikuti itu. Allah menyatakan bahwa penolakan terhadap kebenaran itu tidak akan terhidar dari hukuman. Ayat-ayat yang disebut tadi menegaskan bahwa seseorang yang diangkat oleh Allah itu harus diterima, di mana mereka yang menerima utusan-Nya ini akan dikaruniai dengan ketakwaan dan kesejahteraan.

The subject is reiterated in verse 62 of Surah Ta Ha (20:62) and verse 18 of Surah Yunus (10:18) and makes it clear yet again that it is these are the two types of people who cannot escape Divine punishment

Perkara ini di-ulangi kembali dalam ayat 62 dari Surah Ta Ha (20:62) dan ayat 18 dalam Surah Yunus (10:18) yang membuat lebih jelas lagi bahwa itulah ada dua macam orang-orang yang tidak akan dapat terhindar dari hukuman Tuhan itu.

Qalaa lahum muusaa wailakum laa taftaruu ‘alallaahi kadziban fa yus-hitakum bi ‘adzaabiw wa qad khaaba manif taraa (20:62).

Moses said to them, “Woe to you, forge not a lie against Allah, lest He destroy you utterly by some punishment and, surely, he who forges a lie shall perish.”

Musa berkata kepada mereka, “Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan dusta terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan azab; dan sesungguhnya telah gagal-lah orang yang mengada-ada.”

Fa man azhlamu mim manif taraa ‘alallaahi kadziban au kadzdzaba bi aayaatihii innahuu laa yuflihul mujrimuun (10:18)

Who is then more unjust than he who forges a lie against Allah or he who treats His Signs as lies? Surely, the guilty shall never prosper.

Maka siapakah yang lebih aniaya dari orang yang mengada-ada dusta terhadap Allah atau yang mendustakan Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya tidaklah akan berjaya orang-orang yang berdosa.

Huzur said this is food for thought those who do not accept the Promised Messiah (on whom be peace). Allah has granted the Muslims a most comprehensive Book the safeguard of which He has taken upon Himself, which is present today in its original, unaltered text. Allah has made it extremely clear in the Qur’an that it is not a collection of fables and has warned to take heed from the earlier people. Indeed there will be false claimants from God but they will not be successful and this will manifest in failure of dissemination of their teaching.

Huzur mengatakan bahwa inilah umpan bagi pikiran orang-orang yang tidak mau menerima Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.). Allah Taala telah menganugerahkan kepada orang-orang Muslimin sebuah Kitab yang sangat lengkap comprehensive, buku yang Dia jaga dan Dia lidungi Sendiri, yang sampai saat ini pun tetap orisinil, dengan teksnya yang tidak berubah. Allah telah membuatnya dengan amat-sangat jelas di dalam Alqur-aan ini bahwa Kitab ini bukanlah hanya merupakan koleksi dari dongengan-dongengan dan yang hanya memberi peringatan kepada orang-orang di zaman dahulu belaka. Memang pernah ada pendakwa-pendakwa palsu yang mengatas-namakan dari Tuhan, tetapi para pendusta ini tidak pernah sukses dan akan gagal dalam menyebarkan ajarannya.

One who comes from God has a spiritual objective, either bringing in a new religious law (Shariah) or reviving the old teaching so that those who are lost may be brought closer to God. These are the basic points of reference of those who come from God.

Seseorang yang benar-benar datang dari Tuhan itu memiliki satu tujuan spiritual, apakah dengan membawa sebuah Undang-undang Syariat yang baru atau untuk menghidupkan kembali ajaran lama sehingga orang-orang yang sudah tersesat itu akan dibawa dekat kembali kepada Tuhan. Inilah dasar perbedaan pokok dari orang-orang yang datangnya dari Tuhan itu.

In this age the Promised Messiah (on whom be peace) is – God forbid – accused of being false. One can clearly observe that he has made no change to the [Islamic] Shariah. It is evident from his writings that there is not the slightest alteration about Salat or any other pillar of Islam or any variation from the authentic Sunnah of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him). The fact is that he has presented the beauty of Islam in an enhanced manner and without doubt his advent took place in accordance with the prophecies of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him).

Pada zaman ini, Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dituduh – Na’udzubillah min dzalik – sebagai seorang pendusta. Orang itu dapat melihatnya dengan sangat jelas bahwa beliau itu sama sekali tidak membuat sesuatu perubahan apa pun terhadap Syariat Islam. Ini dibuktikan dari tulisan-tulisan beliau bahwa tidak ada sedikit pun perubahan tentang Shalat atau pada rukun Islam lainnya atau membuat sesuatu perubahan terhadap ke-otentikan Sunnah dari Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Kenyataannya adalah bahwa beliau itu telah menyajikan keindahan Islam dengan cara yang maju dan dengan tanpa diragukan lagi kedatangannya beliau itu adalah sesuai dengan nubuatan dari Yang Mulia Rasulullah s.a.w.

Huzur remarked, is the Community of the Promised Messiah (on whom be peace) on the increase, or is it standing still or is it diminishing? Indeed groups upon groups of people are joining it, where as there is dissension and sectarian conflict among those Muslims who accuse and culminate us. They have introduced harmful innovations in religion. Huzur said for example in the Indian sub-continent offerings are made at tombs and wishes and desires are sought from Pirs, some of whom do not even observe the Salat. Was this practice observed in the times of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him)?

Huzur mengingatkan, apakah Jama’atnya dari Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) itu meningkat maju, atau tetap diam begitu saja ataukah menghilang? Yang benar adalah kelompok demi kelompok banyak orang itu masuk dan ikut dalam Jama’at ini, di mana terdapat perselisihan dan konflik antar sekte di antara orang-orang Muslimin yang menuduh kami dan yang membuat kami maju. Mereka ini membuat bid’ah-bid’ah baru yang merugikan pada agama. Huzur mengatakan, sebagai contohnya di Hindustan, mereka membuat suguhan pada kuburan-kuburan dan menyampaikan keinginannya kepada Pir-pir atau dukun-dukun, yang beberapa di antaranya bahkan tidak mengerjakan Shalat. Apakah praktek yang begini ada di zamannya Yang Mulia Rasulullah s.a.w.?

Huzur said Baha’ullah was a claimant to a prophetic fulfilment. The soundness of this is clear from the fact that his claim does not have Divine support and succour. There was no clear manifest sign from him, in fact he cancelled the Islamic Shariah about which Allah has decreed that it shall continue till the end of time. At one time Baha’ullah had quite a good following. However, his popularity was nothing compared to the Quranic Shariah. Now his following is sparse and the Holy Qur’an, which is being maligned through a calculated conspiracy, continues to propagate. The Ahmadiyya Community is making headway in propagating its teachings.

Huzur mengatakan Baha’ullah membuat pernyataan sebagai pemenuhan dari suatu nubuatan. Kebenaran dari pendakwaannya tersebut adalah jelas dari kenyataannya bahwa pendakwaannya itu tidak mendapatkan dukungan dan pertolongan Ilahi. Tidak didapatkan bukti tanda yang jelas dari mereka ini, yang pada kenyataannya ia itu meng-hapuskan Syari’at Islam, yang tentang ini Allah telah menakdirkan bahwa Syari’at ini akan terus berlaku sampai pada Hari Kiamat. Memang pada satu saat golongan Baha’ullah ini mempunyai banyak pengikutnya. Namun popularitasnya itu tidak ada artinya dibandingkan dengan Syari’at Alqur-aan. Sekarang, pengikutnya itu sudah tidak banyak lagi dan Kitab Suci Alqur-aan, yang di-pencundangi melalui persekongkolan-jahat mereka yang secara terkalkulasikan itu, terus menerus menyebar luas. Jama’at Ahmadiyyah-lah yang membuat maju pesat penyebaran ajarannya itu.

Success is not to accumulate worldly wealth or a large following, rather, true success is the propagation of Allah’s teachings. This is what supports and corroborates the veracity of the claim of the Promised Messiah (on whom be peace). Those who continually demean the Ahmadis should have some sense and make their decision based on the standards established by God.

Kesuksesan ini bukannya diukur dengan mengumpulkan harta kekayaan duniawi atau dengan jumlah pengikutnya yang banyak, tetapi sukses yang hakiki ialah dalam penyebaran dari ajaran Allah ini. Inilah yang mendukung dan menguatkan ketelitian dan kebenaran dari pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud (a,s,) itu. Mereka yang terus-menerus berusaha merendahkan orang-orang Ahmadi seharusnya mereka itu menggunakan akal sehatnya untuk membuat keputusan dengan menggunakan standard yang dibuat oleh Tuhan.

Huzur said one who is commissioned by God is truthful in the message he brings and indeed in his word. The message he brings is from Allah and is laden with Divine support and corroboration.

Huzur mengatakan seseorang yang di-angkat oleh Tuhan itu adalah selalu jujur dan berkata yang sebenarnya dalam penyampaian amanat itu. Amanat yang disampaikan dari Allah itu penuh sarat dengan penguatan dan dukungan dari Ilahi.

In the cited verses of Surah Al Zumar (39:34-35) Allah states that those who abide by taqwa (righteousness) will have whatever they desire from God. They shall have inner peace and contentment. It does not mean that they would always wish for and have finite things of this world. By mentioning taqwa at the outset in the verse it has been made clear that these people seek Allah’s pleasure alone.

Dalam ayat Surah Az Zumar (39:34-35) yang dibaca tadi Allah menyatakan bahwa mereka orang-orang yang muttaqi, yang ber-taqwa itu akan memperoleh apa yang mereka inginkan dari Tuhan. Mereka akan memiliki kedamaian dan kepuasan di dalam hatinya. Ini tidak berarti bahwa mereka itu akan menginginkan perkara yang terbatas di dunia. Dengan menyebut taqwa itu, pada permulaannya dalam ayat tadi sudah dibuat jelas bahwa orang-orang ini hanyalah mencari ridha Allah semata.

The next verse (39:36) further unfolds that because of these people accepting one who is from Allah, because of righteousness and because of doing good works Allah shall remove the bad consequences of their human frailties. Mistakes and sins are requited in equal measure but piety is rewarded ten-fold by Allah. The reward of good works makes sin distant.

Ayat berikutnya (39:36) selanjutnya mengungkapkan bahwa karena orang-orang ini sudah menerima orang yang datang dari Allah, dikarenakan ketakwaannya dan perbuatan amal shalehnya, maka Allah akan menghilangkan akibat buruk dari kelemahan-kelemahan manusiawi mereka. Kesalahan-kesalahan dan dosa akan dibalas dengan ukuran yang sama, tetapi amal shaleh akan diberi ganjaran dengan sepuluh kali lipat oleh Allah. Ganjaran atas perbuatan amal shaleh ini akan menjauhkan dirinya dari dosa.

Huzur said finding inner peace and developing in piety after accepting one who is sent by God is also a sign and benchmark of the truthfulness of the person. In this age the Ahmadis are a testament of this as indeed are the newcomers joining the Community. The verse 39:37 further reassures in the declaration that Allah is sufficient for His servant no matter how many accusations are levied by the slanderers. Here Allah has made it very clear to those who reject and accuse Allah’s people that they cannot harm them in any way and that Allah helps them every step of the way.

Huzur mengatakan dengan mendapatkan kedamaian di dalam hati dan menciptakan ke-shalehan setelahnya menerima orang yang dikirim oleh Tuhan itu, ini adalah merupakan tanda dan ukuran akan kebenaran dari orang yang dimaksud. Di zaman ini orang-orang Ahmadi adalah sebuah testament untuk ini karena benar-benar banyaknya pendatang baru yang ikut masuk ke dalam Jama’at. Ayat 39:37 selanjutnya meyakinkan di dalam deklarasinya bahwa Allah itu mencukupi bagi hamba-Nya, tidak jadi masalah dengan banyaknya tuduhan palsu yang dilemparkan oleh para pencemooh itu. Di sini Allah telah membuatnya jelas bagi mereka yang menolaknya dan menuduh orang dari Allah ini, bahwa mereka itu, bagaimana pun juga tidak dapat mengganggunya bahwa Allah selalu menolong orang ini pada setiap langkahnya.

Huzur said we witness that to this day opponents make extremely cheap attacks on the Holy Qur’an and the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) but they cannot damage Islam. A large number of Muslims endeavour to implement the Shariah in its original form. Huzur said this is a proof that the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) was from God and his Shariah is alive and shall stay alive and human attempts were not able to damage it before and will not be able to damage it now or in the future.

Huzur mengatakan kami menyaksikannya bahwa sampai hari ini pun pihak lawan itu melakukan serangan yang sangat murahan terhadap Kitab Suci Alqur-aan dan Yang Mulia Rasulullah s.a.w., tetapi mereka itu tidak dapat merusak Islam. Banyak orang-orang Muslimin berusasha keras untuk melaksanakan Shariat dalam bentuknya yang asli. Huzur mengatakan ini adalah bukti bahwa Yang Mulia Rasulullah s.a.w. itu adalah dari Tuhan dan Syariat beliau itu hidup dan akan tetap hidup di mana usaha manusia itu tidak akan dapat merusaknya sebelum ini, dan tidak akan dapat merusaknya sekarang pun atau pun nanti juga..

In this age Allah sent a true and ardent devotee of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) to refute the enemy with a renewed vigour and dynamism. If only the Muslims would understand this.

Di zaman ini Allah telah mengirim seorang pengikut sejati dari Yang Mulia Rasulullah s.a.w. yang rajin bekerja untuk mengalahkan musuh Islam dengan sebuah kekuatan dan dinamika yang diperbaharui. Mudah-mudahan orang-orang Muslim akan dapat mengerti akan hal ini.

Huzur said it should be clear that in verse 39:37 where Allah states that He is sufficient for His servant the use of the word ‘abd’ (servant) connotes the true servants of Allah who are perfectly obedient to Him, who proclaim to be ‘helpers of Allah’ (AnsarUllah), who worship Him, who glorify Him, who have a great sense of honour for Him and who love Him most dearly. The finest and most excellent model of this was the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) to whom Allah demonstrated His attribute of being sufficient to an astounding degree at various times of His life. Allah states that only he is guided whom Allah grants guidance.

Huzur mengatakan sudah jelas bahwa di dalam ayat 39:37 itu, di mana Allah menyatakan bahwa Dia itu cukup bagi hamba-Nya, di mana penggunaan kata ‘abd’ atau hamba itu mempunyai konotasi sebagai hamba Allah yang sejati, yang benar-benar taat patu sepenuhnya kepada-Nya, yang menyatakan sebagai “penolong Allah’ (atau Ansarullah), yang mengabdi dan beribadah kepada-Nya, yang meng-Agungkan-Nya, yang memiliki rasa hormat yang tinggi untuk-Nya dan yang amat sangat mencintai-Nya. Contoh yang paling istimewa untuk ini adalah Yang Mulia Rasulullah s.a.w. yang Allah memperlihatkan sifat-Nya secara cukup dalam derajat yang menakjubkan pada berbagai waktu selama kehidupannya. Allah Taala menyatakan bahwa hanyalah ia yang mendapatkan petunjuk itu, orang yang telah Allah beri bimbingan petunjuk.

Huzur said one should turn to Allah for guidance, for enhancement of belief and to stay firm once one is guided. Those who are guided demonstrate themselves as true servants of God and fully realise that therein lies their salvation and are fully cognisant that true triumph is only with Islam and Allah avenges those who are hostile. Allah’s retribution is in the form of punishment. In order to demonstrate the truthfulness of those who are from Allah He not only proves their veracity He also saves them from all the attacks of the opponents.

Huzur mengatakan orang itu harus minta kepada Allah untuk petunjuk, untuk peningkatan keimanannya dan untuk tetap teguh satu kali orang itu sudah mendapat petunjuk. Orang yang sudah memperoleh petunjuk itu memperlihatkan dirinya sebagai hamba Tuhan yang sejati dan menyadari sepenuhnya bahwa di sanalah letaknya keselamatan mereka dan menyadari sepenuhnya bahwa kejayaan hakiki itu hanyalah dengan Islam di mana Allah Taala itu membalas mereka yang memusuhinya. Pembalasan dari Allah itu adalah dalam bentuk hukuman azab. Agar memperlihatkan kebenaran orang yang dari Allah itu, Dia tidak hanya membuktikan kejujuran mereka, Dia juga menye-lamatkan mereka dari semua serangan musuh.

The beloved of Allah and those who believe in them are included in:

Yang mencintai Allah dan mereka yang percaya kepada mereka ada termasuk di dalam:

Fad khulli fii ‘ibaadii (Al Fajr, 89:30)

‘So enter thou among My chosen servants’ (89:30).

‘Maka masuklah dalam hamba-hamba-Ku’ (89:30).

Indeed the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) was the biggest recipient of this grace. Because of him Allah also became sufficient for the slaves/servants of the Prophet (peace and blessings of Allah be on him). From among his slaves/servants the most excellent one is the Promised Messiah (on whom be peace) to whom Allah revealed the Quranic verse of A laisallaahu bi kaafin ‘abdahuu” Is not Allah sufficient for His servant?’ (39:37) many times.

Memang, Yang Mulia Rasulullah s.a.w. adalah penerima terbesar dari rahmat ini. Karena beliau inilah maka Allah juga menjadi cukup bagi hambanya dari Nabi s.a.w. Yang paling teristimewa diantara hambanya itu adalah Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) yang kepadanya Allah memwahyukan ayat Alqur-aan A laisallaahu bi kaafin ‘abdahuu”, ‘Apakah Allah tidak mencukupi bagi hamba-Nya?(39:37) banyak-banyak kali.

The first time it was revealed to him was just before his father’s passing away and was a demonstration of Allah’s love. Allah indeed made the Promised Messiah (on whom be peace) free from all kind of financial concerns and a whole world was fed by his hand, indeed is still being fed by his hand. This revelation was repeated many times and saved the Promised Messiah (on whom be peace) from the attacks and conspiracies of the enemy and Allah indeed proved sufficient for him just as He had been sufficient for his master the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him).

Pertama kalinya diwahyukan kepada beliau adalah pada saat menjelang wafatnya ayah beliau dan merupakan sebuah penampakan dari kecintaan Allah kepadanya. Memang Allah telah membuat Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) terbebas dari kesulitan keuangan di mana seluruh dunia telah diberi makan melalui tangannya, dan memang benar-benar masih diberi makan melalui tangannya. Wahyu ini berulang kali diulangi dan telah menyelamatkan Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dari serangan dan persekongkolan jahat pihak musuh dan memang Allah telah membuktikan cukup bagi beliau sebagaimana Dia telah mencukupi juragan-nya yaitu Yang Mulia Rasulullah s.a.w.

Allah commanded the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) to state:

Allah memerintahkan kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. untuk menyatakan:

“Qul in kuntum tuhibbuunallaaha fat tabi’uuni yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum wallaahu ghafuurur rahiim”

‘Say, ‘If you love Allah, follow me: then will Allah love you and forgive your faults…’ (3:32).

Katakanlah, “Jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu ..…’ (3:32).

Huzur said the Promised Messiah (on whom be peace) set the most excellent standard in following him and it was due to his perfect obedience to the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) that Allah loved the Promised Messiah (on whom be peace) and revealed Quranic verses to him and always disgraced his enemy.

Huzur mengatakan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah contoh standard yang teristimewa untuk mengikutinya dan ini adalah karena ketaatan beliau yang sempurna kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w. sehingga Allah itu mencintai Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan mewahyukan ayat Alqur-aan ini kepada beliau di mana Allah Taala senantiasa menghinakan musuh beliau.

Huzur said to this day the opponents do not accept the Promised Messiah (on whom be peace) and try to achieve their objectives. This did not come to pass before nor shall it ever. Indeed, we witness proofs of his truthfulness each day. These are demonstration of Allah being sufficient at every time and they enhance our faith. Each Ahmadi should reflect on this and try and develop in belief, not simply give it cursory attention. In true compliance of the true and ardent devotee of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) we will be included in those for whom Allah becomes sufficient.

Huzur mengatakan dewasa ini, pihak lawan itu tidak mau menerima Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dan berusaha untuk mencapai tujuannya. Hal ini tidak pernah berhasil di waktu yang lampau dan juga tidak, sampai kapan pun juga. Benar, kami menyaksikan bukti dari kebenaran beliau itu pada tiap hari ini. Ini merupakan penampakan bahwa Allah itu mencukupi pada tiap saat dan mereka itu menambah tinggi keimanan kami. Setiap orang Ahmadi itu haruslah merenungkan hal ini dan untuk berusaha mengembangkan keimanannya, dan tidak hanya merupakan perhatian yang sepintas lalu saja. Dengan menjadi pengabdi sejati Rasulullah s.a.w. yang rajin bekerja maka kami itu akan termasuk pada mereka yang Allah itu cukup baginya.

The opponents may try and make all their effort, Allah is sufficient now as He was before and InshaAllah will be in the future. The religious leaders and the educated classes of Pakistan continue to try and damage us. A while ago a court case was registered against an Ahmadi in Pakistan with a charge that he had torn up a poster that had been put up by a maulwi. There is no truth in this.

Para penentang itu bolehlah berusaha dan menggunakan segala cara, bagi kami Allah mencukupi sekarang sebagaimana sebelumnya dan Insya Allah di masa depan juga. Para ulama dan golongan cendekiawan di Pakistan terus-menerus berusaha untuk mengganggu kami. Beberapa waktu yang lalu sebuah perkara diajukan ke pengadilan terhadap seorang Ahmadi di Pakistan dengan tuduhan bahwa ia telah merobek sebuah poster yang ditempelkan oleh seorang maulwi. Ini tidak benar.

We display patience and fortitude even when verbally abused, this is what the Promised Messiah (on whom be peace) has taught us. We have never attempted retaliation. Allah alone seizes those who harass the Community of the Promised Messiah (on whom be peace). The court case was taken all the way to the high court where a judge passed an astonishingly excessive verdict. Huzur said if this judge considers the maulwis of today holy, then we have nothing to say. These people serve those in power; such is the judiciary of Pakistan for some time now. We have no hope from them we only turn to Allah, He alone is sufficient.

Kami itu telah memperlihatkan kesabaran dan ketabahan dengan adanya cemoohan hinaan itu, karena inilah yang diajarkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) kepada kami. Kami itu tidak pernah berusaha untuk membalas keburukan. Allah sajalah yang akan mencengkeram mereka yang mencoba mengusik Jama’atnya Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) ini. Sidang di pengadilan telah dibawa sampai pada tingkat pengadilan yang tertinggi, di mana hakim itu telah mengambil keputusannya yang sungguh sangat mengherankan. Huzur mengatakan sepertinya hakim itu menganggap para maulwis sekarang ini sebagai orang suci, makanya kita itu tidak dapat ngomong apa-apa lagi. Orang-orang ini hanyalah mengabdi kepada mereka yang sedang berkuasa, seperti para hakim pengadilan di Pakistan sekarang ini. Kami itu tidak bisa mengharapkan apa-apa dari mereka ini, sehingga hanya kepada Allah-lah kami itu menggan-tungkan diri, Cukup-lah Allah bagi kami.

Addressing the people of Pakistan Huzur said they should have some sense and not invite Allah’s wrath the signs of which are on the horizon. The only way out of this is to beg forgiveness of Allah. Our hearts are brimful of a surging sea of love for the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) which the others could never even come close. Huzur called on the masses of Pakistan and told them not to follow the so-called religious leaders but to come in the refuge of Allah.

Dalam amanatnya kepada orang-orang Pakistan Huzur mengatakan bahwa mereka itu harus mau menggunakan akal sehatnya dan jangan sampai mengundang azab dari Allah yang tanda-tandanya sudah menampak di ufuk. Satu-satunya cara untuk ini adalah dengan memohon ampunan dari Allah. Hati kami sangat penuh dengan gejolak lautan kecintaan kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w., di mana yang orang-orang lainnya bahkan tidak pernah sedekat itu. Huzur menyerukan kepada orang banyak di Pakistan dan mengatakan kepada mereka supaya tidak ikut-ikutan dengan apa yang dikatakan ulama-mullah itu, tetapi supaya datanglah untuk mencari perlindungan kepada Allah Maha Kuasa.

Huzur said these religious leaders continue to incite people against us and this results in martyrdoms. These terrible acts are in accordance to the law of the country where today no law is working.

Huzur mengatakan bahwa ulama-mullah ini terus-menerus menghasut orang-orang untuk menentang kita yang mengakibatkan jatuhnya syuhada-syuhada. Tindakan mereka yang brutal itu adalah sesuai dengan undang-undang negeri ini, di mana dewasa ini tidak ada hukum yang berjalan.

Next Huzur gave the news of the martyrdom of Saeed Ahmad sahib in Sindh Pakistan who was shot dead as he entered his house. Huzur said he was a sincere and simple person who was ever busy in serving others. He was a hard working, hospitable, patient and forbearing person who had no enemy. He leaves behind two daughters and two sons. May Allah elevate his status in Paradise.

Kemudian Huzur menyampaikan berita tentang di-syahidkannya Saeed Ahmad sahib di Sindh Pakistan yang ditembak sampai meninggal pada saat beliau akan masuk ke rumahnya. Huzur mengatakan beliau adalah seorang yang tulus, sederhana dan yang selalu sibuk berbakti kepada orang lain. Beliau adalah seorang pekerja keras, ramah, penyabar dan tidak punya musuh. Beliau meninggalkan dua orang puteri dan dua anak laki-laki. Semoga Allah Taala meninggikan tempat baginya di Syurga.

Huzur also gave the news of the death of Rana Muhammad Jan Advocate, who had served as the Ameer of Bhawalnagar, Pakistan. He served the Community for more than forty years and was a most sincere and pious person with strong connection with Khilafat. Huzur said he used to come regularly to the UK Jalsa but could not for the past two years and would write anxiously to Huzur about this. Huzur prayed that may Allah make his offspring follow in their father’s footsteps. Huzur said he would lead the funeral prayers in absentia of both the deceased.

Huzur juga menyampaikan berita mengenai telah meninggalnya Advocate Rana Muhammad Jan, yang bekerja sebagai Amir Bhawalnagar, Pakistan. Beliau telah bekerja pada Jama’at selama lebih dari 40 tahun dan sebagai seorang yang amat shaleh dan mukhlis serta memiliki hubungan kuat dengan Khilafat. Huzur mengatakan beliau biasa datang secara rutin ke Jalsah Inggris tetapi tidak bisa datang pada dua tahun terakhir di mana beliau menulis surat kepada Huzur mengenai keinginannya itu. Huzur mendoakan semoga Allah Taala membuat keturunannya mengikuti jejak ayahnya itu. Huzur mengatakan beliau akan mengimami Shalat jenazah ghaib bagi kedua almarhum.

PPSi /Mersela, 25-1-2009

link download

Januari 31, 2009 - Posted by | KHUTBAH JUM’AH

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: